
Lantunan doa seketika diserukan, diaminkan bersama-sama.
Dalam doa, dengan tangan yang menengadah memohon kepada yang Maha Agung, Lyn meneteskan air mata, entah suasana seperti apa yang sedang ia rasakan. Ia merasa terharu, sedih, bahagia secara bersamaan. Sedih bukan karena terluka, melainkan sedih karena beban sebagai istri yang akan dia pikul jauh lebih besar. Bahagia, tak usah ditanya bahagia karena apa.
Lyn menghapus air matanya saat mengusapkan telapak tangan ke wajah. Lalu menghadap ke arah Luth saat dituntut untuk menyalami tangan suaminya. Ya, kini status Luth sudah bukan calon suami lagi, tapi suami sahnya.
Suasana batinnya menggemuruh saat tangannya bersentuhan dengan tangan Luth, lalu menyalami dan mencium punggung tangan pria itu. Cukup lama Lyn mendaratkan bibirnya ke punggung tangan Luth. Meski bibir yang bersentuhan dengan kulit tangan Luth, namun jantungnya yang merasakan debaran kuat.
Situasi keharuan dan kebahagiaan itu diabadikan dalam potret kamera.
Putra Nuh yang tinggal di Bogor juga hadir, putra lainnya yang tinggal di Bandung juga hadir. Mereka turut mendoakan yang baik untuk sang adik, Lyn. Mereka juga datang tidak dengan tangan kosong. Berbagai oleh-oleh, makanan, buah tangan, serta uang diberikan untuk Nuh dan sang adik. Bersama-sama, mereka merahasiakan pernikahan Lyn dari Amina. Mereka sangat tahu sifat Amina, dan inilah uang menurut mereka terbaik.
Lyn mengangkat wajah, menatap pria di hadapannya. Pria itu mengangkat alis dengan tampang datarnya. Lalu memajukan wajah dan mencium kening Lyn.
Nyesss.... hati Lyn dingin sekali merasakan sentuhan bibir Luth di keningnya. Ternyata begini rasanya menikah dengan pria yang dicintai.
Di tengah keharuan yang membuncah, Alisha justru tampak resah, cemas dan gelisah. Sejak tadi ia melongok ke arah pintu, menanti kedatangan Hud dan Khadijja, namun dua anaknya itu tak kunjung datang. Sudah dikabari, juga sudah ditelepon.
Hud mengaku masih di di perjalanan dan terkena macet. Sedangkan KHadijja mengaku akan segera datang, namun sampai kini keduanya tak kunjung datang. Bahkan acara pernikahan tersebut sempat molor setengah jam demi menunggu kedatangan keluarga pihak mempelai laki-laki, tak lain Hud dan Khadijja. Sayangnya keduanya tak kunjung datang meski acara pernikahan sudah diundur.
Seharusnya di suasana bahagia itu, Alisha juga merasakan kebahagiaan, namun kenyataannya justru perasaannya berkecamuk. Di hari pernikahan bungsunya, Hud dan Khadijja yang dianggap sebagai orang terpenting justru tidak hadir.
Sekarang tiba saatnya dimana Lyn dan Luth diminta untuk sungkem pada ke dua orang tua mereka.
Lyn pertama kali menyalami papanya, meminta restu dan doa.
Lyn mengangguk mendengar pesan papanya.
Giliran Luth menyalami Nuh. Ia hanya mendapat kata selamat serta pesan singkat yang baik-baik. Ia kemudian menyalami Alisha, ibunya. Mencium tangan ibunya penuh takzim.
Alisha mendekatkan mulutnya ke telinga Luth dan berpesan, "Kamu akan menjadi imam dalam rumah tangga. Lelaki yang menyia-nyiakan istri dan anaknya, merupakan lelaki yang buruk hidupnya.
Berumah tanggalah dengan agama, ilmu, dan sifat saling percaya sebagai pilar. Jauhilah kecemburuan dan saling curiga karena akan menjadi rayap meski bangunan yang kukuh sekalipun. Seorang suami dapat menjadi pintu surga bagi istrinya, juga dapat menjadi pintu neraka untuk istrinya."
Luth mengangguk. Masih mencium punggung tangan Alisha.
"Istri adalah tulang rusukmu, dia bukanlah wanita yang bisa engkau suruh-suruh. Perlakukanlah dia dengan kelembutan, maka dia akan lebih lembut dari perlakuanmu. Ingat Luth, tidak ada janji terindah yang didengar oleh wanita dari lisan laki-laki, kecuali janji akad pernikahan," ucap Alisha dengan mata berkaca.
Luth terdiam mendengar pesan ibunya. Kemudian melepas salamannya, memberi peluang untuk Lyn menyalami Alisha.
Segera Lyn menyalami Alisha penuh takzim.
"Terima kasih, kamu udah mau menjadi istri Luth, juga menjadi menantu ibu, cah ayu!" ucap Alisha sambil mencium pipi kiri dan kanan Lyn.
Senyum manis Lyn kembali terurai di wajah cantiknya.
Bersambung