
"Ba Ba Bapak, Bu," ucap Asisten rumah tangga gugup sambil menunjuk- nunjuk ke arah ruangan lain.
Amina sontak keluar dari kamar mandi dan mencari keberadaan Nuh, suaminya.
Lyn menyusul keluar, sesekali menyemburkan nafas dari hidung supaya air yang bersarang di saluran pernafasannya cepat keluar. Rasanya hidungnya masih pedih.
Setibanya di kamar Nuh, Lyn mendapati papanya tengah berbaring di kasur dengan mulut meringis sambil memejamkan mata. Terdengar rintihan dan erangan keras dari mulut Nuh.
Amina meraih lengan Nuh, mengguncangnya pelan. "Papa, kenapa ini? Ada apa? Apa yang terjadi?" Amina panik menatap suaminya tampak kesakitan.
Nuh kesulitan bernafas. Lalu tangannya memegang dadanya sendiri kuat- kuat.
"Papa...." Lyn menjerit histeris. Khawatir melihat kondisi papanya yang tiba- tiba memucat. "Cepat bawa papa ke rumah sakit!" jerit Lyn hingga supir yang baru saja muncul pun bergerak cepat melakukan tugasnya.
***
Di rumah sakit, punggung Lyn menyandar di dinding. Kedua tangannya saling remas. Wajahnya memucat resah. Apa yang telah terjadi dengan papanya?
Di hadapannya, Amina mondar- mandir dan bertabrakan dengan perawat yang melintas, ia lalu marah- marah akibat tangannya kecucuk jarum, entah jarum apa. Setelah perawat pergi, ia kembali mondar mandir, sesekali melihat ke arah ponsel. Kadang juga mengetuk- ngetuk pelipis.
Lyn terkejut saat tiba-tiba tangannya disentak kuat hingga pangkal lengannya terasa ngilu, ia mengangkat wajah, menatap pelakunya. Tak lain Amina yang wajahnya merah padam dengan mata melotot.
"Semua ini gara- gara kau!" hardik Amina. "Kau sudah mengkhianati mamamu, bahkan sekarang papamu pun terkena serangan jantung."
Lyn tidak ingin menjawab ucapan mamanya, di samping tempatnya tidak tepat untuk berdebat, juga waktunya tidak memungkinkan. Papanya sedang dalam keadaan kritis, mana mungkin ia malah sibuk berdebat, saling menyalahkan. Biarkan saja Amina mengomel.
"Mama belum sempat memaki dan memberi hukuman pada papamu, tapi dia malah sudah sakit duluan. Bagaimana caranya aku akan memberinya pelajaran kalau dia sakit begini, aku tidak punya kesempatan untuk itu," kesal Amina.
Entahlah harus menanggapi apa, Amina tidak perlu dilawan.
Tak lama kemudian dokter pun keluar, ia menjelaskan bahwa Nuh terkena serangan jantung. Setelah mendengarkan semua keterangan dokter, Amina dan Lyn diperkenankan masuk.
Amina langsung mendekati bed tempat Nuh terbaring. Selang infus dan peralatan medis lainnya menempel di tubuh Nuh.
"Bagaimana ini, kenapa bisa jadi begini?" Amina panik bukan main. "Kau harus cepat sembuh, jangan biarkan aku sendiri. Aku membutuhkanmu," ucap Amina di sisi telinga suaminya.
"Ayolah, kau tidak akan kenapa-napa," sambung Amina.
Kelopak mata Nuh pun bergerak dan terbuka. Manik matanya berputar mencari-cari. Lalu fokus menatap Amina di sisinya.
"Suamiku, akhirnya kau sadar juga," ucap Amina tampak lega.
"Ma, maafkan aku," ucap Nuh dengan suara lirih.
Amina mendekatkan telinganya supaya bisa mendengarkan apa yang diucapkan oleh Nuh. Demikian juga Lyn yang langsung mendekatkan diri kepada sang papa.
"Kenapa kau minta maaf? Kau sudah melakukan kesalahan padaku?" ucap Amina yang mengetahui arah pembicaraan suaminya.
"Lyn adalah satu-satunya putri kita, kebahagiaannya adalah segalanya," sambung Nuh dengan suara terbata dan lirih sekali. "Lyn sudah aku nikahkan dengan Luth. Mereka sudah menjadi suami istri yang sah. Kebahagiaan Lyn ada pada Luth. Biarkan putri kita meraih kebahagiaannya, jangan halangi kebahagiaan putrimu. Luth adalah pria yang baik, dia akan menjadi suami yang baik pula untuk Lyn."
Mendengar ucapan suaminya, Amina terdiam menahan amarah. Ia tampak tak terima dengan pernyataan suaminya, namun juga tidak bisa meluapkan amarahnya itu disaat kondisi seperti ini.
"Maafkan aku sudah menikahkan mereka tanpa sepengetahuanmu, tapi semuanya sudah terjadi. Biarkan mereka bahagia. Utamakanlah kebahagiaan anak, jangan egois dan mempertahankan kesombongan. Aku menyayangimu, Amina. Aku tidak ingin kau marah atas kejadian ini," sambung Nuh.
Pandangan mata Lyn dan Amina bertemu, beberapa menit mereka bertukar pandang.
Namun kemudian kepanikan melanda saat tiba-tiba Nuh memejamkan mata, menghembuskan nafas terakhir. Sudah cukup lama Nuh mengidap sakit jantung, mungkin inilah klimaksnya.
Ketika Luth muncul, Papa mertuanya sudah tiada. Lyn hanya bisa menangis di pelukan Luth.
Dua putra Amina pun berdatangan, sayangnya mereka hanya bisa melihat papanya sudah terbujur lemah.
Arga dan Aldeva menguatkan Amina, juga menguatkan Lyn. Mereka saling menguatkan supaya tabah menerima kenyataan.
Kepergian Nuh meninggalkan rasa kehilangan mendalam bagi Lyn. Disamping kehilangan sosok ayah yang melindunginya, ia juga kehilangan benteng yang akan menjadi tameng dari serangan Amina.
Sepanjang pemakaman, Luth mendampingi Lyn. Amina bahkan masih sempat menatap tajam ke arah Luth dan Lyn di saat kondisi seperti ini. Sspertinya pesan terakhir sang suami tidak diterima olehnya.
***