
Lyn sudah mengenakan kebaya warna gold, ia duduk di depan cermin, menatap wajahnya yang imut dan cantik.
Make up saat momen pernikahan adalah sesuatu hal yang lazim, namun kali ini berbeda bagi Lyn. Ia merasa malu pada dirinya sendiri, tampil sangat cantik dan menawan di depan Luth, apakah tidak akan membuat Luth merasa aneh? Mereka yang dulu hanya sekedar temenan, tiba-tiba status mereka diubah untuk menjadi pasangan suami istri.
Bagi Lyn, tujuannya dirias adalah agar memancarkan aura kecantikan yang maksimal. Bukan untuk dipandang oleh para tamu undangan, tapi untuk dipandang pasangannya, yaitu Luth. Sebab memang pernikahan mereka tidak mengundang banyak orang, hanya beberapa sebagai saksi dan orang-orang terdekat saja.
Lyn mengawasi penampilannya sendiri, dimulai tangannya yang mengenakan hena, sepatu warna senada dengan kebaya, sampai kepada wajahnya yang dirias khas pengantin.
"Lyn, ayo keluar. Semuanya sudah hadir," ucap Nuh yang baru saja membuka pintu kamar, ia lalu menghampiri putrinya. Berdiri di sisi Lyn sambil menatap pantulan wajah putrinya di cermin.
"Alhamdulillah, putri papa cantik sekali." Nuh memuji sambil mengusap rambut Lyn yang disanggul.
Lyn tersenyum simpul mendapat pujian dari papanya.
"Ayo!" ajak Nuh sambil meraih tangan Lyn untuk membantu putrinya bangkit bangun dari kursi.
Lyn menahan tangan papanya, tatapannya intens dan berkata, "Pa, apakah Lyn udah pantas untuk menikah? Lyn masih terlalu muda bukan?"
"Semuanya sudah berjalan sampai di sini, jangan tanyakan lagi apakah pantas atau tidak. Tentu ini pilihan yang tepat. Lagi pula Luth adalah pria baik, dia sangat berbakti pada ibunya, maka bukan mustahil dia juga akan sangat menyayangi istrinya yang juga sebagai wanita. kita sudah sama-sama mengenalnya, papa yakin kamu akan menemukan kebahagiaan bersamanya nanti."
"Ya sudah, kita keluar sekarang!" Nuh membimbing Lyn keluar kamar.
Semakin kaki Lyn melangkah, kegugupan semakin menghantuinya. Ia membayangkan bagaimana ekspresi Luth saat melihatnya berpakaian pengantin begini. Apakah ia akan terlihat aneh di mata Luth? Ataukah pria itu justru akan terkesima? Status pertemanan yang sudah bertahun-tahun mereka jalani, membuat Lyn jadi kikuk saat status itu kini berubah.
Saat keluar kamar, melewati beberapa ruangan, menuruni anak tangga, kepala Lyn terus tertunduk, tak ingin melihat wajah Luth. Grogi, gugup, salah tingkah, semuanya mengaduk-aduk perasaannya.
Luth sudah duduk di tengah-tengah ruangan, di sekelilingnya sudah ada beberapa orang yang menyaksikan. Alisha mendampingi, duduk tepat di belakang Luth.
Luth mengangkat wajah, menatap Lyn yang berjalan ke arahnya. Penampilan yang menawan membuat Luth terdiam, sayangnya Lyn terus menunduk, tidak mau menatap ke arahnya. Di mata Luth, tampak jelas bahwa gadis itu terlihat sangat malu. Luth terus mengawasi gadis yang kini duduk di sisinya.
Warna kebaya Lyn senada dengan warna pakaian yang dikenakan oleh Luth. Mereka memang memilih pakaian itu masing-masing, tapi saling calling untuk memilih warna yang sama.
Perasaan Lyn tak karuan duduk bersisian dengan pria yang disebut calon pengantin pria. Deg-degan, jantung pun berdebar. Entahlah. Ia kini menjadi wanita yang disebut sebagai mempelai wanita. Status pengantin membuat hati dan perasaannya membuncah.
Seketika hati Lyn basah saat Luth mengucap sederet namanya berikut dengan bin, nama orang tuanya, selanjutnya para saksi seirama mengucap kata sah.
TBC