DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Tertunda


Besok.


Ya, besok adalah hari dimana Akad nikah akan dilangsungkan. Nuh dan Alisha sudah mengatur jadwal untuk menentukan hari pernikahan itu. Lyn tidak bisa tidur menghadapi esok hari. Perasaannya benar-benar kacau.


Semua rasa seperti diaduk-aduk. Padahal ia tidak merasakan proses pernikahan hebat seperti yang dirasakan calon pengantin selayaknya. Tidak merasakan proses lamaran, Midodareni, pingitan, memilih kartu undangan, fitting baju pernikahan, dan proses lainnya yang berkaitan dengan hari pernikahan. Tapi tetap saja perasaannya membuncah, bahagia.


Tidak perlu merasakan semua proses selayaknya pernikahan seperti yang orang lain rasakan, yang penting menikah dengan orang yang ia cintai, itu saja sudah cukup baginya.


Lyn sangat ingin melihat wajah Luth malam ini. Seperti apa ekspresi wajah calon suaminya itu disaat sedang menanti hari pernikahan? Ah, paling paling muka Luth tetap datar aja. Dia kan cool. Lyn berguling di kasur, tersenyum membayangkan ekspresi wajah pria itu.


Suer, Lyn kepingin banget melihat wajah Luth. Apakah Lyn ke rumah Luth aja ya? Pura-pura mengantar makanan, padahal satu-satunya tujuannya hanyalah untuk menatap wajah si jutek.


Ah, alasan itu terlalu gampang diketahui. Lyn harus mencari cara lain untuk dapat melihat wajah Luth. Halah... entah kenapa ia jadi kepingin banget melihat wajah Luth di hari menjelang pernikahan mereka.


Bagaimana kalau seandainya Lyn video call saja dengan Luth? Lyn meraih ponsel, mencari nama Luth. Jempolnya sudah di jarak satu centi hendak menekan nama itu, namun ragu. Takut dibilang agresif. Tapi gimana dong, kangennya nggak bisa ditahan. Penasaran sama muka lempengnya Luth pas menjelang hari nikahan tuh seperti apa.


Oke, Lyn nekat. Harus video call. Demi melihat muka datarnya calon suami. Kali aja muka itu udah berubah nggak datar lagi.


Brrrrt...


Ponsel Lyn bergetar seirama dengan nada deringnya. Luth Video call.


Lyn kelimpungan, bingung menata wajahnya. Ia cepat-cepat duduk di posisi yang rapi, bersila di atas kasur, kedua kaki ditutupi selimut, merapikan rambut, membasahi bibir, lalu menarik nafas dalam-dalam.


Lyn kemudian menggeser tombol hijau sesaat setelah menenangkan diri.


"Ha..." Baru saja mulut Lyn terbuka hendak berhalo ria, tapi panggilan terputus. "Loh, kok mati?"


Lyn menggigit bibir, pasti karena ia kelamaan menjawab panggilan, jadinya sambungan pun terputus alias telat menjawab panggilan. Rugi deh.


Lyn pun menunggu panggilan kedua, biasanya seseorang pasti akan melakukan panggilan kedua setelah panggilan pertama tidak terjawab. Lima menit menunggu, panggilan yang ditunggu tak kunjung muncul.


Ayo, dong. Telepon lagi! Lyn membatin.


Lelah menunggu, Lyn pun akhirnya melakukan panggilan VC ke nomer Luth. Jantungnya berdetak tak menentu saat panggilan terhubung dan ia menunggu Luth menjawab teleponnya.


Bersambung


Klik like dulu yah sebelum next sebagai bentuk dukungan pada penulis. Satu jempol aja mampu membuat author semangat lhoo.


Kalian keren, selalu bikin Emma bersemangat setiap komen. Dan maaf Emma gak bisa bales satu- satu. Tapi Emma baca komen kalian kok. Makasih para pendukung yang baik. Hebat