
“Mama?” sambut Lyn dengan senyum kaku.
“Ya ampun, Lyn. Kamu lama sekali buka pintu. Ngapain aja, sih?” kesal Amina. Pandangannya kemudian tertuju ke ruangan kamar. “Kok, lampunya udah diganti sama lampu tidur? Kamu tadi udah tidur?”
“I iya… Baru mau tidur,” jawab Lyn.
Amina menekan sakelar lampu, lalu melangkah masuk. Ia duduk di kursi dekat meja. “Mama mau bicara sebentar sama kamu, soal acara ulang tahun mama.” Amina menghentikan ucapannya, ia mengernyit menatap Lyn. “Kamu keramas? Malam-malam begini?”
“Biasanya juga Lyn sering kok mandi keramas malam-malam begini? Mama aja yang nggak tau. Tadi sore kan Lyn belum mandi, trus mandinya pas mau tidur. Jadi ada apa Mama kesini?” ucap Lyn dengan entengnya. Untung saja ia tidak gugup saat menjawab pertanyaan mamanya. Sesekali manik matanya melirik ke arah kolong ranjang, mengawasi Luth. tidak ada tanda-tanda mencurigakan dari kolong ranjang.
“Ya udahlah, whatever.” Amina melambaikan jarinya di depan wajah. “Ini loh, mama mau bikin kue tart ukuran jumbo, jadi mama maunya tema yang kayak gini. Kamu atur ya!” Amina menunjukkan gambar kue ulang tahun di ponselnya.
“Ya udah, mama kirim aja ke WA Lyn, nanti Lyn atur.”
Amina lalu mengirimkan gambar tersebut ke ponsel Lyn. Segera Lyn mengambil ponselnya di atas meja dan membuka gambar tersebut. Lyn harus terlihat seakan sedang melayani mamanya dengan baik, sebab jika tidak, mamanya pasti akan marah.
Tiba-tiba mata Lyn membelalak saat melihat ponsel lain tergeletak di atas ranjang. Itu kan ponselnya Luth. Duh… Kalau ketahuan amina, semuanya bisa kacau. Lyn naik ke ranjang, pura-pura membersihkan kasur dengan cara menepuk-nepuk sprei, lalu cepat-cepat menyelinapkan ponsel milik Luth ke balik selimut.
“Ada lagi yang perlu diomongin, Ma? Lyn ngantuk banget. Kecapean. Kebanyakan tugas di kampus,” ucap Lyn pura-pura menguap.
“Ya udah, itu aja sih. Kalau ada yang perlu dibahas, besok kita bicarakan lagi.” Amina bangkit berdiri. Sebelum ia balik badan, ponsel di balik selimut berdering.
Aduh! Lyn terkesiap. Ponsel milik Luth berbunyi.
“Loh, kamu punya berapa ponsel?” tanya Amina menatap ponsel di tangan Lyn, sementara di balik selimut ada ponsel lain yang juga berdering.
Lyn tidak menjawab panggilan itu, hanya ia silent saja. Takut ketahuan Amina. Sampai akhirnya Amina mematikan lampu, lalu melenggang keluar dan menutup pintu.
“Watsiiiy… huu hu watsiiiy…”
Suara itu bersumber dari kolong ranjang. Kasian sekali Luth sampai harus bersin-bersin gara-gara menghirup debu. Pria itu pun berguling keluar dari kolong.
Lyn malah terkekeh melihat hidung Luth memerah akibat bersin bersin. Pria itu terduduk samil menggeleng-gelengkan kepala.
Klek. Pintu kembali terbuka. Amina menyembul dan berdiri di ambang pintu.
Jika saja pandangan kamar tidak remang-remang, maka Amina pasti mendapati raut memucat di wajah Lyn. Luth langsung membanting tubuhnya ke lantai dengan posisi menelungkup.
“Lyn, jangan lupa besok bangun pagi ya, besok kan libur dan kamu mesti urus semuanya!” titah Amina kemudian kembali menutup pintu.
Untung saja Amina tidak melihat keberadaan Luth karena pandangan Amina ke arah Luth terhalang oleh ranjang.
“Uuuh… aman!” ucap Lyn kemudian melompat turun dari ranjang dan segera mengunci pintu.
Dalam keadaan pintu terkunci begini, maka Lyn merasa aman.
Lyn dan Luth kembali naik ke ranjang, tertidur pulas dalam pelukan hangat satu sama lain.
Bersambung