DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Senyuman Samar


"Kenapa ibu nggak pernah ngomong ke aku soal ini, Bu? Ibu pasti udah merasakan sakit ini sangat lama, lalu kenapa menyembunyikannya dari aku?" sesal Luth. Ia ingat pernah memergoki Alisha tengah menatap sebuah kertas, dengan tulisan kecil kecil. Namun Alisha segera melipat kertas itu dan bilang kalau itu hanya kertas yang ia dapatkan dari lembaran koran bekas saat Luth mempertanyakannya. Kejadian itu sudah sepuluh tahun berlalu, dan sekarang Luth baru sadar bahwa itu pasti kertas hasil dari pemeriksaan dokter.


Lagi, Alisha tersenyum samar. Senyuman itu tampak tidak lagi lebar seperti biasanya, terkesan lemah. "Siapa yang bilang ibu udah sakit lama?"


"Sakit ibu ini udah sangat akut, parah. Berarti selama ini ibu merasakan sakit kan?" Luth masih menggenggam tangan Alisha, lalu mendaratkan bibirnya ke punggung tangan ibunya sangat lama. "Ya Allah, bagaimana mungkin aku yang tinggal serumah sama ibu bisa sampai nggak tahu kalau ibu menderita sakit begini? Ibu bahkan selama ini selalu terlihat sehat dan bugar di mataku."


Setelah Luth melepas ciumannya, Alisha mengangkat tangannya, mengusap kepala bungsunya penuh nuansa sayang.


"Intinya, ibu nggak mau merepotkan kamu, Luth. Sudah sangat banyak pengorbanan mu buat ibu. Kalau kamu tahu ibu sakit parah, kamu pasti akan berbuat banyak hal untuk ibu. Selama ini, cuma kamu yang mengorbankan harta, waktu dan segalanya buat ibu. Apakah harus ibu masih merepotkanmu lagi untuk rasa sakit ini? Ibu sudah konsultasi ke dokter, biaya untuk kesembuhan penyakit ini sangat besar," lirih Alisha dengan seulas senyum.


"Bu, itu semua belum seberapa. Kalau dibandingkan dengan pengorbanan ibu untuk anak-anakmu, apakah itu setara? Enggak, Bu. Aku tahu bagaimana pengorbanan seorang ibu disepanjang masa kehamilan selama sembilan bulan, bahkan saat melahirkan adalah nyawa taruhannya, lalu saat menyusui seorang ibu juga hanya bisa tertidur dalam waktu sedikit saja karena sisanya dihabiskan untuk menyusui anak. Belum lagi membesarkan kami. Semua yang kulakukan nggak akan mungkin cukup untuk membalasnya, Bu. Jadi, tolong berhentilah berpikir seperti itu," ungkap Luth dengan tatapan sayu.


"Ibu juga nggak mau membuat anak-anak ibu yang lain cemas, Hud dan Khadijja pasti akan cemas jika tahu ibu sakit kan? Biarlah ibu begini dan merasakan sendiri, yang penting kalian bahagia. Hidup rukun dan tercukupi." Alisha menghela nafas. "Lalu apa kata dokter tadi? Tindakan apa yang akan dilakukan dokter untuk ibu?"


Luth diam saja. Demikian juga Lyn yang hanya menatap sendu.


"Luth, ibu mau pulang aja. Ibu merasa sudah baikan." Alisha bangkit bangun, namun gerakannya tampak kesulitan karena ia menahan sakit di bagian pinggang.


"Jangan bergerak, Bu. Ibu di sini aja. Ibu mesti dirawat dulu," ucap Luth sambil menahan tubuh alisha supaya tetap terbaring di kasur. "Aku mohon, ibu tetaplah di sini."


Gadis itu beranjak mendekati Luth. Menatap pria itu penuh pertanyaan, ia tahu Luth sedang ingin memerintahkannya untuk melakukan sesuatu.


"Tolong jagain ibu dulu, ya!" pinta Luth. "Aku mau keluar sebentar."


Lyn mengangguk.


"Jangan menangis di hadapan ibu!" bisik Luth saat melintasi Lyn.


Lyn mengangguk lagi. Ia mendekati sisi samping bed, lalu tersenyum tipis menemani Alisha.


Luth keluar kamar dengan raut panik. Ya, kali ini ia tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikannya. Ia melihat sendiri bagaimana Alisha merasakan sakit saat hendak bangun dari tempat tidur. Hatinya ngilu sekali melihat itu. Disisi lain, ia juga harus secepatnya mendapatkan uang dalam jumlah besar supaya Alisha bisa segera ditangani oleh dokter. Tapi dari mana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?


Oh Tuhan, ujian ini benar-benar terasa berat.


TBC