
Mulai hari itu, Lyn tampak disibukkan dengan kegiatannya yang asik menulis baik di story mau pun di postingannya.
Malam hari, saat Luth sudah dalam keadaan tertidur, Lyn tampak duduk di kasur sisi Luth bersandarkan board tempat tidur sambil mengetik di hape. Kakinya berselimutkan kain, sedangkan Luth tampak tertidur miring memeluk kaki Lyn.
"Lyn, jangan seperti orang- orang di luaran sana yang malah dihinakan dengan kesibukannya main hape, sehingga lalailah zikir di hatinya hanya karena kesibukannya dengan hape," ucap Luth yang terjaga tepat pukul sebelas malam dan ia melihat Lyn masih tampak sibuk dengan hape nya.
Terkesiap mendengar perkataan Luth, Lyn pun langsung meletakkan hape. Merebahkan tubuh. Menyelinap masuk ke dalam selimut.
Astaghfirullah... Lyn beristighfar. Maaf, jika ia terlihat lalai di mata suami. Padahal tadi Lyn tengah menulis dan memposting tulisannya yang lebih mirip seperti novel ke sosial medianya.
Bahkan ada peluang baik dari postingannya itu, sehingga ia terlihat disibukkan dengan hape, bukan berarti ia tengah main game atau melakukan hal yang tidak bermanfaat dengan hape nya.
Sekiranya kegiatan yang dia lakukan itu lebih banyak mudharatnya, tentu ia tidak akan melakukannya. Sungguh yang dia lakukan tadi adalah sebuah pekerjaan halal.
"Lith, aku bukan main game atau terperdaya dengan hape, tapi aku tuh..."
"Mencoba untuk hobi dengan kesibukan sosial media, begitu?" potong Luth.
Lyn terdiam melihat ekspresi wajah Luth yang tidak nyaman. Mereka di posisi miring berhadapan.
"Kamu nggak suka?" tanya Lyn.
"Sosial media itu hanya akan membuat kamu lalai, lengah, dan asik dengan membaca komentar mereka. Lepaskanlah itu!"
Lyn tak dapat berkata- kata lagi. Ia pun memejamkan mata.
"Udah ngantuk?" bisik Luth.
"Belum."
"Kok, merem?"
"Yaa...mencoba untuk bobok."
"Boleh aku ngomong?"
"Soal apa?" tanya Lyn yang langsung membuka matanya.
"Soal anak dari Afiqa."
Lyn baru ingat kalau ia memiliki satu tugas, yaitu merawat anak Afiqa apa bila bayi itu terlahir ke dunia. Hatinya mengucap satu niat, lilahita'ala. Semua karena Allah, berharap apa yang dia lakukan akan mendapat ganjaran dari Allah, termasuk merawat dan membesarkan sosok bayi yang nyawanya terancam.
"Oh.. Apakah Afiqa udah mau lahiran?" tanya Lyn.
"Loh, kok di puskesmas? Kenapa nggak di rumah sakit aja?" kejut Lyn.
"Nggak ada biaya. Orang tuanya kan nggak mau biayain."
"Jadi? Udah lahiran apa belum?" tanya Lyn.
Luth mengedikkan bahu.
"Dia nggak ngabarin ke aku soal ini," ucap Lyn lagi.
"Enggak mungkin dia ngabarin ke kamu. Soalnya hape nya disita ibunya. Aku ketemu di jalan tadi."
"Ya udah, kita ke sana, yuk. Kita lihat bayinya udah lahir apa belum?" ajak Lyn dengan ekspresi cemas
Melihat Lyn yang malah tampak khawatir, Luth pun tertegun dan hanya terdiam. Bagaimana bisa Lyn malah kelihatan sangat peduli terhadap anaknya Afiqa?
"Bayinya Afiqa itu butuh kita, kan? Yuk, kita ke sana!" Lyn bangkit bangun, menyibakkan selimut dan mengganti pakaian.
"Kamu yakin?" Luth melihat jam. "Ini udah malam."
Lyn terbayang saat Afiqa melahirkan sendirian tanpa dampingan siapa pun. itu pasti menyedihkan.
"Ya idah kita ke sana sekarang, ini demi hati nurani." Lyn menganggukkan kapala.
Luth akhirnya menyetujui permintaan istrinya. Ia pun mengganti pakaian dan melangkah keluar, mengeluarkan mobil dari garasi.
Mobil melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang.
"O ya, akhir- akhir ini kamu sering pulang malam, sebenarnya ada tambahan kerjaan atau apa?" tanya Lyn yang melihat Luth kerap pulang larut. Termasuk tadi.
"Mm... Iya. Aku ada banyak kerjaan tambahan."
"Setiap hari?"
Luth memutar mata. "Doain aku nggak lemburan terus ya! Biar cepet pulang!"
Bukan itu yang Lyn ingin dengarkan dari mulut Luth, dia hanya ingin tahu apakah harus lembur setiap malam? Dan anehnya gaji Luth tidak nambah, tetap sama seperti biasanya. lalau lembur apa?
Bersambung