DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Mencari Lyn


Luth berpapasan dengan seorang wanita kisaran empat puluh tahun di teras saat hendak keluar. Wanita itu menganggukkan kepala tanda menyapa sambil melempar senyum sopan.


"Ibu siapa?" tanya Luth.


"Saya disuruh Mas Hud kemari," jawab ibu itu.


"Oh.." Luth sampai lupa kalau ia akan kedatangan pengasuh Emran dalam sehari.


Luth menoleh ke arah ibunya yang sudah berdiri di sisinya.


Alisha melempar senyum sopan pada wanita itu. "Terima kasih sudah mau datang. Tapi maaf, kamu nggak jadi mengasuh Emran. Soalnya saya sudah sehat dan saya sendiri yang akan mengasuh Emran. Maaf ya!" Alisha berkata dengan sangat sopan. Ia hanya tidak ingin Lyn akan semakin tersinggung bila Luth benar- benar mencari pengasuh untuk Emran tanpa sepengetahuan Lyn. Kecuali Luth dan Lyn sudah sama- sama runding baik- baik mengenai baby sitter, maka itu tidak akan menjadi masalah. Sekarang masalahnya Lyn tidak diijinkan menyentuh Emran karena alasan emosi, dan tiba- tiba Luth benar- benar mencari pengasuh untuk Emran tanpa membicarakannya terlebih dahulu pada Lyn. Ini akan menambah luka bagi Lyn, jadi lebih baik tidak usah.


"Oh, nggak apa- apa, Bu. Saya mah nggak masalah. Jadi ini saya balik lagi aja ke rumah Mas Hud ya, Bu?" tanya pembantu itu.


"Iya, Bibi kembali ke rumah Hud aja."


"Tapi apa ibu yakin ibu bisa menjaga Emran? Ibu kan baru sembuh dari sakit." Wanita itu tampak enggan meninggalkan rumah itu.


"Saya nggak apa- apa. Saya sehat. Alhamdulillah." Alisha meyakinkan.


"Sebenarnya... Saya juga heran kenapa Mas Hud jarang kemari menjenguk ibunya, padahal kan ibunya baru pulang dari rumah sakit pasca operasi. Mereka mah seringnya pulang ke rumah orang tuanya Mbak Yesa. Mas Hud itu takut istri, apa saja yang diminta Mbak Yesa pasti diturutin, abisnya Mbak Yesa itu orangnya cerewet, marah saja bawaannya. Padahal kan sedang hamil gede tuh. Tapi kok begitu." Wanita itu terlihat bicara panjang lebar.


Alisha mengulum senyum. "Seorang ibu bisanya mendoakan yang baik- baik untuk anaknya. Ya sudah, bibi balik lagi aja ke rumah Hud.”


“Oh iya, ini ada sedikit uang untuk Bibi.  Untuk beli makanan di jalan."  Luth mengeluarkan uang dari dompetnya.


“Loh, kok saya malah dikasih uang, toh?  Saya kan nggak kerja?” Wanita itu keheranan.


“Nggak apa- apa.  Untuk ongkos di jalan,” jawab Luth.


***


Pikiran Luth terbagi dua.  Ia sedang mencari keberadaan Lyn di tempat- tempat yang kemungkinan Lyn sering mengunjunginya, namun juga memikirkan peresmian kantor yang merupakan hasil jerih payah usaha yang baru dia mulai, bergerak di bidang pembuatan produk makanan pabrik, mie instan, jajanan, serta produk makanan lainnya.


Sayangnya Luth tidak bisa menghadiri acara itu.  Ia pun menyerahkan sepenuhnya kepada tangan kanannya untuk meng- handle urusannya di kantor.


Luth melalang buana, mendatangi ke rumah kakak- kakaknya Lyn, namun hasilnya niil.  Justru kedatangan Luth ke sana malah membuat saudaranya Lyn bertanya- tanya, ada apa dengan Luth kenapa bisa sampai mencari keberadaan istrinya.  Apakah mungkin ada masalah di keluarga mereka?


“Apakah Lyn mampir kemari, Kak?” tanya Luth pada Arga, kakak tertua Lyn.  “Lyn katanya mau ke rumah kakak.  Apa dia udah sampai kemari?”  beginilah cara Luth mempertanyakan keberadaan Lyn tanpa ingin membongkar aib dalam rumah tangganya.  


“Oh… Nggak ada.  Lyn belum datang kemari.  Katanya dia mau kemari ya?” tanya Arga yang menyambut Luth di pintu.


“Iya.”


“Kamu nggak coba telepon dia?” tanya Arga.


“Justru itu, nomernya nggak aktif.  Sepertinya hape nya lowbet.  Rencana aku akan mengajaknya pulang bareng.  Atau dia ada di rumah Kak Aldeva?” tebak Luth menggiring opini.


“Baik, biar aku telepon dia.  siapa tahu Lyn mampir di rumah Aldeva terlebih dahulu sebelum kemari.”  Arga menelepon Aldeva, menanyakan Lyn.  Dan jawabannya tidak seperti yang diinginkan, Lyn tidak ada di rumah Aldeva.


Dengan perasaan kecewa, Luth pun meninggalkan rumah Arga.  Ia bingung harus kemana lagi, tujuannya tak menentu.  Bahkan smeua teman- teman Lyn juga mengatakan bahwa mereka tidak melihat Lyn.


Oh ya… Luth ingat satu nama, kenapa ia tidak mengunjungi ke sana?  Segera Luth mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Bersambung