DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Parah


"Bagaimana kondisi ibu saya, Dok?" tanya Luth dengan penuh kecemasan.


"Jadi, berdasarkan pemeriksaan, kami menemukan batu ginjal yang sudah akut di ginjal ibu anda, dan ini harus segera ditangani," terang dokter membuat Lyn dan Luth syok.


Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Masalah yang ada bahkan belum selesai.


"Secepatnya harus ada tindakan untuk pasien, kami menganjurkan supaya pasien dioperasi. Sebab kondisinya sudah sangat parah. Air seninya juga sudah keruh. Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien. Baiklah, sekarang saya tinggal dulu," ucap dokter kemudian berlalu pergi.


Lyn bertukar pandang dengan Luth. Mata Lyn sudah berair menahan perasaan berkecamuk di dalam dada, namun anehnya Luth tampak begitu tegar, tenang dan terlihat baik-baik saja.


Tapi siapa yang tahu kalau sebenarnya perasaan Luth begitu kacau, pria itu tak ingin menunjukkan kehancurannya di hadapan sang istri, itu hanya akan menambah beban dan kesedihan Lyn. Dia harus terlihat kokoh supaya bisa menguatkan istrinya.


Bahkan Luth juga tak menyangka ternyata sepilu ini yang dirasakan oleh Lyn saat gadis itu mendengar kabar mengenai sakit mertuanya.


Kepedulian Lyn terhadap Alisha melebihi kepedulian anak kandung Alisha, tak lain Hud dan Khadijja, yang bahkan belum hadir sampai saat ini untuk menjenguk Alisha meski sudah diberitahu sejak awal.


"Percayalah, Tuhan pasti akan memberikan jalan terbaik," bisik Luth yang ingin melihat Lyn tidak menangis.


"Tapi ibu nggak pernah bilang soal ini, selama ini ibu kelihatan sehat dan baik-baik aja," ucap Lyn yang menyesalkan kejadian itu. "Bagaimana kamu bisa sampai nggak tau soal ini, Luth?"


"Ibu pasti menutupinya dariku."


"Ibu juga nggak pernah ngomong apa-apa sama aku mengenai ini. Kita doakan yang terbaik untuk ibu." Luth mengusap air mata Lyn di pipi, lalu mengajak gadis itu masuk ke ruangan dimana Alisha terbaring lemah dengan wajah memucat.


Luth meraih tangan Alisha, menggenggamnya. Sekuat mungkin ia berusaha merapikan hatinya yang hancur melihat sang ibu dalam keadaan tak berdaya begini.


Lyn tidak dapat melihat kesedihan Luth secara sempurna, sebab pria itu tampak begitu pintar menyembunyikan perasaan itu dengan rapi tanpa mengijinkan orang lain melihatnya, termasuk Lyn.


Di mata Lyn, luth tampak begitu tegar dan kuat. Ia meraih pundak Luth dan mengusapnya pelan.


"Ibu..." lirih Luth mengusap-usap punggung tangan ibunya dengan jempol.


Tak lama Alisha pun terjaga, matanya terbuka secara perlahan. Ditatapnya wajah bungsunya yang tampak berbeda dari biasanya, kecemasan menjadi pemandangan utama di wajah itu.


"Luth, ibu dimana ini?" pandangan Alisha mengedar. Mengawasi seisi ruangan, saat ia menyadari sedang berada di rumah sakit, ia pun tertegun sebentar. Namun detik berikutnya senyumnya terbit. Seperti biasa, senyum manis yang membuat wajah tua nan mengeriput itu tampak baik baik saja, entah hatinya.


"Ibu di rumah sakit," jawab Luth.


"Kamu jangan sedih, ibu nggak apa-apa, kok," kata Alisha yang jelas tak ingin melihat bungsunya khawatir. Ia tampak biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa dalam dirinya.


TBC