
Berbaring miring, Lyn membelakangi Luth yang sedang sibuk entah melakukan apa. Sepertinya pria itu tengah mencari pakaian di lemari, lalu mengenakannya.
Lyn memejamkan mata, berusaha untuk membuat matanya itu tertidur. Kenyataannya ia salah, mata terpejam, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Alam mimpi oh alam mimpi, kemana kalian?
Lyn mendengar suara tust-tust laptop, juga suara gesekan kertas. Luth sepertinya sibuk sekali dengan urusan laptopnya.
Dua jam berlalu, Lyn tidak bisa tidur, posisinya masih tetap sama, membelakangi Luth. Demikian juga Luth yang masih sibuk dengan pekerjaannya, entah apa yang dilakukan pria itu dengan kesibukannya, Lyn tidak berani menoleh ke arah Luth meski ia tidak bisa tidur, takut dikira mengharap sesuatu. Ups.
Tak lama, Lyn mendengar langkah kaki mendekati kasur, lalu merasakan kasur di belakangnya bergerak, Luth naik ke kasur. Lalu lampu mati. Berganti lampu tidur yang menerangi kamar. Pandangan berubah menjadi remang- remang. Luth menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, tak lain selimut yang sama digunakan oleh Lyn.
Di kasur yang tidak seberapa luas itu, yang bila Lyn bergerak dengan bebas, atau sekedar berguling, pasti tubuh Lyn akan terjatuh jika tidurnya tidak berhati-hati.
Entah sudah berapa lama Lyn memejamkan mata, namun tak kunjung terlelap. Ada apa ini? Kenapa begitu sulit mengarungi mimpi? Apakah karena ia baru pertama kali tidur bersama dengan laki-laki? Atau karena ini pertama kalinya tidur di kamar orang lain?
Tubuh Lyn sudah pegel sekali, berbaring miring tanpa sedikit pun mengubah posisi itu. Saat tubuh Lyn sudah benar-benar terasa penat, kesemutan, ia pun menggerakkan tubuh, mengubah posisi menjadi telentang. Kepalanya pelan menoleh ke samping, tepat ke wajah Luth, ingin melihat apakah pria itu sudah tidur?
Lyn terkejut, tepat pandangannya bertemu dengan mata Luth. Oh... Pria itu ternyata belum tidur. Masih bermain ponsel yang setia di tangannya, posisinya setengah duduk, punggung menyandar di sandaran bed. Wiyuuh... Ternyata Luth juga tidak bisa tidur. Hi hi hiiiii....
Beberapa detik keduanya bertukar pandang.
"Kenapa?" lirih Luth dengan alis terangkat. "Belum tidur?"
Lyn memalingkan wajah. "Nggak ngantuk."
Pandangan Luth tertuju ke dada Lyn, yang menampilkan pemandangan berbeda saat kancing baju bagian atas gadis itu terbuka, membuat benda di dalamnya sedikit terlihat. Efek posisi tiduran, tanpa sadar baju pun jadi berantakan. Secepatnya Luth mengalihkan pandangan.
"Gerah banget," ucap Luth sambil menyibakkan selimut, menyingkirkannya dari tubuhnya. Ia turun dari kasur, mendekati kipas angin dan menyalakannya. Kipas berputar, angin pun menyejukkan ruangan.
"Ini beneran kamu ngidupin kipas sekenceng ini?" tanya Lyn. "Aku bisa masuk angin."
"Gerah. Kamu pakai selimut aja."
"Aku nggak terbiasa tidur pakai kipas angin begini, yang ada malah masuk angin dan besok pagi sakit."
"Kamu mau bilang kalau kamu terbiasa pakai Ac, begitu? Ya udah lusa kalau ada uang aku beliin Ac. Sekarang pakai kipas aja dulu," ucap Luth sambil melempar tubuhnya ke kasur.
"Hadapin ke arah kamu aja kipasnya, jangan sampai kena aku," ujar Lyn.
"Kamu benerin aja arahnya sana. Nanti kalau aku yang benerin, bisa bisa salah lagi."
Lyn pun turun dari ranjang, lalu memutar kipas angin yang hanya mengarah ke arah Luth.
Posisi Lyn yang menunduk saat membetulkan arah kipas angin, lagi-lagi membuat Luth menyaksikan pemandangan di balik baju gadis itu.
