DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Bukan Prasangka


"Boleh tau nggak kerjaan apa yang bikin kamu jadi sesibuk ini?" tanya Lyn, mengawasi ekspresi wajah suaminya melalui samping.


Luth malah terkekeh. Pria itu menoleh.


"Kok, malah ketawa? Nggak ada yang lucu kan?" tanya Lyn.


"Kamu itu yang lucu. menginterogasi suami." Luth masih menampilkan senyum.


"Kalau nggak boleh tau ya nggak apa- apa, asalkan semua yang kamu lakukan di luar itu positif, baik, dan nggak merugikan istri." Lyn menatap ke depan, tidak lagi menatap mata suaminya.


"Enggaklah. Semua soal kerjaan. Hanya pekerjaan. Nggak ada yang lain. Kamu curiga sama aku ya?"


"Enggak." Lyn menggeleng cepat.


"Terus, tadi itu apa namanya kalau bukan curiga? Hayoo..." Luth kembali tersenyum, tak mau melontarkan pertanyaan itu dengan serius. "Pertanyaan kamu itu diucapkan bersumber dari perasaan curiga kan?"


"Nggak harus curiga untuk menanyakannya juga, atas dasar keingin tahuan aja. Soalnya akhir- akhir ini kamu pulangnya larut malam terus. Dan kalau lembur, toh penghasilan kamu sama aja dari sebelumnya."


"Oh. Jadi ini mengenai pendapatan?" Raut wajah Luth sedikit berbeda, agak tak nyaman. "Dengan waktu yang aku habiskan setiap hari, kamu merasa kurang dengan pendapatan yang aku berikan karena nggak ada penambahan?"


"Loh loh, bukan begitu maksudku. Duh... ini kenapa jadi salah paham begini?" Lyn menyesal telah melontarkan pertanyaannya tadi. "Wajar kan seorang istri mempertanyakan hal itu ke kamu. Wajar istri ingin tahu semuanya tentang suami. Supaya kita nggak ada yang ditutupi satu sama lain."


"Antara aku dan kamu itu memang nggak ada yang ditutupi sejak awal. perasaan kamu aja yang bawaannya curiga."


"Oke oke, aku sekarang udah paham kenapa kamu selalu pulang terus larut malam. Itu karena sedang cari usaha yang lebih baik. Udah itu aja." Lyn mengulum senyum, berusaha membuat ketegangan mencair.


Luth mengangkat alis. "Ya itu tadi aku jelasin, aku sedang cari cara supaya punya usaha yang lebih baik. Kita ini pasangan suami istri, sebaiknya saling terbuka. Dan aku merasa nggak ada yang aku tutupi darimu. Jadi, kuminta jangan mempermasalahkan apa pun."


"Ya ya, aku paham. Aku minta maaf kalau pertanyaanku tadi menyinggung kamu. Jujur aja, aku nggak bermaksud begitu, aku hanya sekedar ingin yau aja. Nggak lebih. Kamu anggap aku istri kan? Nggak salah kalau aku bertanya soal itu." Lyn mengelus lengan suaminya lembut, cara itu ampuh membuat muka Luth kembali adem.


Lyn menggigit bibir bawah. Menyesal sudah membahas masalah pendapatan. Ia tahu kalau itu oasti melukai perasaan Luth. Dia adalah pria pekerja keras yang pendapatannya tidak seberapa, jika disinggung begini, pasti hatinya terluka.


Bahkan kini Lyn tak lagi berani menatap wajah suaminya. Ia sangat merasa bersalah. Lebih baik ia yang dilukai dari pada suaminya harus merasa sedang diremehkan begini, padahal Lyn tidak bermaksud meremehkan sang suami. Hadeeh..


"Lyn! Ayo!"


Lyn terkejut mendengar panggilan itu. Ia menatap Luth yang entah sejak kapan sudah berdiri di sisinya membukakan pintu mobilnya.


"Eh, udah sampai?" Lyn tergagap dan menatap ke sekitar, mereka sudah sampai di puskesmas.


Segera Lyn menuruni mobil. Ia mengikuti Luth memasuki puskesmas yang tak begitu baik jika dilihat dari kondisi luar.


Setelah menanyakan pada bagian administrasi, mereka menuju ke sebuah kamar persalinan. Katanya Afiqa sedang dalam proses persalinan.


Luth tidak bisa masuk tentunya. Dia menunggu di luar. Sedangkan Lyn memilih untuk masuk, ia mendengar suara teriakan Afiqa sedang mengejan di balik tirai hijau yang tertutup.


Lyn bergegas membuka tirai dan masuk. Mendekati Afiqa yang terbaring di posisi wanita sedang melahirkan normal pada umumnya. Wajah Afiqa dibasuh keringat, meringis, merem, kemudian melek. Ia kesakitan. Lalu kembali mengejan dengan kuat sampai mukanya mengkerut. Air mata membanjir membasahi wajahnya.


Ia lalu menangis tersedu. Beristighfar. Lalu kembali menangis.


Para suster menguatkan, meminta supaya pasien mengejan dengan benar. Tidak boleh menangis.


Ya Allah, beginilah perjuangan wanita melahirkan anak. Benar- benar nyawa taruhannya.


Afiqa lalu menggeleng, ia seperti putus asa. "Nggak kuat!" lirih wanita itu.


Lyn mendekat. Memegang tangan Afiqa. Mengelus kening berkeringat itu. "Kamu pasti bisa. Ayo, demi ank kamu. Sedikit lagi dia akan melihat dunia. Ayo, Afiqa."


Mendengar namanya disebut, Afiqa membuka mata dan menatap Lyn. Saat itulah ia tersadar kalau ada Lyn yang menunggunya.


Bersambung