
Luth mematikan sakelar air di rumahnya lalu menarik kedua selang itu kembali ke rumahnya, dibantu oleh Lyn. Mereka menggulung selang dan menyimpannya di gudang.
"Liiiiin...!" panggil suara yang bersumber dari rumah Lyn.
Lyn sangat mengenal suara itu, suara Amina, mamanya.
Sontak Lyn dan Luth yang kini sedang berada di rumah Luth itu bertukar pandang.
"Itu mama memanggilku, kalau aku ketahuan ada di rumahmu, pasti mama marah banget," ucap Lyn panik.
"Ya udah, yuk!" Luth menarik pergelangan tangan Lyn, membawa gadis itu keluar dari rumah melalui pintu samping.
Lyn tidak bertanya dia akan dibawa kemana, dia menuruti saja ajakan Luth tanpa protes. Ia tahu, Luth selalu memberikan yang terbaik untuknya. Jadi ia yakin, sekarang pun Luth pasti akan mengajaknya pada hal yang baik pula.
Mereka berhenti untuk mengatur nafas saat sudah jauh dari rumah dan memasuki sebuah gang, keduanya bertukar pandang, lalu terkekeh.
"Kamu basah kuyup begitu," ucap Lyn memperhatikan Luth yang kuyup.
"Kamu juga."
Setelah nafas keduanya sudah sedikit normal, mereka berjalan beriringan, menyusuri jalan.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya Lyn polos.
Luth mengedikkan bahu. Ia kemudian menoleh. "Yang penting tenang. Kamu jauh dari omelan mama kamu. Selesai masalah kan?"
Lyn tersenyum. Manik matanya terus tertuju ke wajah tampan di sisinya. Hidung mancung dipadu bibir tipis itu tampak sangat eksotik. Disaat sedang berjalan berdua begini, rasanya Lyn bahagia sekali.
Luth sedikit minggir saat melihat ada motor yang melintas dari arah depan sana.
"Weleh weleh.. siang-siang pacaran. Cuaca panas begini kok kalian bisa kehujanan?" seru bapak tua yang melintas dan memelankan motor saat berpapasan dengan Lyn dan Luth.
Luth tidak menjawab, ekspresi wajahnya datar. Sedangkan Lyn terkekeh.
"Kami nggak pacaran, Pak," seru Lyn yang merasa ingin menanggapi perkataan si bapak.
"Kalau ada yang komentar tentang kuta, nggak usah ditanggapi," ucap Luth menatap Lyn datar.
Lyn pun mengangguk merasa sudah salah sikap.
Luth mengajak Lyn duduk di taman, mereka makan sate. Lama kelamaan baju mereka pun mengering diterpa angin. Kegiatan itu dulu sering mereka lakukan. Bakso dan sate menjadi langganan mereka saat duduk disana. Sejauh ini, tempat ternyaman untuk keduanya adalah taman kota. Disana tidak ada hama yang mengganggu, seperti sapu terbang, juga tidak ada tatapan Nuh atau pun Alisha yang penuh dengan kecurigaan.
Setelah satu jam berlalu, mereka akhirnya pulang. Mereka kini menginjak lantai teras belakang rumah Luth.
"Mukamu jangan tegang begitu, lempeng aja. Entar dicurigai kalau tegang gitu," ucap Luth.
Lyn sontak mengubah ekspresi wajahnya supaya tetap rileks. "Iya iya."
"Ya udah, pulang sana! Jangan bilang bilang kalau tadi kita pergi berdua."
Lyn mengangguk, kemudian beranjak pergi menuju ke rumahnya.
"Eh, ini kan ponselnya Luth. Tadi dia titipin ke aku. Malah kebawa sampai sini," celetuk Lyn yang tanpa sengaja membawa ponsel milik Luth.
Lyn balik lagi ke rumah Luth, berniat hendak mengembalikan ponsel. Setibanya di rumah Luth, ia langsung masuk melintasi beberapa ruangan. Langkahnya terhenti ketika mendengar perbincangan serius dari sebuah ruangan.
"Jadi Luth membatalkan pernikahannya dengan Afiqa hanya karena ingin menikahi Lyn?" ucap Hud.
Sudah berkumpul seluruh keluarga Alisha di ruangan itu, ada Khadijja, Hud, Alisha dan juga Luth.
"Nggak bisa gitu, aku nggak setuju kalau Luth nikah sama Lyn. Tante Amina itu kan nggak suka sama Luth. Mana mungkin Luth akan direstui jadi menantunya," sambung Hud.
"Luth membatalkan lamarannya dengan Afiqa bukan karena ingin menikahi Lyn. Jangan kaitkan antara Lyn dan Afiqa, mereka nggak ada hubungannya," ucap Alisha. "Afiqa sudah dalam keadaan hamil dan kita nggak tau siapa laki laki yang menghamilinya. Bagaimana mungkin Luth yang harus bertanggung jawab atas kesalahan yang orang lain perbuat?"
"Aku nggak akan menikahi Afiqa. Dia bukan gadis baik-baik seperti yang terlihat," sahut Luth.
Hud tampak kaget, sampai sampai ia terdiam mematung.
Bersambung