Lyn kemudian kembali ke kasur.
"Bisakah kamu kancing bajumu itu? Sejak tadi meresahkan," ucap Luth kemudian memalingkan wajah.
Lyn sontak membelalak saat menunduk dan menyaksikan kancing bajunya yang terbuka. Cepat-cepat ia mengancingnya dengan muka memanas.
Sial, jangan-jangan Luth mengira kalau sejak tadi Lyn sedang berusaha menggoda dan memancingnya? Duuuh.... Malu banget. Lyn melirik Luth yang sudah berbaring dan terpejam. Cepat- cepat Lyn berbaring, menutup tubuhnya dengan selimut sampai ke kepala.
Loh, bagaimana ini? Awalnya Lyn sudah mewanti wanti posisi tidur supaya tidak melompati batas bantal guling yang tadinya sudah ia pasang di tengah-tengah. Sekarang bantal guling itu entah kemana.
Lyn canggung sekali untuk mengubah posisinya. Sedangkan Luth diam saja. Pelan, ia menarik lengannya yang berada di atas pinggang Luth, persis seperti sedang merangkul pria itu.
"Apa kamu menyangka akan bisa tidur berdua denganku begini, menjadi istriku seperti sekarang?" tanya Luth.
"Enggak."
Berharap sih iya.
"Apa kamu mau kalau aku..."
Plak!
Bedak tabur baby yang diletakkan di meja tiba-tiba terjatuh saat Luth tanpa sengaja menggerakkan satu lengannya dan malah menyenggol sisi meja. Bedak meloncat dan mendarat tepat di tengah-tengah mereka. Luth mengangkat bedak tabur bayi yang biasanya ia gunakan untuk mengolesi kulit saat gatal itu untuk mengembalikannya ke tempat semula, sayangnya bedak yang telah terbuka itu bertaburan dan mengenai rambut Lyn.
"Luth, botol bedaknya kebuka, tuh." Lyn berusaha menghindari.
Luth sontak menegakkan posisi bedak supaya tidak tumpah.
Lyn dengan cepat merampas botol bedak, lalu menyemprotkan bedak ke arah Luth.
"Rasain ini pembalasanku. Enak aja numpahin bedak ke rambutku," ucap Lyn.
Luth pun melompat turun dari ranjang. "Cukup! Berantakan semuanya tuh!"
Lyn terkekeh melihat rambut dan wajah Luth yang menjadi putih akibat taburan bedak. Kemudian ia menghambur ke kamar mandi, namun belum sempat kakinya menginjak kamar mandi, Luth sudah lebih dulu mencekal tangannya. Pria itu menarik lengan Lyn, membuat tubuh Lyn berputar dan menubruk dada bidang Luth.
Kedua lengan Luth melingkar di tubuh Lyn. "Minta ampun nggak? Atau akan ku ikat tubuhmu begini?"
Jantung Lyn berdetak kencang merasakan lengan Luth yang melingkar di dadanya. Apakah Luth merasakan benda kenyal itu dalam dekapannya?
"Luth, lepasin! Kamu mencet dadaku!" ucap Lyn membuat Luth sontak melepas lingkaran lengannya.
"Ya udah, mandi sana!" ucap Luth sambil mengusap wajah canggung. Ia membiarkan Lyn mengambili pakaian dan handuk lalu masuk ke kamar mandi. Kepalanya menggeleng.
Seusai Lyn mandi, ia keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan mengenakan pakaian, lalu ngeloyor keluar kamar melewati Luth yang duduk di sisi kasur.
Lyn bergegas ke dapur, mengurus pekerjaan dapur. Namun Alisha melarangnya. Alisha mengatakan supaya Luth membeli sarapan di warung saja, tanpa perlu adanya kegiatan memasak khusu hari ini.
"Wah, ibu bakalan cepet dapet cucu ini, pagi ini rambutnya pada basah," ucap Alisha menatap sosok di belakang Lyn.
Secepatnya Lyn menoleh ke belakang, tepat menatap Luth yang berdiri di belakangnya. Weh, rambut pria itu juga basah. Alisha tidak tahu kalau sebenarnya rambut mereka basah karena terkena bedak.
BERSAMBUNG
Klimaksnya masih jauh, santai aja dulu yah 😜😜