
“Lyn, aku mencintaimu!” seru Luth keras. Bodo amat dengan orang- orang yang menontonnya. Dia sedang berusaha mengambil hati Lyn. Tak peduli orang akan berkata apa.
Lyn berhenti. Ia bingung. Namun kulit wajahnya terasa memanas.
Tak mau memperpanjang drama konyol itu, ia pun balik badan lagi, kini menghadap ke arah Luth. lalu mendekati Luth dan meraih tangan suaminya itu.
“Iya, aku maafin kamu. Udah, jangan begini!” bisik Lyn mendekatkan mulutnya di telinga Luth supaya suaranya didengar dengan jelas oleh Luth. Ia membungkuk dan menarik tangan Luth supaya pria itu bangkit berdiri.
Cup!
Kecupan singkat di pipi Lyn mendarat dari bibir Luth. senyum pria itu mengembang lebar. Muka Lyn makin merah merona. Ia mencubit pinggang Luth.
Pria itu tak merespon atas cubitan istrinya.
“Yeeeeey… Cieee..” Serentak para pegawai ikut senang. Mereka seperti memahami bahwa bos mereka sedang memiliki masalah dengan snag istri. Dan inilah cara sang bos menaklukkan hati istrinya. Itulah yang mereka tangkap dari drama barusan.
Luth merangkul pundak Lyn, bahagia sekali. Harapannya untuk mendapatkan maaf dari Lyn telah terkabul.
“Kenalkan semuanya, ini adalah Lyn. Istri saya!” ucap Luth memperkenalkan istrinya di hadapan para pegawainya.
Semuanya menganggukkan kepala tanda hormat.
Lyn merasa sangat dihormati.
“Senang bertemu dengan Mbak Lyn!” seseorang menyahut.
Lyn pun melempar senyum.
“Baiklah, kalian kembali bekerja. Aku akan mengantar istriku pulang,” uap Luth.
“Loh, program endorse nya gimana, Mas? Bisa dilanjutkan kan?” tanya asisten.
“Nanti kita bicarakan. Semuanya tergantung pada istri saya.” Luth menggandeng Lyn meninggalkan ruangan.
***
“Jadi, kamu kemana selama beberapa hari ini?” tanya Luth saat diperjalanan menuju pulang. Mereka duduk berdua di dalam mobil.
“Aku di rumah Mama Amina,” jawab Lyn.
“Loh, tapi Bik Ita bilang kamu nggak ada di rumah mama Amina. Aku sempat ke sana untuk menanyakanmu.” Luth mengernyit heran.
“Sengaja. Aku yang suruh Bik Ita supaya tutup mulut,” jawab Lyn dengan seulas senyum.
“Mama sakit keras. Mama menangis saat melihat aku datang kepadanya. Mama memeluk aku,” kenang Lyn. Mengingat kejadian saat pertama kali ia pulang ke rumah. “Mama hanya bisa terbaring di kasur. Badannya kurus. Tapi kata Bik Ita, kondisinya itu udah mendingan dari sebelumnya.”
“Aku turut prihatin.” Luth iba.
“Mama juga menanyakanmu.”
“Subhanallah. Apakah mama sudah menerimaku?” Luth membelalak.
“Kita perlu menjenguk mama bersama- sama. Sepertinya mama sudah membukakan hatinya untukmu. Ada hikmah dari sakit keras yang diderita oleh mama. Mungkin mama merenungi kondisinya dan mulai memahami kita.”
“Syukurlah. Kalau begitu, nanti kita ke rumah mama Amina, bawa Emran dan ibu Alisha juga,” ucap Luth.
“Tentu.”
Kepulangan Lyn ke rumah membawa kebahagiaan tersendiri bagi Alisha. Wanita itu mencium dan memeluk Lyn berulang kali sambil mengatakan bahwa menantunya itu adalah menantu yang baik.
Lyn terharu atas sambutan mertuanya. Namun ia hanya bisa tersenyum dan tak sanggup berkata- kata.
***
Seperti yang dibicarakan, Luth bersama dengan Alisha dan Lyn untuk menjenguk Amina.
Tampak Amina terbaring di atas kasur, tubuhnya diselimuti sampai ke dada. Kurus sekali. Rambutnya disisir rapi oleh Bik Ita.
“Rumah sakit sudah tidak ada yang sanggup mengatasi sakitku. Aku dirawat di rumah sudah berbulan- bulan lamanya. Kepalaku sakit. Katanya kanker otak,” jelas Amina. Ia menatap Alisha, kemudian Luth, Lyn, dan terakhir Emran yang berada di gendongan Lyn. Ia sudah tahu bahwa Lyn mengadopsi bayi.
( Emma update rutin cerita
ISTRI PRESDIR YANG TERTUKAR di apli kasi
F i z z o, yuk baca ke sana yah. Baca gratis )
Kafabi kehilangan saudara kembar untuk selamanya. Ia pun masuk di kehidupan Khalil Kahn Khafid sebagai Kaira untuk mencari pelaku dibalik kematian saudara kembarnya, sekaligus menggantikan posisi Kaira sebagai istri Khalil, presdir di perusahaan ternama. Kejanggalan demi kejanggalan pun mulai ditemukan oleh Kafabi.
.
.
.