DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Ruang Cinta


Sudah beberapa minggu terakhir, semuanya terasa berbeda bagi Lyn. Ia harus melewati hari tanpa menginjakkan kakinya di rumahnya sendiri.


Saat ini, Lyn hanya merasa sedikit berbeda saat tidak bisa menatap Amina. Sebab kesehariannya, ia terbiasa menatap wajah mamanya meski dalam satu hari hanya bisa menatap sedetik saja. Ya, rasanya ada yang kurang. Dia rindu, rindu pada wajah Amina.


Setidaknya, sedetik saja ia bisa menatap wajah Amina, atau sekedar melihat mamanya baik-baik saja, maka ia sudah tenang.


Apakah begini rasanya saat harus jauh dari seorang ibu? Ia sadar, selama ini ibunya tidak menyayanginya seperti ibu kandung lainnya yang kerap memberi waktu pada sang anak, sering marah, bahkan lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-teman sosialitanya tanpa ingin membagi waktu untuk anak.


Namun bagi Lyn, Amina tetaplah sosok ibu yang dia cintai. Hatinya berkata begitu. Ada ruang cinta yang tak terukur khusus untuk sang mama.


Tapi tak masalah baginya, sebab memang sudah sepatutnya ia ikut dengan suami, dimana pun tempat tinggal yang dipilih suami, maka ia wajib menerima selagi itu baik. Lyn hanya butuh waktu untuk beradaptasi. Menyesuaikan diri jauh dari Amina meski sebenarnya jarak mereka tidak jauh.


Mungkin inilah yang dirasakan oleh dua kakak laki-lakinya saat pertama kali hidup berumah tangga dan memiliki rumah sendiri hingga jauh dari Amina, rasanya ada sesuatu yang hilang, rindu, juga sedih karena tidak lagi bisa menatap wajah sang mama setiap hari.


Inilah jawabannya kenapa kedua kakak laki-lakinya itu kerap kali video call pada Amina, juga pada Lyn. Ikatan batin seorang saudara itu kental, silaturahmi pun terjalin sangat baik.


Padahal Lyn dan kedua kakaknya sangat mengenal Amina, sosok yang garang, galak, kejam dan tidak begitu sayang pada anak-anak, bahkan tidak hanya sekali dua kali Amina memaki jika anak-anaknya melakukan kesalahan, tapi entah kenapa Lyn dan kedua kakaknya memiliki hati yang begitu suci dalam menjaga rasa cinta dan baktinya pada orang tua.


Bukan hanya Aldeva dan Arga saja yang kerap kali video call jika sudah dua minggu mereka tidak pulang menjenguk Amina, melainkan istri mereka juga sering kali video call ke ponsel Amina, juga ke ponsel Nuh saat dulu Nuh masih ada.


Dulu, setiap hari Lyn mesti harus berdiri di balkon rumahnya atau pura-pura menyiram bunga di taman hanya demi bisa mengintip wajah pujaan hatinya, Luth. sekarang sebaliknya, ia mesti harus berdiri di balik jendela hanya untuk mengintip dan melihat Amina.


Bagi Lyn, rasanya bahagia bisa menjalani hari-hari pernikahannya dengan Luth, apa lagi Luth yang dulunya galak, kini menjadi romantis dan bucin berkelas.


Setiap bangun tidur tidak pernah lupa mencium bibir Lyn. Mereka juga selalu mencuci baju berdua, menjemur pakaian berdua, memasak pun berduaan.


Dan yang paling asik, kalau sudah berada di kamar mandi menyikat pakaian, maka mereka akan menghabiskan waktu sangat lama. Sebab keduanya duduk saling menempel, bergurau, berciuman, dan mengobrol.


Seharusnya mencuci baju menghabiskan waktu hanya tiga puluh menit saja, namun bisa menjadi dua jam jika mereka sudah berduaan begitu di kamar mandi luar dekat dapur. Sebab kamar mandi di sana luas, mereka bisa bebas mencuci pakaian berdua. Pokoknya romantis tingkat dewa. Sedangkan mesin cuci hanya digunakan untuk pakaian yang lembut saja.


Alisha ikut tersenyum setiap kali mendengar tawa ceria di kamar mandi Bahagia sekali melihat kebahagiaan putranya.


TBC