
Dengan tatapan sendu, Lyn menerima sebuah dompet kecil yang diberikan oleh Bik Ita, asisten rumah tangganya. Dompet itu berisi perhiasan. Bukan perhiasan milik Bik Ita, melainkan perhiasan milik Lyn yang diambil oleh Bik Ita dari kamar Lyn.
"Makasih, Bik Ita." Lyn menatap haru asisten rumah tangganya itu. Tentu saja proses serah terima perhiasan itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi pula tanpa sepengetahuan Amina, Bik Ita harus berjalan keluar rumah dan berbelok beberapa meter agak jauh dari rumah untuk bisa bertemu dengan Lyn. Bahkan Bik Ita mengambil perhiasan itu dari kamar Lyn dengan mengendap-endap seperti pencuri. Tidak. Bik Ita tidak sedang mencuri, sebab perhiasan itu adalah milik Lyn. Lyn membelinya dari uang pemberian papanya dulu.
Kunci kamar Lyn sekarang ini dipegang oleh Amina, digantung di kamar Amina. Bik Ita pun mengambil kunci itu secara diam-diam, penuh dengan perjuangan karena takut ketahuan Amina.
“Jangan bilang makasih, Non. Ini bukan apa-apa,” ucap Bik Ita dengan pandangan berarir menatap majikannya yang sudah lama tidak kembali ke rumah. Mereka sangat dekat, namun kesulitan untuk bertemu.
“Mama gimana, Bik? Mama baik-baik aja, kan?” tanya Lyn.
“Ibu sehat, kok.”
“Tolong kabarin Lyn kalau terjadi apa-apa sama mama. Nomer ponsel Lyn masih yang lama.”
“Iya, Non. Tentu.”
Lyn kemudian berpamitan pergi karena secepatnya ia harus segera kembali ke rumah sakit.
Langit sedang tidak bersahabat, mendung dan gelap. Lyn terpaksa naik taksi supaya tidak kehujanan. Padahal ia harus berhemat sedangkan ongkos taksi kan mahal. Tapi tidak ada pilihan lain dari pada ia basah kuyup dan malah menjadi sakit.
Lyn berhenti di toko perhiasan terlebih dahulu, menjual perhiasannya itu. Lalu kembali lagi ke taksi yang masih menunggu.
Lyn tidak tahu apakah Luth sudah mendapatkan uang atau belum, tapi ia tidak yakin Luth akan mendapatkan uang sesuai jumlah yang dibutuhkan. Mau jual mobil? tidak mungkin. Mobil itu belum lama dibeli oleh Luth. baru beberapa bulan saja, memangnya siapa yang bersedia melanjutkan kreditan mobil itu? lagi pula, mobil jenis itu tidak akan mungkin mendapat pinjaman besar saat suratnya digadaikan, atau bahkan tidak akan mungkin mendapat pinjaman mengingat harga jual yang rendah dan cicilan juga baru beberapa bulan saja.
Lyn sudah mengirimkan email, pesan dan lain sebagainya kepada Aldeva supaya kakaknya itu untuk menanyakan kabar, namun belum ada balasan. Maklum, Aldeva sedang berada di luar negeri untuk menjalani proses pengobatan istrinya.
Lyn juga sudah menghubungi Arga, sayangnya belum ada kabar apa pun dari Arga. Ia hanya bisa menghubungi Arga melalui via chat, sebab nomer ponsel pria itu tak aktif karena dia sedang berada di pedalaman Kalimantan untuk proyek baru, dia juga membawa serta istrinya. Di sana tidak ada signal.
Meski kedua kakaknya sulit dihubungi karena masing-masing memiliki kesibukan, untungnya Lyn masih diberi jalan keluar.
Sepanjang jalan, Lyn merasa gundah karena taksi bergerak sangat lambat. entah beberapa kali ia terjebak di jalanan macet. Kegundahannya itu pun ia tulis di sosial medianya, merangkai kata demi kata dengan begitu indahnya. Sesuai dengan keahliannya yang kuliah di jurusan sastra, kata-kata yang ia tuangkan sangat ciamik dan indah.
Bukan hanya sederet kalimat saja yang menjadi untaian bacaan di sosial medianya, namun saking banyaknya curahan hati, malah terbentuk menjadi banyak paragraf, nyaris seperti potongan cerpen.
Lyn tidak sedang menceritakan tentang kehidupannya yang sulit, atau kedurhakaan Hud dan Khadijja, melainkan mengisahkan kehidupan Alisha yang sakit dan hal itu membuatnya sedih karena keuangan yang menipis. Sebelum ia mengisahkan kehidupan Alisha, awalnya ia membuat sepenggal kisah tentang asmaranya dengan Luth yang membuat sudut bibirnya sedikit tertarik saat mencurahkannya. Kisah cinta mereka begitu manis dan indah. Bermula dari persahabatan sejak kecil, kemudian Lyn memendam cinta dan kecemburuannya itu pada Luth, sampai akhirnya Tuhan memberi akses jalan kemudahan untuk keduanya menikah. Lalu sekarang, mertuanya Lyn jatuh sakit. Kondisi ekonomi sedang dalam kekurangan, Lyn sedih melihat kenyataan itu. namun lagi-lagi cara Tuhan begitu indah saat memberi jalan kemudahan hingga rejeki itu akhirnya ada untuk sang ibu.
Klik. Jempol Lyn menekan send, mengunggah kisah itu di sosial medianya.
“Sudah sampai, Mbak!” ucap supir membuat Lyn mengalihkan perhatian ke arah supir. Secepatnya ia membayar ongkos dan meninggalkan taksi.
TBC