
"Apa aku kelihatan jahat dengan nggak mau menerima permintaan Afiqa?" tanya Lyn menatap Luth dengan dahi bertaut.
Luth tersenyum tipis menatap raut takut di wajah Lyn. "Aku nggak bilang begitu. Aku hanya bicara soal hati."
Lyn sadar, tidak ada orang lain yang bisa dipilih oleh Afiqa untuk merawat bayi itu, semua keluarganya menolak, bahkan hidup Afiqa juga bergantung pada kedua orang tuanya yang jelas-jelas tidak bisa menerima kelahiran bayi itu.
"Tapi itu kan bayinya mantan kamu, Luth. Masak sih kamu suruh aku turut serta ngurusin bayinya mantan kamu?" Lyn mendadak galau, menekuk wajahnya.
Lagi-lagi Luth tersenyum. "Jadi ini sekarang soal perasaan? Kalau begitu, sekarang aku tanya ke kamu, seandainya bayi itu nggak terlahir dari rahim Afiqa, apakah kamu mau menerimanya?"
Lyn terdiam. Lagi-lagi Luth membuatnya seperti diskak.
"Aku yakin kamu pasti mau menerima bayi itu jika ibunya bukanlah Afiqa. Aku tau banget hati kamu. Dan sekarang, persoalannya kamu keberatan merawat bayi itu karena urusan hati, kan?"
Lyn menghela nafas. "Ngurusin bayi itu bukan perkara mudah."
"Aku tau, ngurusin bayi memang nggak mudah, justru itu aku tanya kamu terlebih dahulu, sebab kamulah yang memiliki peranan besar dalam hal ini. Tentunya kamu udah lulus kuliah saat bayi itu terlahir nantinya."
"Kamu kok kelihatan maksa pingin merawat bayi itu sih? Kamu bukan bapaknya bayi itu kan?"
Luth membelalak kaget. "Ya bukanlah. Aku sendiri pun nggak tau siapa bapaknya bayi itu."
"Dan kamu nggak mau tau?"
Luth hanya melirik ke arah Lyn sebentar tanpa memberi jawaban.
"Ya, tentu. Kita harus tahu siapa bapaknya jika ingin merawat bayi itu. Well, aku nggak akan maksain kamu. Aku tau ini bukan hal mudah. Kita baru aja nikah kan, semuanya butuh proses."
"Aku nggak bisa putusin sekarang. Aku pikirin dulu."
"Kamu bisa kok temuin Afiqa untuk meyakinkan keputusan, ya atau tidak. Kalau kamu ketemu Afiqa, kamu bisa bicara banyak hal sama dia, terserah mau nanyain apa aja. Termasuk tanyain siapa bapak bayinya kalau kamu mau."
"Apa itu nggak akan membuat Afiqa tersinggung?" tanya Lyn.
"Kamu kan calon wanita yang akan merawat bayinya, wajar kamu tanya apa aja yang menurut kamu perlu ditanyakan."
"Oke, aku mau ketemu sama Afiqa," jawab Lyn.
"Kalau gitu, selepas kamu selesai kelas, aku jemput kamu ya. Kita ketemuan sama Afiqa di taman."
Lyn mengangguk.
Hari itu, Lyn benar-benar tidak bisa konsentrasi belajar saat dosen pembimbing memberikan penjelasan mengenai sastra. Pikirannya terbang entah kemana. Ia ingin secepatnya ketemu dengan Afiqa, ingin menanyakan banyak hal kepada gadis itu.
Seperti yang dijanjikan, setelah kelas usai, Lyn dijemput oleh Luth. Mereka menuju ke taman tak jauh dari kampus. Di sana, sudah ada Afiqa yang menunggu. Duduk sendirian di kursi taman. Kondisi perutnya kini sudah tampak membesar.
TBC
Dukungannya mana nih? Klik like yak biar author cemungut nulis. Thanks