DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Penculikan


Lyn duduk ke kursi, menunggu Luth. Harap-harap cemas. Deg-degan. Sebelumnya, Lyn tidak segugup ini saat akan bertemu dengan Luth, tapi saat ia sudah dinobatkan sebagai calon istri Luth, kenapa rasanya seperti diaduk-aduk begini?


Cuaca agak mendung, angin kencang mulai menampar-nampar wajahnya, juga bajunya. Pantesan taman yang biasanya ramai dikunjungi orang itu, kini tampak sepi. Sepasang kekasih yang biasanya duduk bercengkrama di sana, tidak ada. Para pemuda yang biasanya berkumpul main gitar di sana juga tidak kelihatan.


Suara langkah kaki dari belakang membuat Lyn tersenyum. Akhirnya Luth datang juga. Ia merapikan rambut sebelum akhirnya menoleh.


"Luth, lamu lama ba..." Kata-kata Lyn terputus saat menyadari sosok yang datang bukanlah Luth, tapi pria lain yang ia pun tidak kenal. Tubuhnya tinggi dan jangkung, rambut agak gondrong dan ikal, wajahnya oval.


Pria itu menatap Lyn dengan sorot tajam. "Dik, ikut abang yuk!" ajak pria asing itu.


Lyn sontak bangkit berdiri sambil menggeleng. "Enggak. Siapa kamu?"


"Nanti aku bayar mahal. Percayalah, aku bisa bikin kamu puas. Ayo!" bujuk pria asing itu dengan senyum kemesumannya.


"Jangan mendekat, pergi sana!" Lyn berlari menjauh. Namun sebelum sempat Lyn melangkah lebih jauh, lengan pria itu berhasil mencekal pergelangan tangan Lyn.


Lyn menjerit, meronta minta dilepaskan. Menyentak-nyentakkan lengan supaya genggaman tangan pria itu terlepas, namun tidak seperti yang diharapkan, genggaman tangan pria itu justru semakin kuat. Tubuh Lyn menubruk dada kurus pria itu sesaat pria berambut ikal itu menyentak tangannya. Lalu tangan besar yang dilapisi sapi tangan milik pria itu menempel di mulut dan hidung Lyn.


Tak lama setelah itu Lyn merasakan kepalanya pusing, berat dan sakit. Sesuatu yang terpaksa harus ia hirup, membuat pandangannya berkunang-kunang. Keliyengan. Rongga pernafasannya sakit seiring dengan kepalanya yang juga semakin terasa berat, lalu pandangannya pun gelap.


"Luth!" Lyn sempat memanggil nama Luth sebelum akhirnya tubuhnya lemas, ambruk dan ditangkap oleh lengan kurus pria jangkung dengan senyum licik.


* * *


Entah sudah berapa lama ia tertidur. Ia seharusnya secepatnya bangun dan bersiap.


Eh? Tapi kenapa kedua tangannya terikat ke belakang? Lyn memusatkan ingatan, ia baru ingat kejadian terakhir yang menimpanya. Di taman itu, ia disekap orang asing. Itu artinya, ia sedang tidak di rumah sekarang. Bagaimana mungkin ia lupa dengan kejadian itu? Efek terlalu bahagia menunggu hari pernikahan, pikirannya hanya terpusat pada hari sakral itu sampai-sampai ia melupakan kejadian tragis yang menimpanya.


Perasaan takut pun menyerang. Siapa yang telah menculiknya? Bukankah seharusnya ia duduk berdampingan dengan Luth, mendengar namanya disebut oleh Luth dalam sakralnya ijab qobul? Tapi sekarang ia malah berada di kamar asing dengan keadaan tangan terikat. Apa yang diinginkan pria asing itu? Kenapa sampai harus menyekapnya?


Apakah saat ini ia sedang menjadi korban penculikan yang akan dijual oleh si hidung belang? Ataukah ia akan diperk*sa? Jika ia benar akan diperko*a, tentu keperawanannya akan hilang dan ia tidak memiliki kesempatan untuk memberikan mahkota paling berharga miliknya untuk suaminya kelak.


Pikiran Lyn sudah sangat kusut sekali. berbagai bayangan buruk menghantuinya. Ia tidak tahu sekarang jam berapa, apakah sudah pagi atau malah sudah siang?


Papanya pasti sedang menunggunya dengan cemas. Ini adalah hari pernikahannya.


Kletek.


Kunci pintu diputar. Jantung Lyn deg-degan menunggu saatnya pintu dibuka.


Tak lama pintu terbuka. Sepasang sepatu melangkah masuk.


TBC