
Kedua kakaknya harus mengetahui kondisi sang ibu, Hud dan Khadijja. Pertama-tama Luth menelepon Hud, putra sulung Alisha yang notabene menjadi pengganti ayah setelah ayah tiada. Putra sulung yang memiliki tanggung jawab pada ibu.
"Mas Hud, ayo angkat!" panik Luth sambil mondar mandir.
Sudah beberapa kali ditelepon, namun Hud tidak juga menjawab telepon. Luth kembali mengulang panggilan. Di detik ke dua puluh setelah melakukan panggilan, telepon pun dijawab.
"Mas Hud, ibu sakit, Mas. Datang ke RSUD Cempaka sekarang." Suara Luth bergetar.
"Ini Luth ya?" Suara wanita menyahut di seberang. "Aku ini Yesa, istrinya Mas Hud."
"Bisakah ponselnya diberikan ke Mas Hud? Aku mau bicara, ini darurat," ucap Luth.
"Mas Hud lagi mandi," balas Yesa dengan suara tidak bersahabat.
"Siapa, dik?" Sayup-sayup terdengar suara Hud mendekati Yesa, pria itu sudah selesai mandi.
Luth jelas mendengar suara Hud.
Yesa tidak mempedulikan suaminya. Ia mengangkat tangan pada Hud supaya Hud tidak banyak bicara.
"Kamu bilang ibumu sakit?" sambung Yesa dengan suara meninggi. "Trus kenapa menelepon ke sini? Kalau sakit ya telepon dokterlah. Bawa ke rumah sakit."
Mendengar perkataan Yesa yang tanpa etika, dada Luth rasanya panas. Jika saja Yesa berkata demikian untuk menyeletuki Luth, mungkin Luth akan terima, tapi ini ibunya.
"Berhati-hatilah saat bicara, Mbak Yesa. Yang sedang kau bicarakan ini adalah seorang ibu, mertuamu. Ibu sakit keras, masuk rumah sakit karena batu ginjal dan sudah harus tahap operasi," sambung Luth sedikit berteriak karena kesal.
"Lalu, tujuanmu memberi kabar kemari apa? Mau minta uang? Ingat ya Luth, Mas Hud ini udah nikah sama aku, maka uangnya adalah uangku. Kalian nggak ada hak apa pun untuk itu. Dan satu lagi, masih ingat kan saat dulu Mas Hud kasih uang ke ibu sebanyak empat juta? Itu lusa dibalikin loh! Itu bentuknya pinjaman, jangan dikira gratis aja," celetuk Yesa dengan nada tinggi.
"Ah, ini nih yang bikin aku jadi risih setiap kali kamu atau pun ibumu menelepon kemari, bawaannya cuma mau ngerepotin mulu," sambung Yesa kesal. "Yang minta uanglah, minta dijenguklah, minta apalah. Emangnya ngejengukin ibumu kesitu nggak pakai biaya?"
"Diamlah! Aku hanya ingin bicara dengan Mas Hud, bukan denganmu!" gertak Luth yang merasa muak mendengar lidah pahit Yesa. Percuma menjelaskan panjang lebar, wanita berhati iblis yang sangat kikir, bakhil dan pelit itu tidak akan mungkin bisa mengerti semudah membalikkan telapak tangan.
"Nih Mas, adikmu yang kerjaannya minta itu mau ngomong sama kamu. Aku juga butuh uang, mau spa, beli tas model terbaru juga! Awas ya kalau kamu sibuk ngurusin ibumu itu!" ancam Yesa pada Hud.
Ponsel berpindah tangan. Hud menyahut di seberang dengan suara agak gemetar, "Ada apa Luth?"
"Ibu sakit keras, kena batu ginjal dan sudah akut, harus segera dioperasi. Datanglah kemari menjenguk ibu. Ibu butuh mas juga," ucap Luth.
"Mmm... em... Gimana ya, Luth? Aduh, Mas mau nganterin istri mas periksa kandungan juga soalnya. Jadi nggak bisa kesitu." Suara Hud semakin terdengar bergetar. "Lagi pula Mas sedang banyak pengeluaran saat ini. Maaf ya. Kamu utus ibu aja dulu. Pinjam uang atau gimanalah. O ya, itu istrimu kan banyak uang. Bisa minta tolong ke dia juga kan?"
"Jangan libatkan Lyn, dia hanya menantu disini. Mas lah yang justru memiliki kewajiban besar dalam hal ini, yang sakit itu ibu Mas. Kalau memang Mas nggak mau mengeluarkan biaya untuk ibu, minimal jenguklah ibu kemari. Ibu akan senang saat mas menjenguk dan melihatnya. Tunjukkan perhatian mas ke ibu." geram Luth. "Lyn diusir oleh mamanya dan dia nggak memiliki apa pun sekarang, jangan berharap sama Lyn, Mas."
"Halah, udahlah, Mas. Kelamaan ngomong sama adikmu itu. Bikin pusing!" Suara Yesa terdengar memekik di belakang sana.
"Ya udahlah Luth, kamu usahakan aja gimana caranya. Kan bisa pinjam pinjam uang di kantormu," ucap Hud.
Sambungan telepon diputus.
Saat itu juga kekesalan Luth memuncak. Ingin membanting ponselnya itu.
TBC