
Ruangan tamu yang luas sudah dihias dengan tema yang sesuai dengan keinginan Amina. Wanita itu meski sudah tua namun masih saja seperti anak muda yang hobi dengan hal-hal berbau viral.
Tema hijau saat ini sedang viral dan Amina ingin mengituki gaya kekinian, sampai-sampai pakaiannya pun sekarang berwarna hijau.
Tidak banyak yang menghadiri acara itu, sebab memang Amina mengkhususkan acara mewah itu untuk keluarganya saja, sehingga hanya tetangga paling dekat saja yang diundang, yaitu Alisha yang datang bersama dengan Luth.
Amina mengenakan dress panjang yang bisa menyapu lantai berwarna hijau dengan rambut dipilin-pilin keriting ala salon, high heel tujuh centi. Nuh mengenakan pakaian warna senada yang dibelikan oleh Amina.
Sedangkan Lyn, gadis itu mengenakan baju berwarna putih, senada dengan baju yang dikenakan oleh Luth. Mereka tadi janjian untuk mengenakan pakaian dengan warna yang sama. Kalaupun Amina melihat baju mereka warnanya samaan, anggap saja itu hanya kebetulan. Untungnya Amina juga tidak begitu peduli dengan warna baju Lyn yang sama dengan baju yang dikenakan oleh Luth.
Alisha dan Luth berdiri bersisian, menghadap keluarga Amina.
Di tengah-tengah, ada kue berukuran jumbo yang juga berwarna hijau. Tampak tulisan Amina lengkap dengan umur 55 tahun di kue tersebut.
“Senang sekali ya Jeng bisa merayakan ulang tahun bersama dengan keluarga,” ucap Alisha dengan senyum yang tak pernah luput dari wajahnya yang sudah mengeriput.
“Iya, dong. Ini udah lama saya tunggu-tunggu loh. Acaranya belum bisa dimulai sekarang, tunggu sebentar lagi ya, Jeng. Nggak apa-apa kan?” ucap Amina.
Alisha mengangguk sopan.
Tak lama muncul sepasang suami istri yang langsung tertawa riang. Tak lain Arga, putra sulung Amina yang datang bersama dengan istrinya. Pria itu menggendong putranya yang masih berusia satu setengah tahun. Istrinya menghambur mencium tangan Amina, lalu memeluk mertuanya itu. disusul oleh Arga yang juga memeluk Amina.
“Halo, mama. Apa kabar? Mama sehat kan?” ucap si sulung. Ia kemudian mengarahkan balitanya kepada Amina. Si balita tampak membawa kado besar, kesulitan memeganginya.
“Ayo, serahkan kadonya ke nenek,” ucap Arga pada putranya.
“Makasih sayang! Duuuh senengnya nenek dapet kado dari cucu kesayangan. Soalnya kan cucu nenek baru satu.” Amina mengusap pucuk kepala si kecil.
Tak lama kemudian menyusul putra kedua Amina yang bernama Aldeva, pria itu juga datang bersama dengan istrinya. Keduanya langsung memeluk Amina, mengucapkan kata-kata sayang dan rindu, juga ucapan selamat ulang tahun.
Setelah semuanya berkumpul, akhirnya nyanyian ulang tahun pun dikumandangkan, Amina meniup lilin dan memotong kue yang langsung diserahkan kepada Nuh, sang suami.
Setelah itu, ucapan selamat ulang tahun bertubi-tubi disampaikan oleh semuanya yang hadir secara bergantian.
Pertama, Nuh mengucapkan ulang tahun pada Amina dengan tatapan penuh cinta. Kemudian menyusul Arga sebagai putra sulung maju dan memeluk Amina.
“Selamat ulang tahun, Mama. Doa terbaik buat mama. Pokoknya mama harus selalu bahagia, kami akan selalu emndoakan kebaikan untuk mama, panjang umur, sehat, dan segala kemudahan,” ucap Arga. “Jangan nanyain kado, aku sudah transfer uang ke rekening mama. Terserah mama mau beli apa aja.”
Amina sontak melihat kotak masuk yang menunjukkan notifikasi uang masuk. “Waaah.. Dua puluh juta? Kamu terlalu berlebihan. Ini ulang tahun loh, bukan donasi."
"Ya kan mama bisa beli tas branded atau apalah."
"Ya udah, Makasih. Mama beli berlian aja kalau gitu.”
Kemudian istrinya Arga juga mencium Amina dan memeluknya sebentar sambil mengucapkan doa terbaik untuk mertuanya. Interaksi itu terlihat sangat mesra dan penuh dengan nuansa kasih sayang.
TBC