DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Backstreet


Seusai berteleponan dengan Amina, Lyn pun kembali duduk bergabung dnegan Luth dan Alisha.  Manik matanya berputar, menatap Luth dan Alisha silih berganti.


“Ada apa, Lyn?  Kok, kamu tiba-tiba kelihatan bingung begitu?” tanya Alisha.


Lyn pura-pura mengubah ekspresi wajahnya yang gugup menjadi lebih rileks dengan tersenyum simpul.  “Anu… Ini tadi mama menelepon. Katanya mama mau pulang.”


Luth melirik dengan alis terangkat.  Ia mengerti dimana letak kebimbangan Lyn, gadis itu pasti takut mamanya memergoki pernikahan itu.


“Aku menikahimu tanpa restu mamamu, bahkan tanpa ijin darinya.  Dan ini udah menjadi pilihan serta komitmen kita,” ucap Luth dengan tenangnya.  “Sekarang semuanya terserah kamu, maumu bagaimana?  Aku akan ikuti.  Kalau kamu maunya aku menghadap mamamu dan mengatakan semuanya, maka aku akan lakukan itu dengan konsekuensi yang sudah kita ketahui endingnya.  Dan kalau…”


“Enggak enggak, aku nggak ingin kamu jujur secepat ini.  aku belum siap,” potong Lyn.  Ia kemudian menatap Alisha, “Bu, ibu kan tahu kalau Lyn dan Luth menikah tanpa sepengetahuan mama.  Lyn minta tolong sama ibu untuk nggak ngomong ke mama soal ini.  bukan maksud Lyn mengajak mama untuk terlibat dalam masalah keluarga Lyn, tapi Lyn hanya belum siap.”


Alisha memegang punggung tangan Lyn, menatap kerutan di kening Lyn yang kian dalam.  “Kamu dan keluargamu udah mengambil keputusan untuk hal yang besar, untuk menyatukan dua keluarga.  Mau nggak mau, keluarga ibu juga pasti akan terlibat.  Meski demikian, masalahmu, sudah menjadi bagian masalah dari putraku.  Maka Luth dan ibu akan dengan tangan terbuka untuk turut menyelesaikan masalahmu.”


Lyn tersenyum.


“Semua hanya tergantung kepadamu, Lyn.  Kapan kamu ingin membuka rahasia pernikahan kita di hadapan mamamu, maka aku akan siap mengatakannya,” ucap Luth.


Lyn tersanjung atas sikap berani yang ditunjukkan oleh Luth.  “Kita perlu waktu yang tepat untuk mengungkap semua ini di hadapan mama.”


“Memangnya kamu nunggu apa?  Nunggu sampai punya anak?” tanya Luth tanpa beban saat menyebut kata ‘punya anak’.  


Lah, bagaimana mau punya anak, disentuh saja belum.


“Nggak gitu juga, nunggu mentalku siap.  Siap dimaki sama mama, siap dimarahin, siap dihujat, dan semuanya,” lirih Lyn yang membayangkan kemungkinan buruk saat mamanya pulang nanti.


“Jangan terlalu dipikirkan.  Nanti kita hadapi sama-sama.  Jalani aja, jangan sampai jadi stress gara-gara mikir terlalu keras,” ucap Luth berusaha menenangkan Lyn.


Mendengar support dari Luth, Lyn pun jadi lega.  Baiklah, ia tidak perlu mencemaskan keadaan, ia hanya perlu menjalani saja, ia yakin akan bisa menghadapi. 


Tepat pukul Sembilan malam, Lyn sudah berada di rumahnya, menyambut mamanya pulang.  Satu jam yang lalu, mamanya mengaku sedang di dalam perjalanan pulang sesaat setelah keluar dari bandara.  


Dengan senyum lebar, Lyn menyambut kedatangan mamaya saat wanita paruh baya itu memasuki rumah.  Nuh di belakangnya menyusul masuk, menarik koper milik istrinya.  Ia tadi menjemput istrinya di bandara.  Sengaja Nuh tidak mengajak Lyn karena ia memberi waktu pada putrinya untuk bisa menghabiskan waktu bersama dnegan suami.


Lyn memeluk mamanya sebentar sesaat setelah menyalaminya.  Amina menunjukkan oleh-oleh yang ia bawa untuk putrinya, pakaian, tas, sepatu dan parfum.  Lyn menunjukkan ekspresi pura-pura bahagia meski sebenarnya letak kebahagiaannya bukan pada barang, melainkan Luth yang mungkin sudah tidur.  Tapi apakah mungkin pria itu sudah tidur?  Lyn malah kepikiran Luth jadinya.  


Setelah bercengkrama menyambut kepulangan sang mama, Lyn pun berpamitan masuk ke kamar di lantai dua.  Ia tidak langsung tidur, melainkan mengecek ponsel, tidak ada pesan masuk.  Padahal ia berharap ada pesan dari Luth, tapi ternyata nihil.  


Duh… Lyn kangen sekali dengan suaminya itu.  Baru sebentar ia berpisah dari Luth, tapi kangennya sampai ke ubun-ubun.  Lyn mengetuk pelipisnya dengan sneyum tipis, merasa menjadi tol*l karena cinta.


Belum mengantuk, Lyn pun berjalan menuju ke balkon.  Kali aja ia bisa melihat wajah tampan suaminya melalui balkon rumahnya.  Harapannya terkabul, ternyata Luth tengah berdiri di teras.  Tumben, pria itu muncul di teras.  Biasanya jam segini Luth sibuk di kamar mengotak-atik angka-angka di laptop dan kertas, tapi kali ini pria itu tampak bengong di teras.


Lyn meyandarkan kedua tangannya di pagar balkon.  Menatap Luth dengan senyum manis.


“Sst…” panggil Lyn berbisik.


Luth mendongak menatap ke sumber suara.  Pria itu mengangkat alis.  “Kenapa?  Kok, belum tidur?” bisik Luth.


“Belum ngantuk,” balas Lyn yang juga berbisik sambil memperagakan kedua tangan yang ditumpuk dan diletakkan di sisi pipi setelah melambaikan tangan sebagai isyarat kata ‘belum’.


“Tidur sana!  besok kuliah kan?” ucap Luth sedikit mengeraskan volume suaranya supaya Lyn mendengarnya.


Lyn mengangguk.  Ia dan Luth sama-sama balik badan, lalu masuk ke dalam.


Beberapa detik saja menatap wajah Luth, sudah lumayan menghilangkan rasa penasaran.  Lyn mengulum senyum sambil membaringkan tubuhnya.  


Tak lama kemudian, sebuah chat masuk ke ponselnya. 


Saat mengetahui ID pengirim, lagi-lagi Lyn tersenyum senang membaca pesan masuk.  


Malam itu, Lyn dan Luth saling berbalas chat. 


Lyn selalu cekikikan setap kali membaca pesan dari suaminya.  Lucu, mereka adalah sepasang suami istri, tapi chat-chatan begini padahal jarak rumah hanya beberapa langkah saja.  Hubungan mereka backstreet, persis seperti orang pacaran, sembunyi-sembunyi di belakang orang tua.


Sampai akhirnya Lyn terpejam, tertidur tanpa membalas chat terakhir dari Luth karena sudah mengantuk berat.


BERSAMBUNG