DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Kikuk Sekali


Alisha langsung melakukan video call ke nomer Hud.


Tak lama Hud pun menjawab panggilan Alisha, wajah pria itu muncul di layar ponsel. Senyum Alisha terurai melihat wajah putranya.


“Hud, apa kabar, Nak? Kamu baik-baik, kan?” tanya Alisha sambil melambaikan tangan ke depan kamera.


“Baik, Bu. Ibu baik juga, kan? Jaga kesehatan ya, Bu!” sahut Hud di seberang. Pria itu tampak sedang duduk santai di kursi ayunan depan rumahnya yang mewah.


“Hud, kamu tau nggak, ibu sekarang sama siapa? Nih, adik ipar kamu, loh,” ucap Alisha sambil mendekatkan ponsel ke wajah Lyn yang duduk di sisinya.


Hud tersenyum menatap wajah Lyn yang tampil di kamera. “Hai, Lyn! Selamat ya!”


“Makasih, Mas Hud!” jawab Lyn tersenyum tipis.


“Kok, kamu baru ngucapin selamat sekarang sih? Kamu kemana aja? Kenapa nggak datang ke acara nikahan adikmu? Kasihan Luth, dia menikah tanpa disaksikan oleh orang-orang terdekatnya. Khadijja juga nggak datang,” ucap Alisha.


“Maaf, Bu. Aku bener-bener terjebak macet tadi. Akhirnya aku putar haluan, dan Yesa, istriku katanya sakit perut, minta diantarain ke rumah sakit. Dia kan sedang hamil, takut kenapa-napa. Jadi aku langsung balik lagi ke rumah, ngantarin Yesa ke rumah sakit,” jawab Hud.


“Trus gimana kondisi kehamilan istrimu? Baik-baik aja, kan?”


“Baik, Bu. Syukurlah nggak terjadi apa-apa,” jawab Hud.


“Mas Hud, aku udah siap nih, ayo antarin aku belanja ke mol,” seru Yesa yang suaranya terdengar jelas.


“Ya udah, Bu. Besok sambung lagi ya! aku mau antarin Yesa pergi,” ucap Hud tampak buru-buru turun dari kursi ayunannya.


“Mas, buruan! Jangan bikin aku kelamaan nunggu di mobil!” Suara Yesa terdengar lantang dan tinggi, tak mau menunggu terlalu lama.


Belum sempat Alisha mengucap salam, sambungan telepon sudah dimatikan. Raut kecewa tampak jelas di wajah Alisha. Bukan kecewa karena telepon dimatikan secara mendadak, namun lebih kepada sikap Hud yang tidak bisa tegas poada istrinya. Selalu menuruti istri, bahkan tidak hadir di acra pernikahan Luth juga karena istri. Setelah menikah dengan Hud, Yesa tidak pernah mau mengunjungi mertuanya. Hud selalu datang ke rumah sendirian, itu pun bisa dihitung dnegan jari. Dia seperti sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan istri setiap kali datang menjenguk Alisha.


“Bu, mau minum apa? Biar Lyn buatin!” ucap Lyn yang sengaja mengalihkan perhatian Alisha.


Sontak Alisha menoleh, menatap wajah Lyn yang seketika mampu membuatnya tersenyum.


“Nggak usah, ibu nggak haus. O ya, Luth kemana ya? kok, sampai jam segini nggak pulang-pulang?” Alisha melongok ke arah jendela, tak ada tanda-tanda kemunculan Luth.


“Beres-beres rumah udah selesai siang jam dua tadi, kok. Tapi Luth kok nggak pulang-pulang. Kemana dia?” Alisha tampak mengernyit. “Lyn, ini kan malam pertama kamu, seharusnya Luth ada di rumah nemenin kamu.”


Muka Lyn sontak memanas mendengar ibu mertuanya menyebut kata ‘malam pertama’. Jantungnya kok rasanya berlarian?


“Bu, kita makan martabak aja yuk keluar.” Lyn berusaha mengalihkan pembicaraan. Membicarakan malam pertama rasanya bikin kikuk.


“Martabak? Kemana?”


“Di simpang sana kan ada yang jual martabak. Enak loh, warungnya baru buka.”


“Tapi ibu udah kenyang. Ngemil dodol tadi. Besok aja ya.”


“Ya udah, deh.”


Tak lama terdengar derap langkah kaki di teras, kemudian pintu terbuka dan sosok pria menyembul masuk, tak lain Luth.


“Luth, kamu dari mana aja? Kok, baru pulang? Kirain tadi Cuma beres-beres di rumah Lyn aja, ini kok pulang sampai jam segini?” tanya Alisha.


Pria berbadan gagah itu menoleh sekilas ke arah Alisha. “Ngantarin temen pulang ke rumahnya.”


“Temenmu yang ikut menyaksikan pernikahan kalian tadi? Si Zul, teman kerjamu itu?”


“Iya. Aku mau mandi dulu.” Luth bergegas masuk ke kamar, melintasi Lyn tanpa menoleh ke arah gadis itu.


Justru Lyn yang melirik ke arah Luth yang melintasinya. Cuek sekali dia.


“Ya udah kamu nyusul ke kamar gih! Suamimu mau mandi, kamu siapin aja baju gantinya. Ada baju tidur yang baru ibu belikan di lemari paling atas, suruh aja Luth pakai baju baru itu. hadiah dari ibu untuk dia.”


Ly mengangguk kikuk. “Aku mau buatin teh hijau aja dulu buat Luth. dia kan suka minum teh hijau,” ucap Lyn sambil beranjak menuju dapur.


TBC