
Kulit wajah Luth uang putih itu langsung berubah memerah saat melihat Lyn, gadis yang baru beberapa hari lalu dinobatkan sebagai calon istrinya itu tergeletak dengan kedua tangan terikat, baju berantakan dan rambut yang juga acak-acakan.
Pandangan Luth sontak langsung tertuju beralih ke pria yang membenarkan resleting itu.
"Biad*b!" maki Luth kemudian melayangkan tendangan dan pukulan bertubi-tubi ke arah pria berambut ikal.
Pria berambut ikal tak mau diam, ia membalas pukulan dan tendangan Luth dengan gerakan sama.
Seperti menonton adegan film laga, Lyn menyaksikan dua pria berantem, saling pukul, saling tendang dengan kecepatan luar biasa, satu orang terjatuh, yang lain mengejar dan menghajar. Dibalas dengan pukulan dan tendangan.
Bag big bug.... Perkelahian sengit terus berlangsung. Sampai akhirnya Luth berhasil meringkus pria berambut ikal, menekuk lengan kanannya ke belakang. Membuat permukaan tubuh pria itu menempel di lantai.
Krek!
Terdengar suara berderak dari lengan yang ditekuk.
"Kenapa kau menculik calon istriku, huh? Kenapa?" hardik Luth berapi-api.
"Arrrggkh!" tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pria itu, malah erangan tanda kesakitan.
"Siapa yang menyuruhmu? Katakan!" bentak Luth lagi dengan nafas memburu penuh emosi. Keringat di sekujur tubuhnya membanjir. Wajahnya pun basah oleh keringat.
"Arrgkh.. Sa sakit!"
Luth melonggarkan cekalan tangannya supaya lengan pria itu tidak begitu sakit.
"Jawab, siapa yang menyuruhmu, atau kupatahkan lengan jelekmu ini!" ancam Luth kian emosi.
"Aku nggak disuruh siapa pun, aku menyukai wanita itu. Aku hanya ingin memilikinya," jawab pria berambut ikal.
"O ya? Pembohong! Kau pasti disuruh orang untuk menghancurkan gadis itu bukan?" desak Luth yang tidak mempercayai perkataan si rambut ikal. Sebelumnya, Luth tidak pernah melihat wajah pria itu di sekitarnya, sekali pun tidak. Kalau benar pria ikal itu menyukai Lyn, setidaknya pria itu pernah muncul di area kehidupan Lyn, baik di rumah, atau di kampus. Tapi pria asing itu tiba-tiba muncul dan bilang kalau dia adalah orang yang menyukai Lyn. Entah preman dari mana.
"Aku benar benar menyukai gadis itu," ucap si rambut ikal.
"Bohong!" Luth menambah tingkat kekuatan pencekalannya hingga pria rambut ikal itu menjerit kesakitan.
"Luth, udah! Jangan terusin! Nanti dia mati, kamu nggak mau jadi pembunuh kan?" Lyn ketakutan melihat Luth menganiaya pria rambut ikal itu.
Kaget mendengar ucapan Lyn, Luth pun sontak melepas pegangannya pada pria rambut ikal.
Mendapat kesempatan, pria rambut ikal pun segera bangkit dan lari ngibrit untuk kabut. Luth mengejar, tak ingin membiarkan tawanannya kabur. Namun teriakan Lyn membuat Luth menghentikan larinya saat sudah di ambang pintu.
"Luth, jangan dikejar, bantuin aku! Lepasin aku!" seru Lyn.
Luth menoleh ke arah Lyn dan balik badan, lalu menghampiri Lyn.
Lyn terkesiap mendengar Luth mengomel lagi. Baru aja dia merasa tinggi atas aksi penyelamatan Luth, eh sekarang pria itu sudah mulai mengomel dan menyalah-nyalahkannya.
"Jadi kamu nggak ikhlas nolongin aku?" lirih Lyn sambil mengelus pergelangan tangannya yang sudah lepas dari ikatan, memerah akibat ikatan yang terlalu kuat.
"Enggak. Itu penculiknya kabur jadinya kan?"
"Biarin aja dia kabur, yang penting aku selamat sekarang."
"Cepat bangun! Kita harus segera keluar dari sin!" titah Luth sambil berjalan keluar.
Lyn mengikuti Luth keluar, mereka melewati dua ruangan, lalu sampailah ke teras. Sepertinya rumah itu jarang dihuni, terbukti rumput di depan rumah pun tinggi dan tak terurus. Terasnya juga tebal oleh debu.
Luth melenggang menyusuri trotoar diikuti oleh Lyn.
Begitu sampai di luar, Lyn baru sadar ternyata saat itu masih subuh. Dingin sekali. Matahari juga belum muncul. Syukurlah ternyata belum siang, artinya pernikahannya belum harus dimulai.
"Aku tadi sedang menginterogasi pria nggak tau diri itu, tapi kamu malah sibuk menyuruhku berhenti, padahal sedikit lagi aku akan tau siapa yang udah menyuruhnya menculikmu!" kesal Luth.
"Kenapa kamu yakin kalau dia itu disuruh orang? Bisa jadi kan dia punya niat nyulik karena emang ada kesempatan? Pikiran kamu suudzon mulu."
"Pasti dia disuruh oranglah, mungkin ada orang yang benci sama kamu, atau kamu punya musuh jadi ada yang niatan mau nyulik kamu dan ngancurin masa depan kamu. Makanya hidup tuh jangan banyak musuh."
Lyn terperangah, enak aja dikatain banyak musuh. "Luth, aku ngerasa nggak ada musuh. Pemikiran kamu ekstrim banget."
"Kalau nggak ada musuh, mana mungkin kamu bisa diculik kayak tadi itu. Hal itu terjadi pasti karena ada yang nggak suka sama kamu. Paham?" Luth masih saja ngotot pada pendapatnya. "Untung kamu belum diapa-apain cowok itu. Kalau kamu udah dianuin, habislah kamu. Kamu nggak ingat sebelum kamu diculik, kamu bilang kalau kamu ngerasa ada orang yang mengikutimu? Inget?"
Lyn akhirnya mengalah, tak ingin berdebat lagi. Terserah Luth mau berpikir apa saja, dia hanya bisa diam.
"Ngomong-ngomong kamu kok bisa tahu aku disekap di rumah butut itu tadi?" tanya Lyn sambil melirik pria bertubuh tinggi di sisinya. Duh, Luth sangat menggemaskan saat jarak wajah mereka dekat begini. Meski remang-remang, namun tidak mengurangi ketampanan pria bermuka datar itu.
"Jangan-jangan malah kamu dalang penculiknya ya?" Lyn terkekeh sebelum akhirnya menutup mulut melihat tatapan Luth yang tajam.
"Gila aja aku culik kamu trus aku juga yang selamatin kamu. Kurang kerjaan."
"Biar kayak super hero yang bikin cewek klepek-klepek."
"Halah, kamu nggak digituin juga udah klepek-klepek sama aku," ketus Luth.
"He heeee.." Lyn menyenggol lengan Luth dengan lengannya.
"Aku ngikutin mobil mencurigakan yang baru aja pergi dari taman pakai taksi. Ternyata benar dugaanku, kamu ada di mobil itu," jelas Luth.
TBC