DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Marah-marah


Setelah mobil Nuh berlalu pergi, cepat-cepat Luth membuka daftar kegiatan terakhir di ponsel Lyn. “Ini apa?” Luth menunjukkan rekaman di ponsel yang baru saja diambil oleh Lyn.


Noh ketahuan, bukti rekaman memperlihatkan Luth sedang berolah raga.


“Siapa yang ajarin kamu bohong? Tadi nggak ngaku kalau kamu mengambil gambarku!” ketus Luth.


“Kamu tadi menuduhku memotretmu. Aku memang nggak memotret.”


“Tapi videoin aku, gitu?”


“Jangan Ge Er, aku merekam pemandangan di depan rumah.” Lyn ngeles. “Ya udah hapus aja. Ngotor-ngotorin ponselku aja.”


“Nggak baik cewek ngambil foto laki-laki, kamu mau kena undang-undang?” Luth mengembalikan ponselnya kepada Lyn. “Ya udah posting sana! Captionnya cowok macho!” ucap Luth kemudian melenggang pergi.


“Loh?” Lyn terkekeh menatap rekaman yang ternyata tidak dihapus. Lumayan, bisa ditonton ulang.


Tiba-tiba Lyn dikejutkan dengan kemunculan sosok dari dalam rumah yang membawa sapu lidi, siapa lagi kalau bukan mamanya. Wanita berusia empat puluh lima tahun namun kulit wajahnya tampak jauh lebih muda dari usianya itu memegangi gagang sapu sambil berteriak kesal.


Noh, kalau sudah begini, Lyn yakin ibunya itu sedang kalap, marah besar. Tapi marah karena apa? Dan soal sapu lidi, bisakah mamanya itu setiap kali marah tidak mengorbankan sapu lidi?


“Hei, Luth! Ke sini kamu!” teriak Amina, mamanya Lyn yang berjalan sambil mengacung-ngacungkan sapu lidinya. Satu tangan mengangkat rok supaya mempermudah langkah lebarnya.


Loh? Lyn kaget, kok mamanya marah pada Luth? Memangnya kesalahan Luth apa? Lyn mengiringi langkah Amina yang berjalan dengan cepat menuju ke rumah sebelah.


“Ma, mama kenapa? Kok, marah-marah sama Luth? Luth salah apa Ya Allah?” Lyn panik, takut Luth makin ilfil padanya akibat kelakuan mamanya yang seperti kesurupan begini.


“Mama, jangan gini, dong. Malu kan? Masak ibu-ibu sosialita yang hobinya arisan kelas sosialita ngamuk-ngamuk, sih?” Lyn berjalan mendahului Amina supaya ia lebih dulu sampai ke rumah Luth. “Kalau dilihat orang kan mama juga yang malu. Ya ampun, ini ada apa lagi sih mama kok bisa ngamuk begini?”


Tidak ada tanggapan dari Amina. Juga tidak lagi terdengar suara amukannya. Lyn sontak menoleh, mamanya tidak ada di sampingnya. Apakah ketinggalan? Lyn menoleh ke belakang. terkejut melihat mamanya sudah dalam keadaan menelungkup di tanah. Ternyata Amina tersungkur akibat kesandung. Tuh kan kalau kerjaaannya mengamuk, akibatnya ya begitu.


Ingin rasanya Lyn terbahak, tapi tawanya ditahan.


Tidak surut, Amina bangkit bangun masih membawa serta sapu lidinya.


Luth pun keluar rumah, ia mendengar teriakan Amina memanggil namanya tadi. Ditatapnya wajah Lyn yang bingung, kemudian beralih menatap Amina yang terlihat emosi.


Dan sapu lidi itu, mengingatkan Luth pada kejadian yang sudah-sudah. Ia ingat, dulu waktu Luth dan Lyn masih kecil, Amina pernah mengamuk padanya karena si tampan itu pernah masuk ke rumah Lyn tanpa permisi.


Pasalnya, saat itu Luth dan Lyn sedang main petak umpet. Luth hendak mencari Lyn, tapi Luth malah menemukan Amina yang sedang menggaruk ketiak di kamar mandi, Luth mengira Lyn bersembunyi di sana. Tapi ia salah orang. Itulah pertama kalinya Luth dikejar sapu terbang. Saat itu Amina mengamuk dan mengejar Luth sambil membawa sapu lidi, lalu melempar sapu tersebut ke arah Luth.


BERSAMBUNG


KLIK LIKE YUPS


.


.