DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Tidak Sudi


Luth balik badan untuk segera masuk ke ruangan ibunya, tampak olehnya Lyn sedang duduk di sisi bed mengawasi wajah Alisha yang tertidur.


“Lyn.” Luth menyentuh pundak Lyn.


“Ya?” Lyn mengangkat kepala, menatap wajah Luth. “Ada apa?”


“Aku pergi dulu, ada hal yang harus aku kerjakan dan ini nggak bisa ditunda. Kamu bisa kan jaga ibu sebentar?” tanya Luth dengan tatapan teduh.


“Tentu,” jawab Lyn dengan anggukan kepala dan senyuman tipis.


“Makasih. Kalau nggak ada halangan, Mbak Khadijja akan kemari menunggu ibu. Saat itu tiba, kamu bisa pulang untuk persiapan ujianmu besok.”


Lyn mengangguk lagi. Tanpa disuruh, ia dengan segenap hati akan dnegan ikhlas menunggu Alisha di sana.


Luth mencium kening Lyn setelah istrinya itu menyalami dan mencium punggung tangannya penuh takzim.


Lyn mengawasi langkah Luth yang melenggang meninggalkannya. Hatinya terenyuh. Ia tahu maksud tujuan suaminya akan pergi, yaitu untuk mencari uang. Dan entah kemana suaminya itu akan meminjam uang. Lyn tadi mendengarkan ucapan Luth saat sedang menelepon. Sebingung itu saat Luth membutuhkan uang untuk biaya operasi ibunya.


Lyn mengusap singkat punggung tangan Alisha. Melenggang keluar kamar menuju ke meja administrasi. Ia menanyakan berapa biaya operasi yang harus dibayarkan oleh keluarga pasien untuk operasi pengangkatan ginjal. Ia termangu menatap sederet angka yang tertulis di kertas yang baru sjaa ia terima, dan itu hanya sebatas biaya operasi saja, belum obatnya. Sekali tebus obat yang bagus, akan memakan biaya sampai empat juta rupiah. Dan itu tidak hanya sekali tebus saja, belum lagi biaya rawat inap dan lain sebagainya.


Lalu dari mana Luth akan mendapatkan uang sebanyak itu?


Beberapa jam Lyn menunggu di sana, Luth tak kunjung kembali. Khadijja yang katanya akan datang juga tidak muncul batang hidungnya.


Dokter pun datang mengontrol dan memberitahukan bahwa pihak keluarga pasien harus segera menyelesaikan administrasi supaya secepatnya dokter melakukan tindakan terhadap pasien.


Mendengar itu, Lyn pun menelepon Luth. Ia harus tahu dimana keberadaan suaminya, dan apakah Luth sudah mendapatkan uang? Rasanya tidak. Dari mana Luth akan mendapatkan uang itu? Lyn mengerti kalau Luth bekerja di perusahaan sebagai karyawan biasa dengan gaji beberapa persen di atas UMR. Kalaupun Luth meminjam uang di kantor, maka nilainya tidak akan jauh dari nilai upah yang dia terima.


Lyn tidak bisa tinggal diam, ia harus melakukan sesuatu. Ia bergegas meninggalkan rumah sakit. Pergi ke suatu tempat dengan menaiki ojek. Sepanjang jalan, ujung rambutnya terkibas oleh angin. Pikirannya kacau, mencari nama siapa saja yang mungkin bisa memberikan bantuan. Amina? Mustahil Lyn meminta bantuan Amina. Ibunya itu sudah sangat murka terhadapnya, bahkan sudah tidak lagi menganggapnya sebagai anak. Hanya akan sia-sia saja ia menemui Amina untuk alasan ini.


Lyn meminta kang ojek menunggunya sebentar saat ia sudah sampai di sebuah rumah. Sebenarnya hatinya risau saat harus menginjak teras rumah yang sekarang ia datangi, tapi apa dikata, itulah yang harus ia lakukan.


Beberapa kali Lyn mengetuk pintu, akhirnya pintu terbuka. Khadijja menyembul keluar. Wanita yang terlihat anggun mengenakan dress elit, gemerlap perhiasan di tubuhnya, serta polsean make up berkelas itu terkejut melihat kedatangan Lyn.


“Loh? Kamu? Ngapain ke sini?” tanya Khadijja. “Tunggu tunggu, jangan bilang kamu mau jemput Mbak supaya ke rumah sakit jengukin ibu? Aku sibuk, Lyn.”


Deg! Perkataan Khadijja benar-benar memukul hati Lyn. Tidak. Seharusnya tidak, sebab yang disakiti saat ini adalah Alisha. Namun kenyataannya, ketidakpedulian Khadijja yang memperlihatkan sikap tak ingin menjenguk ibunya yang sedang sakit parah membuat hati Lyn terluka parah. Alisha yang disakiti, namun Lyn yang langsung menangis saat itu juga. Air di kelopak matanya langsung menerjang keluar tak terbendung lagi.


“Mbak Dijja, ibu sakit, Mbak. Tolong bantu ibu. Memangnya Mbak sedang sibuk apa sampai-sampai tega nggak mau ke rumah sakit?” suara Lyn sesenggukan. Kenapa ngilu sekali hatinya meliat tingkah laku Khadijja?


“Aku belum masakin buat makan siang suamiku. Emangnya nanti suamiku makan apa kalau aku nggak amsak?”


Ya Tuhan, jadi sejak tadi Khadijja ngapain sampai-samapi belum masak? Itu bukan alasan tepat, Khadijja bisa saja membeli makanan untuk makan siang suaminya, atau memberi tahu suaminya supaya makan di luar saja sebab dia mesti menjenguk ibunya yang sakit. Huh, ini jelas akal-akalan Khadijja yang tidak sudi menjenguk ibunya.


“Kalau Mbak nggak bisa jengukin ibu, bisakah tolong pinjami uang untuk biaya operasi ibu? Mas Luth sedang kesulitan mencari uang pinjaman, kalau Mbak sendiri ada, kenapa harus mencari di tempat lain yang belum tentu kepastiannya?”


“Lyn, kamu itu kan kaya. Minta sama ibumu, dong. Jangan karena kamu diusir ibumu, lantas itu dijadikan alasan untuk nggak mau berbagi. Ini yang sakit tuh mertuamu loh, kamu mesti berkorban dong. Udah deh, kamu mendingan pulang ke rumah dan ambil uang ibumu sana! Mertuamu itu hidup bersamamu, jadi semua ini tanggung jawabmu.” Khadijja melenggang masuk.


Hentakan pintu tertutup membuat jantung Lyn terasa kebas, nyeri. Entah setan apa yang telah merasuki pikiran Khadijja hingga menjadi hitam kelam begini. Kakak iparnya itu begitu kikir, bakhil dan pelit. Bahkan kekayaan yang dimiliki Khadijja, meski setinggi bukit yang diserahkan untuk Alisha, itu tidak akan sanggup menggantikan darah, keringat, air mata dan susu yang dikorbankan Alisha untuknya. Permohonan Lyn sia-sia, hati Khadijja sudah tertutup oleh sesuatu yang hitam.


TBC