
Luth sudah berdiri di teras rumah Hud, menggendong Emran. Ia melangkah hendak masuk sesaat setelah Yesa membukakan pintu untuknya.
“Eit, tunggu dulu!” Yesa menahan dengan cara merentangkan tangannya di pintu, menghalangi Luth melewati pintu. “Kamu mau ngapain? Bawa si Emran kemari lagi. jangan bilang mau nyuruh aku merawat bayi ini.”
Luth menatap Yesa jengah. “Bisakah Mbak Yesa berpikiran positif? Jangan biasakan mikir negatif mulu. Bisa cepat stroke.”
“Lah, trus kamu mau ngapain ke sini membawa bayi itu? kedatangan kamu ke sini pasti Cuma buat nyusahin Mas Hud. Yang minta duitlah, minta bantuanlah, minta apalah. Capek aku dengarnya. Jangan bikin aku stress dengan urusan gila kalian deh.”
“Berhenti bicara! Atau aku bisa memukulmu! Mbak sopan, aku pun sopan. Aku dan Mas Hud itu bersaudara. Wajar aku bersilaturahmi. Jangan putus tali silaturahmi antara kami!” tegas Luth kemudian melangkah masuk.
Melihat kemarahan Luth, Yesa tak berkutik. Ia pun melengos masuk.
“Mas Hud!” panggil Luth.
Hud pun menyembul keluar. Pria itu mengenakan piyama tidur. “Loh, ada apa Lut? Malam- malam begini kamu kemari, bawa Emran lagi? Memangnya lyn kemana?”
Luth meletakkan Emran ke sofa, kedua tangannya memegangi tubuh bayi yang tidur itu. Ia menatap Hud. Ia ingat beberapa minggu akhir- akhir ini Luth sering mampir ke rumah Hud, ia mendapat banyak masukan dari Hud mengenai kondisi rumah tangganya.
“Luth, kamu itu kan laki- laki. Maka kamu yang berhak sepenuhnya atas nafkah. Jangan karena istrimu itu orang kaya, lantas kamu dihidupi olehnya. Jaga harga dirimu! Laki- laki yang hidupnya dibiayai istri itu sama dengan laki- laki yang harga dirinya jatuh.” Itulah perkataan Hud tempo hari.
“Aku tahu bahwa kewajiban mencari nafkah memang hanya dibebankan kepada laki- laki, perempuan tidak ada tanggung jawab sama sekali dalam hal itu,” jawab Luth waktu itu.
“Nah, kamu tau itu. jangan bebankan Lyn untuk membantumu mencari nafkah, kasian dia, kasian juga harga dirimu. Laki- laki itu mesti menjaga harga diri dengan tidak merendahkan dirinya. Memakan uang istri sama saja seperti merendahkan diri karena menganggap diri sendiri tidak mampu. Mas dulu juga begitu. Nggak mau menyusahkan Yesa sebagai istri Mas meski Mas ini berasa dari orang susah sedangkan Yesa dari kalangan cukup. Lihatlah sekarang, Mas berhasil membuat perekonomian rumah tangga Mas menjadi lebih baik. Itu karena Mas menghargai perempuan.” Hud mengelus lengan Luth dan tersenyum.
“Aku nggak pernah membebankan Lyn dalam hal keuangan. Lyn pun memang nggak pernah membantu perekonomian aku, Mas. Bukan karena dia nggak mau, tapi keadaan yang memaksa. Dia kan sudah diusir dari rumah dan dia nggak punya apa- apa sekarang. Oh ya, dia pernah membiayai operasi ibu. Seharusnya kita yang membayarnya kan? Tapi dia yang melakukannya.” Luth mengenang.
Ekspresi wajah Hud sedikit berubah. Tampak minder.
Mengingat pembicaraan itu, Luth menghela napas panjang. Ia menatap Hud, lalu berkata, “Begini Mas, aku ingin pinjam asisten rumah tangga Mas sehari saja. Menjelang aku mendapatkan baby sitter yang baru untuk Emran.”
“Memangnya Lyn kenapa? Apa dia keberatan mengurus Emran? Kalau memang keberatan, kenapa dia setuju mengurus bayi itu?” sahut Yesa yang sejak tadi mengawasi Luth. ia langsung nyerocos panjang lebar karena tak rela jika pembantunya dipinjam.
“Lyn mesti membagi waktu untuk ini. Dia kelelahan dan nggak enak badan.” Luth tak mau membuka masalah rumah tangganya. Lebih baik ia berkata demikian.
Ya ampun, bisakah Yesa tidak menyahut sebentar saja?
“Ya sudah, soal pembantu, besok akan mas kirim ke rumah kamu. Malam ini belum bisa karena dia juga sudah pulang. Dia nggak menginap soalnya,” ucap Hud mengalihkan pembicaraan dari perkataan istrinya yang sejak tadi ketus.
“Tapi ingat Luth, kamu mesti bayar gaji pembantu yang sehari itu ya, aku potong bayaran untuk pembantuku dan kamu yang bayar kekurangannya. Soalnya kan aku harus kerja sendiri sehari itu. aku nggak mau repot.” Yesa terus merutuk.
“Yesa, kita akan beli makan di luar saja saat Luth memakai jasa pembantu kita. Biarlah Luth pinjam pembantu kita sehari saja, kamu nggak akan disibukkan dengan pekerjaan rumah,” ucap Hud lembut. Tak ingin Luth melihat keketusan Yesa.
“Loh, memangnya kita nggak cuci baju? Nyapu, ngepel, dan semuanya? Siapa yang beresin rumah? Aku kan?” sambung Yesa. “Ya aku nggak maulah kerjaan pembantu malah dikerjain sama aku.”
Dia tidak inga, bahwa sebelum ada pembantu, dialah yang mengerjakan pekerjaan rumah.
“Ya sudah, nanti kita kerjakan sama- sama untuk urusan itu. Sehari saja kok, kasian Emran,” sahut Hud.
“Halah, ngerepotin terus.” Yesa semakin kesal. Lidahnya pedas sekali kalau bicara.
Luth malah mengulum senyum, senang melihat Yesa kesal. “Simpan dulu kekesalanmu, Mbak. Mau mbak senang atau enggak, aku akan tetap pinjam pembantu Mbak. Mas Hud kan sudah mengijinkan.”
Yesa memalingkan wajah, kemudian beranjak pergi sambil mengomel. “Mas Hud, lain kali kalau bikin rumah yang agak jauhan dari keluargamu. Keluargamu bisanya Cuma nyusahin aja.”
“Udah, jangan ambil hati,” bisik Hud sepeninggalan Yesa. “
Luth mengedikkan bahu tak peduli.
Malam ini kamu jagain Emran dulu ya, besok pembantuku baru akan datang.,” ucap Hud.
“Ya sudah, aku pergi dulu.” Luth berlalu pergi membawa Emran.
***
Bersambung