DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Petuah Agung


“Ibu tahu, kamu bersikap begini karena kamu beranggapan bahwa penghasilanmu itu adalah harga dirimu.  Tapi bukan begitu caranya memahami situasi, Luth.  Letak harga diri laki- laki bukan pada penghasilannya.  Tapi pada kemuliaannya memperlakukan wanita.  Sebaik- baik laki- laki adalah yang paling baik pada wanita.  Itulah laki- laki yang memiliki harga diri yang tinggi.  Dan ibu yakin kamu juga paham soal itu.”  Alisha menimang Emran yang mulai merengek karena bosan berada di pangkuan.


Luth menunduk.


“Urusan penghasilan laki- laki memang sensitif.  Apa yang ibu ucapkan ini benar kan?  Kamu bersikap begitu terhadap Lyn karena kamu merasa rendah diri atas diri Lyn.  Istrimu memiliki harta, bahkan dia malah hidup sederhana saat bersamamu.  Lalu sekarang Lyn memiliki pendapatan lebih.  Kamu semakin terpuruk karenannya.  Benar begitu kan?” tebak Alisha.


Luth mengusap wajahnya yang lelah.  Ia menarik napas panjang.  Lalu mengangkat wajah itu dan menatap ibunya dengan sayu.  “Aku salah, ibu.  Aku merasa nggak bisa membahagiakan Lyn.  Dan Lyn berjuang sendiri untuk kehidupannya, juga kehidupanku.  Aku jadi merasa tidak berguna.  Aku merasa rendah diri.”  Luth beberapa kali menghela napas untuk menenangkan diri.


“Kamu seharusnya sadar bahwa kamu itu beruntung memiliki istri sekuat, setegar dan semulia Lyn, yang mampu memahamimu dengan sepenuh hati, yang selalu mendampingimu dalam susah dan senang.  Singkirkan perasaan rendah dirimu itu, sebab itu yang malah hanya akan menghancurkan dirimu sendiri.  Itu adalah hasutan setan.  Apa kamu nggak takut kehilangan istri sebaik Lyn?  Kemana kamu akan mencari wanita semulia dia?  Yang rela mengurus mertua, rela menerima keputusanmu meski itu membuatnya menderita.  Apakah dia pernah mengeluh?  Apakah dia pernah minder?  Apakah karena hal itu, Lyn terlihat sebagai istri yang sangat durhaka?  Jawabannya, tidak!”


Luth tergugu, dia bersikap begitu karena terhasut oleh semua perkataan Hud.  Ia juga merasa rendah diri, rasa yang mengantarkannya pada hati yang selalu panas setiap kali Lyn mendapatkan penghasilan yang lebih.


“Jangan menjadi laki- laki kaku, yang langsung marah bila perkataanmu tidak dituruti.  Lalu mengatakan bahwa istrimu tidak taat.  Jangan menyalah artikan kebaikan Lyn.  Okelah Lyn itu salah karena tidak mentaati ucapanmu, tapi kamu harus bisa memilih mana yang perlu dipermaslaahkan, dan mana yang tidak.  Jika memang tujuan Lyn baik, lalu kenapa kamu melarangnya, bahkan mempermasalahkannya.  Bukan karena alasan Emran terjatuh yang membuatmu mempermasalahkan hal ini, tapi karena kamu merasa rendah diri bila pendapatanmu terlihat terpuruk dengan penghasilan Lyn yang lebih darimu.  singkirkan pemikiran itu, Luth.  ijinkanlah istrimu yang tulus itu melakukan kegiatannya yang positif.  Toh ini bukan perkara negatif!”


“Ya Allah, maafkan aku, ibu.  Maaf.  Aku sudah melakukan kesalahan besar dengan mempersalahkan Lyn dalam hal ini.”  Luth meraih tangan ibunya.


“Ibu tahu kamu itu paham bagaimana memperlakukan istri.  kamu adalah anak yang baik, kamu lah yang selama ini merawat ibu.  Kamu tentu juga paham bagaimana Lyn merawat ibu, sama seperti kamu merawat ibu.  Dia tulus.  Kamu hanya sedang khilaf.”


“Selama ini aku terlalu sibuk mengurus pekerjaan, menghitung banyak hal di laptop.  Pulang sampai larut malam, itu karena aku sedang ada bisnis bagus yang sedang aku coba jalankan.  Tapi semuanya butuh proses.  Aku sedang berjuang untuk bangkit.  Dan Alhamdulillah Allah menjawab doa- doaku.  Hari ini sebenarnya adalah peresmian bisnis yang baru aku jalankan, aku sudah berhasil membuka usaha baru yang aku bangun dari nol.  Dan ini baru akan berjalan.”


“Jadi kamu sudah menjadi pengusaha sekarang?”  Alisha menatap haru wajah sulungnya.


“Itulah sebabnya kamu terlihat sangat sibuk dengan kertas- kertas, laptop dan entah apa yang selalu kamu hitung itu?” tanya Alisha.


Luth mengangguk.


“Syukurlah.  Alhamdulillah, Ya Allah.”  Alisha terharu.


“Tapi keadaan rumah tanggaku malah begini.  Padahal aku baru saja memulai semuanya.  Aku baru saja akan menunjukkan bahwa aku telah berhasil dengan usahaku.  Tapi…”


“Ayo, semuanya masih bisa diperbaiki,” potong Alisha.  “Carilah kemana Lyn.  Dia pasti sedang sangat sedih sekarang.  Seorang wanita sekuat Lyn tidak akan pergi begitu saja jika hatinya tidak terluka parah.”  Alisha mengusap kepala sulungnya.  


Luth menghubungi nomer telepon Lyn, namun tidak tersambung.  Nomer hape istrinya dalam keadaan tidak aktif.


“Aku akan pergi mencari Lyn.  Ridhai aku, Bu.  Ridhai supaya Lyn masih mau memaafkan aku.  aku takut dia akan marah padaku dan tidak menerima aku lagi,” ucap Luth.


“Ibu akan selalu berdoa yang terbaik untuk kalian berdua.”  Luth bangkit berdiri, melangkah keluar.  


Bersambung