DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Syok


Setelah selesai beres-beres belanjaan ke kulkas, Lyn langsung mandi dan berkemas akan pergi ke kampus. Ia mengenakan celana panjang dipadu baju warna biru dengan pita di bagian perut. Usianya yang masih sembilan belas tahun, membuat jiwa mudanya terpancing untuk berpakaian model kekinian selera anak muda.


Sudah tidak ada Luth di rumah itu setelah pria itu tadi berpamitan akan berangkat duluan ke kantor, tentu menggunakan mobil merah miliknya.


Rumah itu terasa sangat nyaman dan damai, Lyn betah sekali di sana. Tidak ada kemarahan, tidak ada apa pun yang membuat situasi menjadi menegang.


Lyn meraih kunci motor milik Luth yang tergantung di dinding dekat pintu kamar. Ia harus segera pergi ke kampus. Kendaraan milik Luth menjadi pilihannya pulang dan pergi ke kampus.


Ya, tidak ada lagi motor elit miliknya yang bisa dipakai berkendara, apa lagi mobil mewah, semuanya miliknya ditahan oleh Amina. Bahkan terakhir kali saat ia akan mengambil uang di rekening, ternyata saldonya sudah kosong. Dikosongkan oleh Amina yang memegang kartu Atm milik Lyn. Kartu kredit juga sudah diblokir. Lyn resmi menjadi hidup sederhana sekarang.


Kedua kakak Lyn belum mengetahui keadaan Lyn yang sekarang, sebab mereka sedang tidak berada di Jakarta. Arga sedang berada di Kalimantan untuk urusan kerja. Sedangkan Aldeva berada di Hongkong bersama dengan keluarganya, juga untuk urusan bisnis.


Lyn tidak ingin membebani mereka, Lyn akan menjalani hidup sederhana bersama dengan suaminya tanpa harus membebani orang lain. Sudah sewajarnya ia menjalani kehidupannya yang sekarang sesuai kemampuan suami. Lalu apa yang dipermasalahkan dari itu?


Lyn menuju ke kamar Alisha untuk segera berpamitan hendak ke kampus. Sejak bangun pagi, mertuanya itu belum keluar kamar.


"Bu, Lyn udah beliin lontong untuk sarapan. Sarapan dulu ya, Bu. Ini udah Lyn buatin teh hangat," ucap Lyn sambil menenteng teh hangat memasuki kamar Alisha dan menaruhnya ke meja.


Lyn terkejut saat menyadari Alisha yang terdiam dalam posisi duduk di atas sajadah, tubuhnya menyandar di dinding, matanya terpejam.


"Bu... Ibu...!" Lyn mendekati Alisha sambil mengguncang pelan lengan mertuanya itu, berusaha membangunkannya. Itu pun kalau tidur.


Beberapa kali diguncang, Alisha tidak terjaga. Lyn mulai panik, berpikir bahwa terjadi sesuatu pada mertuanya itu. Entah sudah sejak kapan Alisha tidak sadarkan diri.


Tadi, Alisha pun masih berzikir di atas sajadah saat Lyn berpamitan hendak ke pasar bersama dengan Luth.


Lyn menghambur keluar, menjerit minta tolong dengan panik. Sampai detik ini ia tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Alisha. Yang ia tahu, Alisha tidak bergerak. Entah itu hanya pingsan, atau....


Jeritan Lyn berhasil mengumpulkan tiga orang warga yang kebetulan berada tak jauh dari sana. Mereka menghampiri dan langsung masuk setelah mendapat penjelasan dari Lyn.


"Detak nadinya lemah. Bu Alisha pingsan," terang salah seorang warga yang mendeteksi nadi di leher Alisha.


Secepatnya Alisha dibawa ke rumah sakit.


Di sini, di RSUD yang menurut warga tadi segala pembiayaan rumah sakitnya sedikit lebih murah, Lyn duduk dengan raut dibalut kecemasan. Ia sendirian, tidak ada siapa-siapa yang menemaninya.


Luth sedang dalam perjalanan setelah Lyn tadi mengabarinya.


Apa yang sebenarnya terjadi dengan Alisha? Benak Lyn bertanya-tanya.


Serentak saat dokter keluar dari IGD, Luth pun muncul dan menghampiri Lyn. Sekilas pria itu menarik tubuh Lyn dan memeluknya sebentar.


TBC