
Lyn menyisir rambut, menatap wajahnya melalui pantulan cermin. Wajah itu sudah tidak lagi dibalut make up ala pengantin. Tinggalah wajah natural dengan alis bulan sabit, hidung mungil, dipadu bibir merah ranum seperti jambu air.
Pandangannya lalu mengedar menatap seisi kamar, ia sudah tidaka sing lagi dengan kamar itu, tak lain kamar milik Luth. Beberapa kali ia pernah masuk ke kamar itu untuk urusan seperlunya. Termasuk saat salah masuk kamar waktu itu.
Ada ranjang ukuran sedang yang bisa digunakan untuk tidur berdua, lemari, rak sepatu, gitar menggantung di dinding, serta lemari buku. Ukuran kamar tidak begitu luas. Meski sederhana, namuan bersih, rapi dan nyaman.
Ngomong-ngomong mengenai isi kamar yang sederhana, untungnya kamar mandi ada di dalam kamar. Mulai saat itu, Lyn sudah harus menempati kamar yang juga merupakan tempat tidur Luth. rasanya nano nano, bingung dan gugup. Bahkan sekarang Lyn pun bingung harus berbuat apa, apakah mungkin ia hanya berdiam di dalam kamar saja? Mau keluar kamar tapi malu.
Setelah akad yang selesai jam sebelas, Lyn belum bertemu dengan Luth. Sepasang pengantin itu sibuk masing-masing. Luth membantu tetangga membereskan piring-piring kotor, membereskan rumah Lyn yang baru saja digunakan untuk acara supaya kembali rapi. Sedangkan Lyn diminta oleh Alisha untuk langsung ke rumah Luth, membawa beberapa lembar pakaian dan keperluan lain seperlunya saja.
Sudah menjadi kesepakatan, bahwa Lyn akan menetap tinggal bersama dengan suami. Dan saat Amina kembali nanti, akan dipikirkan nanti pula. Entahlah apa yang akan terjadi, yang penting mereka menjalani pernikahan seperti air mengalir.
Tadi Lyn sudah menghabiskan waktu mengobrol di ruang tamu dengan Alisha sampai beberapa jam lamanya. Tidak ada hal penting dibahas, hanya membahas mengenai pernikahan saja, juga pengalaman Alisha mengarungi bahtera rumah tangga hingga rumah tangganya dengan sang suami selalu harmonis dan dilimpahi rahmat serta karunia Tuhan, tidak merasa kekurangan, sebab selalu merasa tercukupi meski dulu sewaktu Luth kecil sering makan hanya dengan ikan asin.
Lyn terenyuh mengenang hal itu. kini pikiran Lyn kembali tertuju pada Luth. Pria itu entah kemana sekarang. Sejak acara akad usai, Luth belum juga kelihatan batang hidungnya. Apa mungkin pria itu masih sibuk beres-beres di rumah? Sampai malam begini? Iya, sekarang sudah jam setengah tujuh.
Dan… Jika Luth datang, apa yang harus ia lakukan? Tersenyum menyapa pria itu? bersikap seperti seorang istri? Atau masa bodoh? Bagaimana ia bisa masa bodoh dnegan situasi yang terjadi? Perubahan status dari teman sejak kecil kemudian mendadak jadi suami istri, membuat Lyn jadi canggung dan salah tingkah. Padahal status inilah yang sejak dulu ia harapkan, tapi setelah menjadi kenyataan, kenapa malah jadi repot begini?
Terdengar langkah kaki di depan pintu, berhenti tepat di depan pintu. Apakah itu Luth? Mau masuk kamar?
Lyn deg-degan menatap sepasang kaki yang berhenti di depan pintu, guguup bukan main. Mendadak saja suhu tubuhnya panas dingin tak menentu. Ia kemudian bangkit berdiri, berjalan menuju ke arah kamar mandi, namun kemudian balik lagi. Kali ini menuju ke lemari, pura-pura mencari-cari baju. Tak lama menutup pintu lemari, lalu menuju ke kasur, pura-pura membereskan alas kasur. Haduh, Lyn benar-benar bingung harus melakukan apa supaya tidak kelihatan seperti sedang menunggu Luth di kamar.
Padahal Luth hanya akan masuk kamar saja, tapi kenapa Lyn seperti kebakaran jenggot begini? Mukanya memanas dan bayangan aneh berlarian di kepalanya.
Lama menunggu, dan sejak tadi telapak tangan Lyn masih pura-pura mengelus alas kasur, pintu tak kunjung dibuka. Sepasang kaki masih berada di depan pintu.
Lyn jadi malu sendiri. Akhirnya ia meninggalkan kasur, memilih untuk membuka pintu hendak keluar. Ia terkejut saat melihat Alisha berdiri di ambang pintu sambil memegang hape android miliknya.
Percuma sejak tadi Lyn merasa gugup, ternyata bukan Luth yang ada di depan pintu.
“Lyn, ini loh, Ibu mau video call ke Hud tapi kok nggak bisa. Itu kenapa ya? sejak tadi ibu otak-atik tapi tetep nggak mau masuk panggilan ibu,” ucap Alisha yang sejak tadi tampak mengotak-atik ponselnya kelihatan bingung.
“Sini, Bu. Biar Lyn lihat.” Lyn meraih ponsel Alisha, membawanya ke ruangan keluarga dan duduk di sana. Ia mengecek panggilan via WA, panggilan tidak terhubung. Dan tersenyum saat mengetahui paket data milik Alisha sudah habis. Pantesan.
Lyn kemudian membuka aplikasi mobile banking miliknya, mengirim pulsa ke nomer Alisha, lalu langsung mendaftarkan paket yang bisa dipakai selama dua bulan ke depan.
“Apanya yang salah, Lyn?” tanya Alisha.
Lyn tersenyum lagi, wajar Alisha yang sudah tua dan gagap tekhnologi itu tidak memahami masalah itu. Lyn pun menjawab, “Sekarang udah bisa dipakai, Bu.” Lyn menyerahkan ponsel Alisha.
“Makasih ya.” Alisha tampak senang.
TBC