
“Lyn, ayo jelasin, kenapa kamu bisa ada di kamarku. Aduuuh… kamu ini bikin repot aja,” kesal Luth sambil garuk-garuk kepala.
“Tadi tuh ngantuk banget jadi nggak sadar salah masuk kamar,” jelas Lyn dengan muka memerah, malu sekali. Takut dikira modus. Padahal ini murni kecelakaan. Sumpriiit.
“Luth, kamu juga, memangnya kamu nggak tau sudah ada Lyn di kamar? Kamu nggak suruh dia bangun? Kamu malah tidur bersamanya di sini,” sergah Nuh tampak frustasi.
Luth ingat ia tadi baru saja pulang membawa bakso bakar yang sudah ia janjikan untuk ibunya. Kemudian ia memasuki kamar Alisha, membangunkan ibunya supaya makan bakso bakar bersama-sama. Ia tidak menemukan Lyn yang katanya menemani ibunya di rumah, dan ia mnegira Lyn sudah pulang.
Demikian juga Alisha yang mengira kalau Lyn sudah pulang.
Luth hanya makan dua tusuk bakso bakar saja, kemudian ia pamit ke kamar duluan karena sudah sangat mengantuk sekali. Tanpa ia sadari, kamarnya yang memang sudah gelap karena lampu tidak dinyalakan itu ternyata ada sosok yang sudah lebih dulu tertidur.
Sedangkan Nuh yang sejak tadi menunggu kepulangan Lyn, mengintip dari jendela saat mendengar deru mesin mobil Luth pulang. Artinya sebentar lagi Lyn akan pulang ke rumah. Namun setelah menunggu lima belas menit, Lyn tak kunjung pulang. Malam pun sudah larut. Tidak baik anak gadisnya berada di rumah Luth malam-malam. Kemudian ia bertamu ke rumah Alisha, mengaku ingin menjemput Lyn.
Tentu saja Alisha terkejut mendengar perkataan Nuh, ia malah mengira Lyn sudah pulang sejak tadi.
Dan sekarang, beginilah kejadiannya. Nuh dan Alisha berdiri di ambang pintu, menyalakan lampu kamar dan memergoki Lyn dan Luth berpelukan di kamar.
“Om, percayalah ini nggak speerti yang…”
Belum selesai Luth bicara, Nuh yang tampak frustasi itu meninggalkan pintu, disusul Alisha yang juga berlalu pergi. Mereka speerti tidak mengindahkan penjelasan Lyn dan Luth yang dianggap hanya ngeles. Cari alasan untuk membela diri. Sudah ketangkap basah masih mau ngeles. Begitulah pemikiran keduanya.
“Jadi, bagaimana sekarang?” Lyn panik.
Luth mengedikkan bahu. Garuk-garuk kepala.
Terdengar suara Alisha dan Nuh yang sedang berunding membicarakan solusi. Seakan-akan kejadian yang baru saja mereka saksikan adalah masalah serius. Dan memang masalah serius tentunya. Orang tua mana yang tidak langsung panik melihat putra dan putrinya tidur sekamar dengan lawan jenis?
“Luth, ini bagaimana?” Lagi-lagi Lyn minta pendapat.
“Semua ini gara-gara kamu. Kok, bisa menyelinap masuk kamarku?” ketus Luth. “Repot kan jadinya? Lihat tuh papamu sama ibuku jadi salah paham.”
“Aku kan nggak sengaja. Lagian kamu juga sih, kenapa nggak bangunin aku trus usir aku pergi. Ini malah ikut bobok cantik dan peluk-peluk aku.”
“Lah, malah nyalahin aku. suka-suka akulah mau ngapain, ini kan kamarku.”
Dih, Luth pasti begitu. Lyn jadi sedih. Ia terduduk lemas di kursi. Matanya berembun menatap pria tampan yang berdiri di hadapannya. pria berwajah eksotik dengan alis tebal, tubuh gagah berotot, lengan yang juga terbentuk sempurna. pria yang selalu ia banggakan. Pria berwajah malaikat yang kerjaannya selalu marah-marah. Perasaan Lyn kacau melihat Luth marah.
Lyn harus berpikir keras untuk membersihkan nama baiknya di hadapan Alisha dan papanya sendiri, juga untuk membuat Luth tidak marah lagi.
TBC