DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Terkepung


“Tunggu, Lyn.”  Luth mengejar Lyn hingga sampai keluar ruangan.


“Aku tahu aku salah.  Aku sudah membangkang, membantah dan menjadi istri durhaka karena nggak mau menuruti perkataanmu.  Kalau kamu meminta aku menjauh dari Emran dan ibu kamu supaya mereka nggak celaka karena kelalaianku, aku ikhlas.  Aku akan menjauh.  Itu aku lakukan karena aku memnuhi permintaanmu.  Karena aku nggak mau dicap sebagai istri durhaka untuk kedua kalinya,” jawab Lyn dengan tenang.  Ia terus melangkah.


Sedangkan Luth terus mengiringi langkah Lyn.  


“Aku nggak bilang begitu, Lyn.  Aku nggak bilang kamu itu durhaka.”


“Secara nggak langsung kamu mengungkapkan bahwa aku istri pembangkang.  Aku sampai harus diperintahkan supaya menjauh dari Emran.  Baik, aku lakukan itu.  demi mematuhi kemauanmu,” ucap Lyn dengan lembut.  Tanpa emosi.


“Cukup, Lyn!”  Luth menghadang langkah Lyn.  “Aku tau kamu marah.  Tapi ijinkan aku bicara.  Aku minta maaf karena aku terlalu kaku dan memojokkanmu, aku hanya sedang terintimidasi oleh keadaan.  Aku khilaf.  Tapi aku menyadari semua itu keliru.  Benar apa kata ibu, bahwa aku menuntut supaya kamu menerima aku apa adanya.  Supaya kamu menjalani kehidupan di garis kesederhanaan.  Dan kamu sudah membuktikan bahwa kamu tulus, ikhlas dan ridha menerima keadaanku.  Tapi kenapa aku tidak bisa memahami mu?  Pengorbanan dan ketulusanmu selama ini sudah cukup menjadi jawaban, bahwa kamu adalah istri yang seharusnya dimuliakan.”  Luth menatap wajah istrinya intens.  Ia mengulang kata- kata yang diucapkan oleh ibunya.


Demikian Lyn yang membalas tatapan Luth.


Kembali Luth mengenang ucapan ibunya, lalu ia pun berkata, “Aku seharusnya sadar bahwa aku beruntung memiliki istri sekuat, setegar dan semulia kamu, yang mampu memahamiku dengan sepenuh hati, yang selalu mendampingiku dalam susah dan senang.  Aku hanya perlu menyingkirkan rasa rendah diri dalam diriku.  Kemana aku akan mencari wanita semulia kamu?  Yang rela mengurus mertua, rela menerima keputusanku meski itu membuatmu menderita.  Kamu nggak pernah mengeluh, kamu nggak pernah minder.  Bukan karena hal sepele itu lantas kamu terlihat sebagai istri yang sangat durhaka.”


Lyn masih diam.


“Semua ini masih bisa diperbaiki kan?” tanya Luth.


Lyn menarik napas.  Mudah saja baginya untuk memaafkan Luth.  sebab memang itus udah menjadi kewajibannya.  Tapi meski lidahnya memaafkan, luka di hatinya masih terasa.  


“Kamu nggak mau memaafkanku?” tanya Luth dengan tatapan penuh harapan.


Lyn tergugu.  Lidahnya kaku dan sulit bicara.


Tiba- tiba Lyn terkejut saat tubuh Luth mendadak bersimpuh di hadapannya, satu lutut pria itu menjadi penopang tubuh.  Kaki lainnya terlipat dengan alas kaki menapak di lantai.


Kemudian tangan kanan Luth menengadah, persis seperti seseorang sedang meminta sesuatu.


“Maafkan aku!  Kamu mau kan memaafkan aku?  Kamu mau kan menerima aku sebagai suamimu dan memulai semuanya dari awal?” Luth menatap Lyn penuh harapan.


“Trima trima trima…”


Suara koor dari sekitar membuat Lyn terkejut dan menatap ke sekeliling.


Loh?  Sejak kapan ada banyak orang di sekitarnya sana?  Lyn baru menyadari bahwa di sekitarnya ada banyak orang yang menonton.  Mereka adalah pegawai di kantor itu.  Muka Lyn seketika memanas.  


Sedangkan Luth tampak tak peduli dengan pandangan semua orang.  dia tampak pe de dengan sikap konyolnya itu.


“Nggak nyangka Pak Ganteng ternyata udah punya istri.”


“Iya, bos kita yang muda dan ganteng itu ternyata bukan single lagi.”


“Patah hati berjamaah lah kita ini.”


“Istrinya cantik.  Mereka serasi sih.”


“Itu kan figure yang mau di endorse?”


“Iya.  Bukan main, suaminya jadiin istri sebagai bintang promo produknya.  Kerja sama yang baik.”


Mendengar perbincangan di sekitarnya, Lyn pun balik badan.  Malu.  Ia memilih untuk kabur saja.  Sayangnya di depan sana ternyata juga ada banyak pegawai yang berkerumun, menjadi penonton.


Waduh! Lyn terkepung. bagaimana bisa kabur?


Bersambung