
Semalaman Lyn tidak bisa tidur. Memikirkan hal konyol yang menjatuhkan nama baiknya. Dan sekarang ia sudah duduk manis di hadapan papanya. Sedangkan Amina sedang keluar bersama ibu-ibu sosialita sejak pagi jam tujuh. Katanya mau arisan sekalian jalan-jalan ke mol.
“Papa tadi pagi-pagi sekali udah bicarakan masalah yang semalam sama Bu Alisha,” jelas Nuh dengan tegas.
Lyn menunduk, diam. Pagi-pagi sudah dihakimi.
“Bu Alisha bilang, kalian memang harus dinikahkan,” tegas Nuh lagi.
Lyn membelalak. Antara kaget dan bingung. Bagaimana mungkin akan dinikahkan? Sedangkan Luth saja barusan melamar Afiqa? Lalu bagaimana kisah cinta Luth dan Afiqa? Entahlah, ia tidak tahu apakah harus senang atau sedih? Senang karena dinikahkan dengan pria yang sangat dia cintai. Sedih karena dinikahkan dengan cara yang tidak sesuai harapan.
“Luth kemarin memang sempat melamar anak gadis orang, tapi kata Bu Alisha lamaran itu sudah dibatalkan. Luth sendiri sudah mengatakannya kepada Bu Alisha mengenai pembatalan lamaran tersebut,” lanjut Nuh.
Aneh, kenapa Lyn malah bahagia mendengar Luth gagal nikah? Apakah karena ia memiliki kesempatan untuk menggantikan posisi sebagai calon istri Luth? Ah, tidak. Bukan itu alasannya. Tapi semata-mata karena pria yang dia cintai sudah lepas dari jebakan.
“Pa, Lyn nggak keberatan kok kalau mesti nikah sama Luth. tapi masalahnya, Lyn dan Luth bener-bener nggak ada hubungan apa-apa. Dan kejadian malam itu…”
“Sudah sudah, jangan terus-terusan membahas itu. papa sudah lihat dengan mata kepala sendiri, mau ngeles bagaimana pun kenyataannya tidak akan berubah.” Nuh melambaikan tangan ke depan wajahnya.
Nah tu kan, Nuh masih saja berpendirian tetap dengan opininya itu. bagaimana caranya Lyn mengubah cara pandang Nuh?
“Papa cemas jika kalian dibiarkan berhubungan terlalu dekat begini,” sambung Nuh. “Ya okelah Luth itu udah bisa dibilang dewasa, sudah bekerja. Lah kamu? Masih ingusan begini. Umur aja masih Sembilan belas tahun, masih kuliah lagi, masih anak-anak. Anak-anak kok bikin anak.”
Lyn terperanjat mendengar pernyataan papanya barusan. Ingin membantah, tapi percuma. Opini papanya sudah tidak bisa dibantah lagi.
“Bisa gawat kalau kalian tidur bareng lagi.” Masih penghakiman yang sama yang dilontarkan Nuh. “Kalau saja Luth yang datang ke kamarmu dan tidur bersamamu, papa pasti sudah pukulin Luth sampai jadi peyek. Tapi ini malah kamu yang mendatangi kamarnya. Bagaimana papa bisa menyalahkan Luth? aduh aduuuh…” Nuh tampak frustasi.
“Mama pasti menolak keras kalau papa nikahin Lyn sama Lyn. Papa kan tau sendiri kalau mama anti banget sama Luth. Mana mungkin mama ridho kalau Lyn nikah sama dia,” ucap Lyn.
“Oh, jadi ceritanya kamu mau menjadikan mamamu sebagai alasan untuk menolak pernikahanmu dengan Luth, begitu?”
“Bukan gitu, Pa. mama kan nggak suka sama Luth. apa mungkin mama merestui Luth jadi suami Lyn?”
“Masalah mamamu, itu urusan papa. Yang jelas, kamu tetap harus menikah dengan Luth. harus!” tegas Nuh tanpa ingin diajak kompromi, ia cemas jika satu-satunya putri cantiknya salah pergaulan. Lebih baik dihalalin dari pada melakukan kegiatan maksiat. Lyn dan Luth hidup bertetangga, akan dengan mudah keduanya bertemu. Dan Nuh tidak ingin kecolongan. Begitulah kekhawatirannya terhadap putri semata wayangnya itu.
“Sekarang, kamu harus dihukum,” tegas Nuh.
“Dihukum?” Lyn mengernyit. Udah kayak anak SD telat masuk kelas, mesti dihukum begitu.
“Penuhi air di bak belakang rumah!” titah Nuh kemudian melenggang pergi.
Bak air? Lyn terdiam. Membayangkan lima belas bak besar yang digunakan untuk wudhu para penghuni kos-kosan milik orang tuanya. hukuman itu sudah pernah ia terima tiga tahun silam, saat ia tak sengaja mendorong Luth hingga akhirnya pria itu terjatuh dari ketinggian, terluka parah.
Mengetahui hal itu, Lyn pun dihukum oleh Nuh waktu itu. Lyn mengangkuti air untuk memenuhi bak. Baru empat bak yang terisi penuh, namun kaki Lyn sudah terasa pegal. Ia pun memilih untuk duduk selonjoran tak jauh dari bak sambil menangis, hukuman itu dianggap sangat berat.
Namun tangisnya berganti dengan senyuman saat ia melihat sisa bak yang seharusnya kosong di depan, sudah penuh oleh air. Dan Luth berdiri di depannya membawa ember. Ia terharu Luth bersedia membantunya, padahal saat itu Luth sedang sakit. Sebenarnya, setiap hari bak itu diisi air melalui keran yang aliran airnya dilakukan dengan tenaga listrik. Cukup pencet sakelar listrik saja, air pun mengucur untuk mengisi baj. Tapi aliran listrik sengaja diputus sementara oleh Nuh saat hukuman sedang berlangsung.
Sekarang, Lyn kembali berdiri di depan bak-bak besar yang siap diisi dengan air. Hatinya sudah lelah duluan. Apes.
TBC