DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Tanpa Beban


Luth mendorong Emran di troli bayi, berjalan memasuki rumah setelah mengajak bayi itu bersantai di samping rumah. Ia sengaja ijin tidak masuk kerja karena Lyn tidak bisa menjaga Emran. Istrinya itu sedang ke kampus untuk urusan wisuda.


Sejak pagi Lyn meninggalkan rumah, dan Luth disibukkan dengan urusan bayi, mulai dari membersikan saat beol, mengganti popok, memandikan, membuat susu, serta menidurkannya. Bahkan Luth tak sempat makan karena ia harus menimang Emran saat bayi itu hendak tertidur. Nyaris seperti tak ada jeda waktu. Belum lagi Luth juga harus mengurus ibunya pasca operasi, ibunya masih butuh bantuan untuk hal- hal seperti mengambil makan dan minum, serta membimbing ke kamar mandi.


Lyn meninggalkan rumah setelah memasak dan menyelesaikan pekerjaan dapur bersama- sama dengan Luth.


Luth mengerti bagaimana repot dan sibuknya Lyn saat berada di rumah, sebab sekarang ia bertukar peran, menggantikan Lyn.


"Wah, Emran pintar. Tidur nyenyak," ucap Alisha yang duduk di kursi roda, menatap Luth yang mendorong troli tersebut memasuki rumah.


Luth tersenyum. "Dia pintar. Nggak rewel. Cuma kalau pas mau tidur aja agak payah."


Alisha tersenyum. "Masyaa Allah... Semoga Allah membalas ketulusan kalian dengan sesuatu yang mulia. Kepunyaan Allah itu Maha Luas. Tidak akan pernah bisa dijangkau oleh akal manusia bagaimana luasnya kekayaan itu. Percayalah, Tuhan melihat ini."


"Iya, Bu. Ibu nggak usah berpikir yang macam- macam ya, Ibu harus tetap tenang. Pikirkan kesehatan ibu aja." Luth duduk di kursi.


"Ibu sebenarnya sedih melihat kondisi kamu yang tidak mendapat restu dari mertua, bahkan kamu tidak dianggap menantu. Padahal kita bertetangga," ucap Alisha.


"Bu, barusan aku bilang supaya ibu jangan mikirin banyak hal. Cukup pikirkan kesembuhan ibu," tegas Luth yang langsung membuat Alisha terdiam.


Emran menggeliat. Bayi yang masih berusia satu hari itu belum bisa dibawa kemana- mana karena masih terlalu kecil, masih rentan dengan sakit. Apa lagi cuaca di luar kurang bersahabat. Jadi ia di rumah saja.


"Kasian Lyn, dia wisuda tanpa ditemani siapa pun. Pasti Lyn sedih. Ibu sedang sakit begini, jadi tidak bisa keluar rumah. Kamu juga mengurus Emran yang belum bisa dibawa kemana- mana. Sedangkan Amina, ibunya Lyn tentu tidak mau mendampingi. Lyn pasti merasa sendiri." Lagi-lagi Alisha terlihat sedih.


"Bu, tolong jangan pikirkan banyak hal. Ingat, kesehatan ibu lebih penting. Soal Lyn, aku percaya dia perempuan hebat yang kuat, yang mengerti menempatkan kapan waktunya bersedih dan kapan ia harus bahagia. Dia nggak akan bersedih kalau hanya untuk urusan dunia, dia hanya akan bersedih saat urusan akhiratnya dikesampingkan." Luth berusaha membuat ibunya tidak terbebani oleh pikiran buruk di tengah perasaannya yang jauh lebih gundah. sudah sejak tadi Luth memikirkan istrinya itu, tapi apa boleh buat, situasi membuat keadaan menjadi demikian.


"Assalamualaikum..."


Sejurus pandangan tertuju ke sumber suara, tampak Lyn berdiri di pintu dengan senyum lebar, mengenakan pakaian khas wisuda. Wajahnya berseri- seri. Tampak sangat bahagia.


Sungguh Luth tak menyangka, dia pikir istrinya akan pulang dengan wajah yang tak bahagia, namun sebaliknya, istrinya itu justru tampak sangat bahagia.


"Lyn? Bagaimana acaranya?" tanya Luth bangkit berdiri menyambut kedatangan Lyn.


Wanita itu menghambur dan memeluk suaminya. "Alhamdulillah.. Semuanya lancar. Aku seneng banget akhirnya aku bisa melewati masa kuliah dan sampai di titik ini."


Lama Luth terdiam memeluk istrinya


Sampai akhirnya ia mengelus punggung Lyn dan berkata, "Lalu bagaimana dengan acara wisuda mu? Kamu pasti sendirian. Nggak ada satu pun orang dekatmu yang menunggumu. Semua orang pasti mengabadikan momen itu bersama dengan orang tua atau pun orang- orang terdekat. Tapi kamu, satu pun orang terdekatmu nggak ada di sampingmu."


"Iya. Aku sendirian." Lyn melepas pelukan. Namun Luth menahan tubuh dalam pelukannya itu supaya tidak terlepas dari lingkaran kokoh lengannya.


"Hei hei, mau sampai kapan kamu peluk aku gini terus? Nggak enak sama ibu iiiih..." Lyn melepas pelukan. Ia terkekeh. Tak ada sedikit pun kesedihan di wajahnya. sejak tadi wanita itu menampilkan tawa dan senyum.


Alisha menatap haru interaksi putra dan menantunya, matanya berembun.


"Aku tadi memang sendirian. Nggak ada siapa- siapa bersamaku. Tapi itu nggak masalah. jadi jangan pikirkan itu. aku hepi dan enjoy aja. Aku malah kepikiran kamu yang pastinya sibuk banget di rumah ngurusin Emran dan Ibu." Lyn menatap ke arah Alisha. Ia lalu mendekati mertuanya itu.


Alisha merengkuh tangan Lyn dan menatapnya penuh keharuan.


"Ibu, makasih banyak atas doa- doa ibu. Aku begini dan sampai di titik ini juga berkat doa ibu. Seneng banget rasanya." Lyn mencium punggung tangan mertuanya, ia mengangkat kepala merasakan punggung tangannya ditetesi air. Ia melihat ada tetesan air bundar di punggung tangannya.


"Loh, ibu kenapa menangis?" tanya Lyn.


"Maaf, ibu sudah merepotkan kamu. Maaf, ibu menjadi beban kamu. Bahkan seharusnya hari bahagia ini kami ditemani suami kamu, tapi...." Suara Alisha terisak.


"Ibu, jangan ngomong gitu dong. Ibu lucu kalau nangis, entar aku ketawain mau nggak? nggak mau kan? Makanya jangan nangis. Nggak ada beban di rumah ini. Aku bahagia," ucap Lyn dengan senyum dan ekspresi yang tampil bahagia.


Luth tidak menyangka jika ternyata istrinya terlihat tanpa beban dengan semua yang dijalani, justru wanita itu tampak bahagia. Ya Tuhan.


Bersambung


Yuk ramein cerita baru Emma yg udah update banyak di Noveltoon judulnya


TERJERAT PESONA PREMAN INSAF


Tuh, covernya aja udah langsung dibikinin sama Noveltoon loh, editor Noveltoon aja udah langsung kasih perhatian dengan cara itu, artinya isinya gk diragukan lagi. wkwkwk..


Siapa yg udah baca ke sana?



.


.


.


.


.


Love, Emma Shu


😘😘😘