
Lyn berlari mengejar Luth yang sudah lebih dulu masuk ke rumah sakit. Pria itu duluan ke rumah sakit tadi, naik taksi. Sedangkan Lyn mengejar dengan taksi lain.
Sampai di rumah sakit, ia kehilangan jejak Luth. Ia mencari ke arah UGD. Namun ia tidak menemukan Luth di sana. Ia balik badan, saat itulah dari kejauhan ia melihat Luth memasuki sebuah kamar, mengikuti seorang dokter. Lyn berlari menuju ke kamar yang dimasuki oleh Luth.
Lyn membuka pintu, melihat Luth tengah memegangi tubuh Emran di atas bed, bayi itu tampak menggerak- gerakkan kaki dan tangannya di posisi menelentang. Dokter menekan stetoskop di dada si bayi. Mata Emran tampak bening.
"Ada benturan yang mengenai bagian dadanya. Tapi sudah diatasi. Semoga kejadian ini tidak terulang kembali ya, Pak. Anak bapak tidak apa- apa. Tapi hal ini akan membahayakan bila terulang kembali, tidak perlu dirawat inap, bisa rawat jalan di rumah," ucap dokter yang langsung diangguki oleh Luth. Dokter kemudian permisi pergi stelah melakukan pemeriksaan dan memberikan pertolongan.
Lyn yang masih berdiri di pintu, berpapasan dengan dokter. Ia menyingkir sedikit untuk memberikan akses jalan pada dokter. Kemudian Lyn melangkah masuk, mendekati Emran.
"Sudah! Nggak perlu lagi menjaga Emran. Biar Emran kucarikan pengasuh. Kamu nggak mau fokus menulis kan? Lakukan saja pekerjaanmu itu! Kamu juga nggak perlu mengurus ibuku karena ibu juga sudah sembuh, ibu bisa melakukan apa saja sendiri sekarang. Lagi pula mengurus ibuku juga bukan tanggung jawab mu. Kamu bebas sekarang." Luth meraih tubuh Emran dan menggendongnya sebelum sempat Lyn menyentuh bayi itu.
"Luth, aku nggak mau begini. Aku senang bisa mengerjakan semuanya, aku ikhlas. Aku bahagia. Jangan kasih keputusan begini!" tegas Lyn.
"Makasih kamu sudah sangat baik sekali selama ini. Kamu mengutus ibuku, kamu menyetujui untuk mengurus Emran. Kamu wanita yang sangat hebat, tapi perbuatanmu yang malah mengabaikan permintaanku untuk tidak menulis itu nggak bisa aku mengerti. Ulahmu yang lalai ini berakibat fatal. Sekarang Emran jatuh dan untungnya masih baik- baik saja, kalau suatu saat terjadi hal yang lebih buruk dari ini, maka itu jauh lebih fatal." Luth terlihat kesal.
"Iya, aku salah. Aku minta maaf. Aku diam- diam tetap menulis, tapi itu aku lakukan karena terlanjur terikat kontrak. Aku..."
"Sudah!" potong Luth tak mau mendengarkan lebih lanjut. "Kamu membantah perintahku, Lyn. Itu sudah menjadi petunjuk bahwa kamu tidak taat. Kamu takut selamanya akan hidup kekurangan. Sampai- sampai kamu melanggar larangan ku. Kamu nggak mau mendengarkan ku."
"Aya Allah... aku masih bisa perbaiki ini semua. Tolong mengertilah!"
Lyn mengejar, namun kemudian langkahnya terhenti. Bukan hanya perasaannya saja yang sakit, namun juga hatinya terluka. Apakah sesempit ini perasaan Luth untuknya? Apakah Luth tidak bisa melihat ke belakang, sejauh apa pengorbanan dan perjuangan penuh cinta yang dilakukan Lyn untuk kehidupan Luth? Lyn tulus dan ikhlas melakukannya, tak sedikit pun berharap akan mendapatkan imbalan, cukup Allah yang akan membalasnya.
Tidak. Tidak ada maksud Lyn untuk meminta Luth mengungkit jasa yang dia berikan, tapi apakah Luth tidak bisa melihat ketulusannya?
Mengenai menulis, Lyn pun tulus hanya ingin membantu perekonomian yang dibarengi dengan hobi sesuai jurusannya.
Bukan maksud Lyn tidak terima dengan kehidupannya sekarang sehingga ia sampai harus mencari penghasilan, tapi memang ia suka menulis yang ternyata malah diberikan rejeki dari hasil menulis. Ini nilai plus.
Lyn melangkah pelan ke luar rumah sakit. Luth sudah tidak kelihatan di sekitar sana.
Beberapa detik Lyn terdiam di halaman rumah sakit, memukirkan perkataan Luth yang dilontarkan dengan mudahnya. 'Menjauhlah dari Emran! Kamu bebas sekarang! Kamu boleh pergi kalau mau, supaya kamu bebas dari aturan ku yang kamu anggap terlalu mengekang!'
Ya Allah... Nyeri mengingatnya. Kenapa Luth tega mengatakan itu?
Bersambung
Jangan dihujat. Luth juga manusia ðŸ¤ðŸ¤ Pasti ada sesuatu yang membuatnya begitu kan?