DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Menghakimi


Lyn membelalak, lalu melompat dan bersembunyi di balik badan gagah Luth. Kepala menunduk sambil merapal doa. Semoga ada keajaiban yang akan mengubah keadaan.


Eh, kok malah ngumpet? Itu tidak akan menyelesaikan masalahnya, justru akan menambah kemurkaan Amina. Benar saja, mata Amina yang melotot sudah hampir meloncat keluar. Urat di wajahnya mencuat keluar semua. Untung saja tidak ada sapu lidi di tangannya.


"Luth, lancang sekali kau mencium putriku? Kau kira kau ini siapa? Aku ijinkan kau berteman dekat dengan putriku hanya sebatas teman saja, bukan lebih. Tapi kau malah memanfaatkan keadaan," hardik Amina dengan suara keras melengking bak petir di siang bolong.


Luth tampak tetap tenang, berdiri di posisinya dengan tatapan datar. "Maaf, Lyn bukan anak kecil lagi, yang harus memilih sesuatu berdasarkan pilihan orang tuanya."


"Beraninya kau menjawabku. Kau sama sekali tidak pantas bicara apa pun terhadapku, apa lagi membela putriku. Kau lancang, tidak sopan dan kurang ajar karena telah berbuat mesum pada putriku, apa ini yang diajarkan oleh orang tuamu? Apa orang tuamu mengajarkan bahwa berzina itu adalah perbuatan mulia? Jadi jangan membela diri atas perbuatan kotormu itu. Menjijikkan! Memalukan!" Suara Amina kian lantang.


"Aku suaminya Lyn, halal bagiku melakukan ini. Maaf, Tante, aku sudah menikahi Lyn sebelum mendapat restumu," ucap Luth tenang, sudah saatnya ia mengatakan segalanya.


Amina terkejut, matanya semakin membesar. Urat di wajahnya pun menegang hebat.


"Menikah? Jangan bicara sembarangan kamu ya! Kau bermimpi di sing hari ingin menikahi putriku, sampai-sampai mengigau dan mengucapkan kata pernikahan. Memalukan!" Pandangan Amina kemudian tertuju ke arah Lyn yang masih bersembunyi di balik badan gagah Luth. Meski demikian, Amina masih dapat menjangkau separuh wajah Lyn yang memucat.


Lyn benar- benar ketakutan. Seumur hidupnya, tidak pernah ia mendapat kemurkaan sehebat ini dari sang mama. Dan ini adalah kali pertamanya. Tubuhnya gemetar karenanya.


"Lyn, katakan yang sebenarnya, bicaralah! Kau jangan diam saja dan membuat mama semakin naik pitam! Jelaskan pada mama apa yang baru saja terjadi? Kenapa kau berbuat seperti tadi dengan Luth? Apa kau berpacaran dengannya?" tanya Amina yang tidak mempercayai penjelasan Luth.


Luth meraih jari Lyn, menggenggamnya erat sebagai cara untuk memberi kekuatan pada gadisnya. Ia menatap Lyn dengan teduh dan menganggukkan kepala, isyarat supaya Lyn buka suara.


Genggaman tangan Luth berhasil membuat situasi hati Lyn menjadi lebih tenang, degupan jantungnya pun sedikit lebih aman.


"Maaf Tante, Papa Nuh menikahkan kami disaat Tante berada di luar negeri. Tapi percayalah aku akan menjaga Lyn. Aku dan Lyn saling mencintai." Luth menautkan jemarinya dengan jemari Lyn, mempererat tautan itu saat mengucapkannya, membuat Lyn menoleh ke arah Luth dengan sudut bibir yang sedikit tertarik.


Situasi saat itu benar- benar menakutkan bagi Lyn, ia bahkan sempat gemetaran tadi, namun genggaman tangan Luth ampuh meredakan kekalutan yang menguasai tubuhnya.


"Keterlaluaaaaaaan!" Amina emosi. "Luth, kau benar- benar manusia tidak tahu diri. Lancangnya kau lakukan ini padaku? Aku tidak menyangka kau tega berbuat gila sampai sembunyi- sembunyi menikahi putriku, kau boleh ambil sesuatu dari keluargaku, tapi bukan putriku. Apa kau tau sebesar apa rasa malu yang aku sembunyikan untuk menutupi kenyataan bahwa aku memiliki menantu dari kalangan sepertimu? Kurang ajar kau, lancang sekali mengkhianatiku."


"Tante, pernikahan ini tidak akan terjadi jika tidak mendapat restu dari Papa Nuh. Sehingga terjadilah pernikahan yang dirahasiakan dari tante," ungkap Luth yang enggan memanggil Amina dengan sebutan mama meski sekarang wanita itu sudah menjadi mertuanya. Amukan Amina mungkin akan lebih parah jika dipanggil dengan sebutan 'mama'.


"Kau mau bilang kalau pernikahanmu dengan Lyn bukan salahmu, begitu? Kau jadikan suamiku kambing hitam yang juga turut bersalah dalam hal ini?" gertak Amina lagi.


"Kami semua salah karena sudah menyembunyikan pernikahan ini dari Tante, maafkan aku. Aku hanya butuh restumu saja. Kami saling mencintai," ucap Luth.


"Omong kosong dengan cinta. Cih, kau menjijikkan sekali. Biad*b! Seumur hidupku, nggak akan pernah aku merestuimu menikahi anakku. Kau sungguh manusia munafik, lancang dan tidak tau diri!" hardik Amina.


Mendengar kemarahan Amina yang membabi buta, Luth tidak ingin membalasnya meski di dalam hati ia mulai merasa panas, kata-kata Amina tidak layak untuk diucapkan. Luth dan Lyn menikah karena saling mencintai, namun harus dihadapkan dengan caci maki sehina itu hanya karena kelas sosial.


Tak masalah Luth dimarahi karena telah menikahi Lyn tanpa restu Amina, namun yang jadi persoalan adalah alasan Amina yang tidak mau memberi restu karena alasan kelas sosial.


Bersambung