DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Menipis


Bahkan sekarang, Lyn pun pergi ke pasar berduaan dengan Luth. Gadis itu menenteng keranjang belanjaan, berkeliling pasar ditemani oleh Luth.


Sedangkan Luth setia mengikuti Lyn berbelanja, kedua tangannya bahkan sudah penuh dengan tentengan kantong berisi sayur mayur yang dibelanjain oleh Lyn.


“Sosis goreng sosis goreng… Murah murah…”


“Seribu satu, seribu satu… Lezat manis nikmat.”


“Murah saja, Buk, Pak, Om, tante, Dek. Beli satu, gratis satu. Bisa kredit satu menit saja.”


“Di sana murah, disini meriah. Maka saya kasih gratis gratis. Silakan diambil, gratis saja. Selangkah dari sini, bayar ya bu ibu!”


Penjaja makanan pun bersahut-sahutan. Beginilah suasananya jika memasuki pasar rakyat, ramai, berdesakan dan semua mulut bersuara. Sampai-sampai tidak tahu mana yang akan didengarkan.


“Ada sosis goreng,” celetuk Lyn.


“Kamu mau?” tanya Luth.


“Mau.” Senyum Lyn tercetak lebar. Riang sekali.


Luth terkesima menatap senyum di wajah Lyn. Gadis itu sudah kelihatan bahagia sekali meski hanya sekedar melihat sosis goreng saja. Inilah yang dikatakan bahagia itu sederhana.


“Kamu yakin mau beli sosis di tempat begini?” Luth selama ini memang mengajarkan Lyn beradaptasi dengan kehidupan sederhana, sedikit bersusah payah, namun bukan berarti soal makanan pun mesti harus semuanya beradaptasi.


Jika dulunya Lyn kerap kali makan sosis di restoran, kafe atau minimal minimarket kemasan, namun bukan berarti sekarang Lyn juga harus beradaptasi dengan situasi seperti ini.


“Yakinlah,” jawab Lyn bersemangat, senyumnya membuat matanya menyipit.


“Apa nggak meragukan tingkat higienisnya?”


“Enggak. Aku lihat tempatnya bersih, kok. Yuk!” Lyn menarik lengan Luth, membuat pria itu mengikuti Lyn memasuki area penjualan sosis.


“Siap, Neng,” jawab penjual. Ia menggoreng sosis sambil melirik ke arah tangan Luth. “Masyaa Allah… Setia bener suaminya nemenin istri belanja, noh barang belanjaannya sampai dibawain lagi. Jarang-jarang ada suami yang begini. Kebanyakan laki kan pada gengsi jalan di pasar, apa lagi nenteng belanjaan.”


Sontak Lyn menoleh ke arah Luth di belakangnya. Pria itu hanya mengangkat alis, tanpa sedikit pun merasa canggung. Dia hepi, lalu kenapa mesti canggung?


Luth merogoh uang dari dalam kantong, lalu meletakkannya ke atas meja. Membiarkan Lyn yang mengambil sosis goreng dalam kantong. Lalu mereka beranjak pergi.


“Eh, wortel sama kentang belum kebeli, loh.” Lyn menghentikan langkah saat menyadari ada yang belum dibeli.


Perasaan Luth mulai tidak nyaman, ia sudah tidak memiliki uang lagi. Besok baru gajian. Uang sepuluh ribu yang dia berikan kepada tukang sosis goreng tadi adalah lembaran terakhir di kantongnya.


Sedangkan Luth meyakini bahwa uang yang dia berikan kepada Lyn tadi pagi untuk belanja ke pasar tentunya sudah habis, jumlah belanjaan saja sudah segini banyaknya. Lalu bagaimana kalau Lyn minta uang lagi? mau dotarok mana mukanya?


“Tapi aku udah kehabisan uang. Ini tinggal dua ribu.” Lyn memperlihatkan selembar uang dua ribuan.


Luth mengulum senyum. “Masak kita mesti balik lagi ke dalam sana sih? Maleslah. Pulang aja, yuk.”


“Tapi aku mau bikin sup kentang campur ayam,” jawab Lyn. “Kentangnya malah nggak kebeli.”


“Yaudah, kan bisa bikin menu yang lain aja.” Luth menggandeng tangan Lyn keluar area pasar.


Yang digandeng pasrah mengikuti. Padahal Lyn sedang sangat menginginkan sup kentang, tapi ya sudahlah, ia menuruti Luth saja. Lain kali masih ada waktu untuk membuat sup kentang.


Di perjalanan, Lyn membonceng motor yang dikendarai Luth dengan posisi kedua tangan memegangi pinggang Luth, kali ini pegangannya sedikit lebih melingkar di pinggang pria itu. barang belanjaannya diletakkan di depan.


Sayangnya helm di kepalanya sangat mengganggu, sehingga ia tidak bisa meletakkan kepalanya ke caruk leher Luth. permukaan badannya menempel sempurna di punggung Luth. di posisi begini, perasaan Lyn bahagia sekali.


Dan saat motor melintasi di depan rumah Amina, Lyn menegakkan punggung, pandangannya terus tertuju ke arah rumah itu, berharap bisa menatap wajah amina walau hanya sedetik saja, mengurangi rasa rindunya pada sang mama. Sayangnya ia tidak melihat apa pun, batang hidung Amina tidak kelihatan.


TBC