
Sudah sejak lama Lyn mendambakan sosok Luth. dan satu-satunya pria yang ia inginkan untuk menjadi suaminya adalah Luth. tapi bukan dengan cara seperti ini. sedikit pun tidak pernah terpikir oleh Lyn akan memanfaatkan situasi untuk bisa mendapatkan Luth. sama sekali tidak. Sebab hal itu akan menjatuhkan harga dirinya.
Ia tidak bersalah, sepatutnya harga dirinya masih bersih dan baik-baik saja. Tapi masalahnya, penilaian ayahnya dan Bu Alisha sangat buruk terhadapnya.
“Ini semua gara-gara kamu! Kacau! Aku nggak mau dinilai jelek sama om Nuh, juga ibuku,” hardik Luth kesal.
Mendengar hardikan Luth, Lyn terdiam. Ia menatap wajah Luth yang memerah karena emosi, urat-urat di wajah pria itu yang mencuat. Rahangnya mengeras.
Lyn sedih. Tanpa sadar air matanya menetes. Entah kenapa ia serapuh itu menerima hardikan Luth. apakah Luth tidak tahu kalau hati Lyn terluka mendengar hardikan itu? Ya, kata-kata Luth seperti belati tajam yang menyayat hatinya. Lyn sebenarnya sudah terbiasa dengan hardikan dan keketusan Luth, tapi kenapa rasanya berbeda saat situasinya sensitif seperti sekarang?
Lyn terkejut saat tiba tiba ia merasakan tangannya disentuh oleh Luth. Sontak ia mengangkat wajah. Menatap Luth yang kini jongkok di hadapannya. pria itu menatapnya intens.
“Jangan nangis. Cengeng!” Luth mengusap air mata di pipi lyn.
Lyn hanya diam. Hatinya tenang saat merasakan usapan telapak tangan Luth di pipinya. Aneh, pipinya yang disentuh oleh telapak tangan Luth, tapi aliran darahnya yang berdesir kuat.
“Ya udah, pulang sana! Biar masalah ini aku atasi nanti. Percayalah kita bisa hadapi sama-sama,” ucap Luth.
Lyn akhirnya tersenyum mendengar ucapan pria itu. tumben, si galak bisa berkata dengan nada manis. Apa harus Lyn nangis dulu barulah Luth bisa bersikap lembut?
“Aku pulang.” Lyn pamit dan melenggang keluar. Luth mengantar Lyn. Mereka melintasi ruangan dimana Nuh masih tampak berbincang serius dengan Alisha. Lyn menatap Nuh dan Alisha canggung. “Pa, Bu Lisha, yang tadi itu beneran nggak seperti yang papa dan Bu Lisha lihat. Lyn udah jelasin semuanya kan. Jadi mohon jangan ada kesalahpahaman lagi.”
“Jadi menurutmu peristiwa tadi itu terjadi hanya kebetulan saja? Kebetulan kamu mengantuk lalu salah masuk kamar, kebetulan ruangan kamar gelap dan Luth nggak lihat kamu udah tidur di kasurnya, begitu? Semuanya kebetulan yang ajaib,” ucap Nuh geleng-geleng kepala. Jelas ia tidak percaya.
“Kemarin Luth kepergok memeluk Lyn. Sekarang begini. Mau mengelak apa lagi?” sahut Nuh lagi.
“Kalian itu sudah sama-sama dewasa, mana mungkin nggak mengerti kalau perbuatan kalian itu keliru. Hal yang begini jangan dianggap sepele.”
Lah lah lah? Kenapa pemikiran mereka jadi ekstrim sekali? Jadi mereka masih meyakini kalau kejadian tadi ada unsur kesengajaan? Muka Lyn benar-benar memanas. Namanya sudah lecek di mata Alisha dan papanya. Padahal dia adalah gadis baik-baik, tapi kalau begini, seakan-akan ia kegatelan karena mau tidur sama laki-laki. Duuuh… kenapa jadi runyam begini?
Bersahut-sahutan Alisha dan Nuh berbicara panjang lebar seperti menghakimi.
Lyn merasakan punggungnya disenggol. Ia menoleh, mencari sumber yang menyenggolnya. Siku Luth pelakunya. Pria itu mengangkat alis lalu berbisik, “Nggak ada gunanya menjelaskan ke ibu dan papamu, mereka udah ekstrim banget mikirnya.”
Lyn hanya bisa gigit bibir.
“Ya sudah, besok kita bicarakan lagi. Saya permisi pulang!” ucap Nuh berpamitan.
Lyn mengikuti Nuh keluar rumah Alisha dengan kepala menunduk. Seharusnya ia tidak perlu semalu ini, sebab memang ia tidak bersalah. Tapi kenyataannya ia benar-benar merasa malu sekali.
***
TBC