DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Pergi


Kata asisten rumah tangga, Lyn sejak bayi juga menyusu dari botol. Amina tidak pernah menyusuinya. Tidak. Bukan maksudnya Lyn mengungkit kekurangan dari diri Amina, tapi begitulah kenyataannya.


Dan bukan pula maksud Lyn membalas perbuatan Amina yang tidak pernah mau mengurus dirinya, sebab ibu tetaplah ibu yang memiliki peranan berharga dalam hidupnya, tapi masalahnya sekarang ia mencintai Luth, dan ia memiliki tanggung jawab besar terhadap suaminya itu.


Amina tidak menerima Luth sebagai menantu hanya sebatas alasan karena malu memiliki menantu yang dia anggap tidak berkelas, dan itu bukanlah alasan yang dibenarkan. Nyatanya Luth adalah pria berakhlak baik, pantas untuk dipertahankan. Itulah alasan kenapa Lyn masih tetap bertahan pada pendiriannya, bukan karena ingin membalas perilaku Amina.


“Luth adalah suami Lyn, wajib bagi Lyn mentaatinya. Maafin Lyn, Ma.” Lyn menunduk, menghindari murka di mata Amina.


“Keluar kau sekarang juga! Keluar dari rumahku! Jangan kau injakkan kakimu di rumah ini! kau bukan anakku lagi!” Amina mendorong tubuh Lyn hingga keluar dari rumah. “Pergi!”


Sebegitu besarnyakah kebencian Amina terhadap Luth sampai-sampai tega mengusir dan tidak mengakui Lyn sebagai putrinya? Sebesar inikah keangkuhan Amina yang tak mau merendahkan diri sedikit saja untuk bisa membuka hati pada Luth?


“Mama, jangan lakukan ini!” Lyn memohon. Ia pun tidak ingin bermusuhan dengan mamanya. Sebab Amina tetaplah ibunya, dan tidak akan ada yang bisa mengubah itu.


“Kau lebih memilih Luth dari pada mamamu sendiri, bukan? Jangan panggil aku mama! Aku bukan mamamu lagi!” hardik Amina.


Lyn merasakan pergelangan tangannya disentuh, ia menoleh, menatap Luth yang sudah berada di sisinya. Pria itu sellau datang disaat yang tepat. Hati Lyn pun mendadak tenang melihat kedatangan Luth. Pria itu seperti menjadi pelindung baginya, meski tangan Lyn hanya dipegang saja, ia sudah mersa mendapat perlindungan.


Tatapan Luth datar ke arah Amina. Ia tidak mengatakan apa pun, cukup diam dengan tatapannya yang tegas.


Amina melenggang masuk dan menutup pintu. Brak!!


Suara keras itu seperti membentur di hati Lyn. Tatapan Lyn kini tertuju ke pintu yang tertutup.


"Kamu memilih aku kan?" lirih Luth di telinga Lyn.


Lyn pun menoleh, lalu mengangguk pada wajah di dekatnya itu.


Lyn mengangguk. Hatinya merasa tersengat.


"Kita harus tunjukkan ke mama Amina bahwa pilihan kita tidak salah. Kamu mau memberi waktu sebentar untukku kan?" Luth menggenggam tangan Lyn.


Lyn mengangguk lagi. "Tentu."


"Ayo, ke rumah!" ajak Luth menggandeng tangan istrinya.


Lyn mengikuti Luth menuju ke rumah sebelah. Sekarang Lyn bukan siapa-siapa lagi di keluarga Nuh Arganta. Dia sudah diusir dan bahkan tidak lagi diakui sebagai anak di rumah itu.


Langkah Luth terhenti saat berada di ambang pintu, membuat Lyn ikut berhenti pula.


"Ada apa?" tanya Lyn.


"Sebagai sambutan untuk kedatangan mu di rumahku, boleh nggak kalau aku cium kamu?" tanya Luth dengan posisi wajahnya yang sudah mendekat di wajah Lyn. Alis terangkat. Serta senyuman mengembang.


Kegundahan Lyn seketika itu memudar, berganti dengan sikap salah tingkah.


Tanpa menunggu jawaban Lyn, Luth pun mendekatkan bibirnya ke bibir Lyn.


Jantung Lyn berdetak tak menentu. Ia mengernyit saat menyadari kecupan singkat di pipinya. Ternyata Luth mengalihkan ciumannya.


Luth telah berhasil menghibur Lyn. Inilah tujuan Luth menggoda istrinya, supaya melihat senyuman istri kecilnya.