
Bertubi-tubi ucapan syukur terucap melalui bisikan bibir Lyn saat mendengar penuturan dokter bahwa proses operasi Alisha akan segera dilakukan karena administrasi sudah terpenuhi.
Beberapa kali Lyn menghubungi ponsel Luth untuk memberitahukan bahwa Alisha sudah siap untuk dioperasi, namun lagi-lagi Luth tidak menjawab.
Di depan meja administrasi, Lyn hanya bisa menggigit bibir menatap surat yang harus segera ditandatangani. Ia diminta untuk segera menandatangani surat itu supaya operasi bisa segera dilakukan. Namun Lyn tidak ingin melakukannya. Masih ada Luth yang lebih berhak menandatangani surat itu.
Kini, bukan hanya sekedar perasaan cemas akan kondisi Alisha yang menjadi beban bagi Lun. Namun juga kondisi Luth. Apa kabar Luth? Kenapa tidak juga menjawab teleponnya? Apakah dia baik-baik saja?
Getar ponsel membuat Lyn menatap ke arah benda itu. Ia segera menggeser tombol hijau melihat Luth yang menelepon.
"Luth, kamu kemana aja? Aku mencemaskan mu. Ibu udah bisa dioperasi. Cepatlah kemari!" pinta Lyn setengah resah, juga setengah bahagia karena telah mendapatkan jalan keluar untuk Alisha bisa menjalani operasi.
"Apa? Operasi? Dari mana kamu mendapatkan uang itu?" balas Luth dengan nada bingung.
"Itu nggak penting. Nanti bisa aku jelasin. Yang penting kamu cepatlah kemari, surat ini harus segera kamu tandatangani supaya ibu bisa segera ditangani."
"Lyn, aku benar-benar bingung harus kemana, semua usahaku nggak membuahkan hasil. Aku akan segera ke rumah sakit. Tapi pasti akan memakan waktu cukup lama untuk sampai kesitu. Kamu tandatangani saja surat itu supaya semuanya bisa berjalan. Aku secepatnya akan datang."
"Sungguh? Kamu ijinkan aku menandatangani surat ini?" tanya Lyn.
Terdengar helaan nafas di seberang. Andai saja ada Hud atau pun Khadijja yang memiliki ikatan darah sebagai anak kandung dari Alisha, tentu mereka lebih berhak, tapi kenyataannya justru Lyn yang kini berada di sisi Alisha.
"Tentu. Percayalah aku akan segera datang. Aku dalam perjalanan. Aku percaya padamu," ucap Luth.
"Baik," lirih Lyn seperti tak bertenaga lagi.
"Ya?"
"Makasih, ya!" Suara Luth lebih seperti bisikan.
"Aku sayang kamu." Kalimat itu terucap begitu saja. Ia lalu memutus sambungan telepon dan segera menandatangani surat.
Tak lama, dari kejauhan, di lorong lantai rumah sakit, di bawah sinar lampu plafon, tampak Alisha yang duduk di kursi roda, didorong oleh beberapa suster keluar kamar, menuju ke arah Lyn.
Semakin mendekat, wajah Alisha terlihat semakin memucat. Nyaris tak ada darah di kulit wajahnya itu. Ia juga tampak lemas. Namun masih tetap sanggup tersenyum saat bertukar pandang dengan Lyn.
"Ibu!" Lyn menunduk, menjatuhkan lututnya ke lantai, bersimpuh di hadapan kursi roda Alisha. Pandangan matanya berembun. Hatinya hancur melihat Alisha yang harus menjalani operasi.
"Sekarang ini ibu loh yang mau dioperasi, kok kamu yang malah mau menangis begini?" Alisha masih saja mengumbar senyum. Dia elus kepala Lyn dengan tangannya yang sudah mengeriput dan tidak lagi halus seperti dulu.
"Ibu. Ibu." Lyn tidak bisa bicara apa-apa lagi kecuali hanya memanggil nama ibu. Sedih sekali rasanya melihat Alisha duduk di kursi roda, menghadapi situasi menegangkan karena hendak memasuki ruangan bedah.
Lyn meraih tangan Alisha yang ada di kepalanya, menggenggamnya erat. Kedua tangan Alisha yang kini berada dalam genggaman tangan Lyn itu jelas menjadi saksi betapa Alisha saat ini sedang merasa takut.
Ya, tidak ada seorang pun yang akan merasa baik-baik saja saat harus memasuki ruang operasi. Sebab mereka akan berhadapan dengan benda-benda tajam yang siap membedah tubuhnya. mereka juga tidak tahu apa yang akan terjadi di ruangan bedah nanti, apakah mereka akan keluar dengan kondisi baik-baik saja, atau gagal operasi, atau bahkan keluar dari ruang bedah sebagai mayat. Tidak ada yang tahu hasil akhirnya, tang jelas semua itu menakutkan.
TBC