DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Topi


Sedangkan Lyn sudah sejak tadi kembali ke rumah.  Ponsel milik Luth dia letakkan di meja.  Ia yakin Luth pasti akan menemukan ponselnya saat benda itu berdering.


Lyn memasuki rumahnya melalui pintu belakang.  Saat melintasi ruangan keluarga, ia mendapati papanya tengah duduk menatap laptop.


“Lyn, sudah selesai memenuhi bak?” tanya Nuh yang menyadari putrinya melintasinya.


“Udah, Pa.”


“Cepat sekali?”


“He heee…”  Lyn tidak ingin menjawab karena takut berbohong.  Jadi dijawab dengan suara tawa saja.  Ia lalu melangkah menaiki anak tangga.


“Lyn, kamu kemana aja sih?  Mama dari tadi nyariin kamu, dipanggil-panggil kok nggak denger?” tanya Amina yang saat itu berpapasan dengan Lyn di anak tangga.  Wanita itu tampak sangat elegan dengan penampilannya yang mengenakan dress selutut.


“Lyn dari belakang rumah tadi.  Emangnya kenapa mama nyariin Lyn?”


“Mama mau belanja keperluan ke Eropa.  Papa kamu mau beliin tiket dan kasih uang liburan untuk mama jalan-jalan ke Eropa selama dua minggu.  Keren, kan?”  AMina tampak bahagia sekali.


“Ke Eropa?”


“Iya.  Dalam waktu dekat ini mama mau ke Eropa.  Ayo antarin mam ke mol untuk belanja,” ajak Amina bersemangat.


“Iya.  Lyn ganti baju dulu ya, Ma!”  Lyn beranjak naik meninggalkan mamanya.


“Iya, mama tunggu di bawah,” sahut Amina.


Lyn masuk ke kamar.  Ia mengganti pakaiannya.  Setelah selesai berdandan di depan cermin, ia berlari ke balkon.  Sekedar mengintip calon suaminya.  Sedang apa dia?  tampak olehnya Luth di bawah sana sedang mencuci mobil.


Muka Lyn merona merah hanya dengan menatap tubuh Luth dari jauh.  Ia tersenyum kemudian melempar Luth menggunakan bola kecil bekas mainannya waktu kecil.


Plak.


Luth sontak menoleh ke sumber lemparan sambil mengelus kepalanya yang terkena lemparan, ia mendapati Lyn tersenyum di balkon.


"Buset tuh cewek sembarangan lempar aja," gerutu Luth sambil menatap horor ke arah Lyn.


Yang ditatap malah terkekeh.


"Awak kamu ya!" bisik Luth yang tidak ingin didengar orang lain saat sedang berkomunikasi dengan Lyn.


Lyn yang memahami maksud ucapan Luth melalui gerakan mulut pun membalas dengan senyum. Lalu berbisik, " Nggak takut!" 


Lyn lalu berlari meninggalkan balkon. Keluar rumah bersama dengan mamanya. Amina lebih dulu masuk ke mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Sedangkan Lyn melirik ke arah Luth sambil tersenyum sesaat sebelum meraih handle pintu mobil hendak masuk. 


Plak.


Lyn baru saja membuka pintu mobil saat sebuah bola mainan mendarat di kepalanya.


"Aw!" Lyn memegang kepala sambil menoleh ke arah Luth. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si ganteng. Pria itu menatapnya dengan alis terangkat.


"Lyn, cepetan! Malah bengong di pintu!" seru Amina tak sabar.


"Eh, iya, Ma." Lyn bergegas masuk. Senyumnya masih mengembang saat mobil melaju meninggalkan gerbang. 


Amina bercerita banyak hal tentang Eropa di sepanjang perjalanan. Mengutarakan pengalamannya empat belas tahun silam yang pernah ke sana, dan ini adalah yang kedua kalinya. Ia antusias sekali meski kedua tangannya tampak fokus menyetir.


Lyn tidak begitu mendengar dengan jelas cerita panjang lebar yang digembar gemborkan mamanya, ia sedang asik chat-chatan dengan Luth.


Luth


Mau kemana?


Lyn


Ke mol anterin mama belanja.


Luth


Beliin topi ya.


Nanti uangnya kuganti.


Lyn tersenyum membaca chat dari Luth. Pria itu meminta dibelikan topi. Lyn senang sekali mendapat perintah itu.  Padahal pria itu sedang merepotkannya, anehnya ia malah seperti mendapat rejeki nomplok. Hadeh, orang jatuh cinta memang sulit dimengerti. Coba aja kalau ia disuruh orang lain, pasti bawaannya males.


Lyn


Oke. Nanti aku beliin. Warna apa?


Luth


Terserah


Lyn


Kok kamu malah chat-chatan sama aku? 


Bukannya lagi nyuci mobil? 


Entar hape nya kena air.


Luth


Udah selesai


Lyn tersenyum. Meski isi pesan Luth lempeng banget, tapi Lyn tetap senang.


"Lyn, dari tadi mama tanya gimana pendapat kamu, bukannya dijawab malah cengar cengir? Jadi gimana?"


Eh? Gimana apanya? Lyn bingung, seratus persen sejak tadi ia tidak mendengar perkataan mamanya.


"Oke deh pokoknya, Ma. Mantep." Lyn pun tidak tahu apanya yang mantep.


BERSAMBUNG