
“Luth, dari mana kamu tau kalau Afiqa hamil?” tanya Hud dengan tatapan serius ke arah Luth.
“Afiqa sendiri udah mengakuinya, dia hamil,” jawab Luth dingin. “Mas, berhenti membicarakan Afiqa. Aku dan dia udah nggak ada hubungan apa-apa lagi.”
Hud membungkam.
“Ya udahlah, nggak usah repot. Kalau memang Luth mau nikah sama Lyn ya biar aja. Nggak ada ruginya juga,” sahut Khadijja santai. Malas mendebat.
“Tapi kenapa kamu tiba-tiba dan semendadak ini mau nikah sama Lyn? Bahkan hubunganmu dan Afiqa baru aja berakhir?”
Luth tersenyum tipis. “Aku dan Lyn kan udah lama kenal. Kalau pun rencana ini sebenarnya udah ada sejak dulu, apakah Mas Hud akan tetap beranggapan kalau ini mendadak?”
Hud menghela nafas. “Ya sudah. Kalau memang kamu ingin menikah dnegan Lyn, itu pilihanmu.” Hud menepuk pundak Luth.
“Yang jelas, kamu harus lebih berhati-hati sama Lyn, dia kan ceroboh.” Khadijja menyahuti. “Suka banget bikin kamu celaka. Salah-salah, kalau dia jadi istrimu, kamu bisa celaka setiap hari akibat ulahnya. Berapa kali kamu dicelakai sama dia coba?”
“Dija, setiap hari, saat Luth nggak di rumah, justru Lyn-lah yang menemani ibu. Merawat ibu, juga menjaga ibu di rumah. Dia juga sering masakin ibu. Dia anak yang rajin dan perhatian, kok,” ucap Alisha mengenang Lyn yang kerap menemaninya.
“Ya udah, bagus itu. Jadi kalau Lyn nikah sama Luth, Lyn kan bisa nemenin ibu, dia bisa ngejagain ibu. Pas banget itu,” sambung Khadijja, merasa mendapat keuntungan.
“Masalahnya sekarang, sejak dulu kan kita tahu Tante Amina nggak suka sama keluarga kita. Apa mungkin kita lepasin Luth nikah tanpa restu mertuanya?” timpal Hud lagi.
“Sudah, tenang. Kalau Luth dan Lyn berjodoh, mereka pasti akan tetap menikah, apa pun caranya,” ucap Alisha dengan seulas senyum.
“Nah, jadi sekarang nggak ada lagi yang perlu diragukan. Biarkan Lyn dan Luth menjalani kehidupan mereka, ini semata-mata demi kebaikan Lyn dan Luth. kalau mereka saling suka, silakan dilanjutkan,” sahut Alisha.
“Kamu udah punya duit untuk ngelamar Lyn? Uang yang kemarin kan udah habis untuk ngelamar Afiqa? Tentu kamu butuh duit lagi untuk ngelamar Lyn kan?” ucap Khadijja.
“Aku bisa pikirkan itu, Mbak. Jangan cemas,” jawab Luth. ia mengerti kemana arah pembicaraan Khadijja. Jika sudah menyinggung soal materi, Luth paham bagaimana harus mengambil sikap.
“Ya sudah, ibu senang kalau kalian udah sama-sama merestui Luth untuk memilih pasangan hidupnya. Ibu juga sayang banget sama Lyn, ibu bahagia kalau Lyn jadi menantu ibu,” sahut Alisha dengan senyum lebar. “Sekarang ibu bahagia sekali bisa kumpul sama kalian begini. Jarang-jarang kan kita berkumpul begini?” Alisha merangkul Khadijja yang posisinya paling dekat.
Yang dirangkul tersenyum tipis.
“Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu, Bu. Aku mau mampir ke mol untuk beli sepatu titipan Mas Ishaq. Pamit dulu ya, Bu. Nanti kabarin aja kapan nikahannya Luth.” Khadijja tak lupa menyalami tangan ibunya kemudian melenggang pergi.
Pandangan Hud tertuju ke arah Luth. “Luth, Mas nggak yakin kalau kamu nikah sama Lyn. Dia memang gadis baik, tapi pernikahan itu kan bukan hanya antara kamu dan Lyn, tapi antara dua keluarga. Ini bagaimana kamu bisa punya mertua seperti Tante Amina sedangkan dia aja nggak pernah bisa menerima kamu.”
“Jangan pikirkan itu, Mas. Aku mengerti bagaimana harus bersikap,” tegas Luth.
Hud tidak lagi bicara. Ia pun berpamitan pulang.
BERSAMBUNG