
Hari ini, Lyn berdiri menghadap Amina. Mereka hanya berdua saja di rumah. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
Lyn tidak ingin menatap wajah mamanya, ia sudah tahu ekspresi seperti apa yang akan menjadi pemandangannya jika nekat menatap wajah Amina. Lebih horror dari film kuntilanak. Cari aman, Lyn beranjak meninggalkan ruangan luas itu.
“Jangan pergi!” titah Amina dengan suara menggelegar.
Jantung Lyn berdegup kencang mendengar gunturan suara Amina. Tenaganya pun seperti hilang entah kemana. Ia menoleh.
“Semua ini gara-gara kau, Lyn!” hardik Amina dengan mata melebar.
Tangan dan kaki Lyn mulai menjadi dingin. Kemarahan Amina masih belum kelar.
“Aku tidak sudi menerima pernikahan yang sembunyi-sembunyi dariku seperti ini. Aku merasa dihina oleh pengkhianatan kalian ini. Pun aku tak sudi memiliki menantu Luth. Dia adalah pria kurang ajar yang berani menusukku dari belakang. Menantu macam apa itu?” tegas Amina lagi dengan sorot membunuh.
Bahkan kepergian Nuh tidak mengalihkan kemarahan Amina, masih saja wanita itu berkutat memikirkan kemarahannya. Hatinya sudah diliputi kebencian yang tiada tara, sampai-sampai ia tak ingin melepas kemarahannya itu.
“Kau harus bercerai dari Luth!” titah Amina dengan suara melengking.
Tentu saja Lyn terkejut. Tidak pernah terpikir dalam benaknya akan berpisah dari pria yang dia cintai. Sudah bersusah payah ia mengorbankan segalanya untuk bisa menikah dnegan Luth, lalu bagaimana mungkin ia akan melepaskan pria itu begitu saja? Tidak mungkin.
“Enggak, Ma. Lyn nggak mau berpisah dari Luth. Lyn sayang sama Luth. Tolong mama memahami itu,” ucap Lyn penuh permohonan.
“Jadi kau benar-benar tidak mau bercerai dari Luth?” tegas Amina lagi.
Lyn menggeleng. “Enggak, Ma. Luth adalah suami Lyn.”
“Ya Allah, kenapa mama bertanya begitu?” Hati Lyn terasa kebas seketika itu juga. Nyeri. Ini adalah pertanyaan paling menyedihkan sepanjang hidupnya.
“Sampai kapan pun aku tidak akan sudi menerima Luth sebagai menantu. Sampai maut menjemputku, dia tidak akan pernah aku terima sebagai menantu. Lalu bagaimana kau akan bisa hidup berdampingan dengan pria itu disaat kau juga bersama mamamu ini?”
Hening.
Lyn benar- benar gundah sekarang. Kenapa sesulit ini mempertahankan ikatan cintanya dengan sosok yang dia cintai?
“Maka kau harus memilih salah satu, kau hidup bersama dengan mamamu ini, atau memilih hidup bersama dengan Luth?” sambung Amina.
Dengan tanpa terbata, dengan penuh keyakinan, Lyn pun menjawab, “Luth.”
Amina sontak terkejut, matanya membelalak seperti bola kasti. Ia tidak menyangka jika ternyata Lyn lebih memilih Luth.
“Apa kau sadar denganapa yang kau katakan?” bentak Amina semakin marah. “Memangnya siapa Luth di matamu? Dia itu orang lain, bukan siapa-siapa di hidupmu, dia orang lain, lalu kenapa tiba-tiba kau lebih mengutamakan dia dibanding aku? dia hanyalah teman bermainmu, tidak ada jasa Luth di hidupmu. Sedangkan aku, aku adalah ibumu, orang yang mengandung, melahirkan dan membesarkanmu. Lalu kenapa kau membuangku dan lebih memilih Luth yang jelas-jelas bukan siapa-siapamu?”
Tiba-tiba bayangan masa kecil Lyn terkilas balik seperti rekaman yang diputar di pikirannya. Ia ingat dulu sewaktu kecil merasa sangat jauh dari Amina, sebab Amina tidak suka diganggu oleh anak-anak. Amina juga lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah bersama dengan teman-temannya.
Lyn lebih sering bermain dengan boneka. Jarang mengobrol bersama mamanya. Dan begitulah yang terjadi hingga ia tumbuh dewasa. Kebersamaannya dengan Amina bisa dihitung dengan jari. Mereka berkomunikasi seperlunya saja mengingat Amina memiliki kesibukan sendiri.
TBC