Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 99


" Raka_..." lirih Erina semakin terisak.


" Selamat ulang tahun, Mama..." ucap Raka dengan tersenyum kemudian mencium pipi kanan dan kiri mamanya.


Adam membawa tumpeng nasi kuning lengkap beserta lauknya. Sedangkan Ricko, Sandra, Hans dan Delia mengekor di belakang Adam.


" Selamat ulang tahun, Erina..."


Mereka semua memeluk Erina secara bergantian. Adam meletakkan tumpeng itu diatas meja lalu semuanya duduk di sofa.


" Rin, suami kamu sehat...?" tanya Adam.


" Tau tuh! Dari tadi nggak bangun - bangun..." sahut Erina.


" Ya sudah, kita makan sekarang saja. Aku laper belum sarapan..." rengek Hans.


Arvan yang mendengar suara berisik langsung terbangun. Dia tak mendapati sang istri yang semalam dalam dekapannya.


Arvan duduk lalu menoleh ke arah sofa yang sudah terdapat banyak orang memenuhi ruangan itu. Mereka semua sedang tertawa seperti ada pesta.


Raka yang menyadari papanya sudah terbangun langsung lari menghampirinya.


" Papaaa...!" Raka memeluk Arvan setelah naik ke brankar.


" Hei... sayang, kamu seneng banget hari ini. Kenapa semua orang berkumpul disini...?" tanya Arvan bingung.


" Kami mengadakan pesta kecil - kecilan untuk mama...."


Arvan yang baru akan bertanya lagi terhenti karena ketukan pintu diluar. Hans berjalan membuka pintu lalu masuklah beberapa dokter dan para petinggi rumah sakut termasuk kepala rumah sakit sendiri.


" Nyonya Erina, saya sebagai kepala rumah sakit disini mewakili seluruh staff dan para dokter di rumah sakit ini mengucapkan selamat ulang tahun kepada Anda, semoga bahagia selalu selamanya..."


" Terimakasih, pak. Hari ini saya benar - benar sangat bahagia..." ucap Erina.


" What? Ulang tahun...? Gawat, kenapa aku sampai tidak tahu. Bahkan seluruh penghuni rumah sakit ini saja memberikan selamat. Bodoh kamu Arvan...!" umpat Arvan dalam hati.


" Raka, kenapa tidak bilang sama papa kalau mama sekarang ulang tahun..." bisik Arvan.


" Memangnya papa tidak tahu...?"


" Kalau tahu tidak akan tanya..."


" Siap - siap saja mama ngamuk..." celoteh Raka.


" Sayang, jangan menakuti papa seperti itu..."


Semua orang kini menatap tajam kepada Arvan yang baru bangun tidur. Erina sendiri acuh dan mengabaikan keberadaan suaminya.


Kepala rumah sakit dan para bawahannya segera pamit untuk kembali bekerja daripada melihat drama sang pemilik rumah sakit itu.


" Sayang, maaf ya...? Aku tidak tahu hari ini kamu ulang tahun..." ucap Arvan sambil nyengir.


" Tidak apa - apa, lagian aku tidak butuh ucapan selamat darimu..." jawab Erina sinis.


" Kak Hans, bagaimana keadaan kak Selly dan Sam...?" tanya Erina serius.


" Selly harus di amputasi kedua kakinya karena tembakan Raka meremukkan tulangnya, sedangkan Samuel masih melewati masa kritis akibat tiga peluru yang bersarang di dadanya..." jawab Hans.


" Selesai sarapan, temani aku menemui Samuel ya, kak...?"


" Untuk apa...?" tanya Hans.


" Tidak tahu, tapi rasanya aku pengen banget bertemu dengan Samuel..." ucap Erina.


Arvan beranjak dari tempat tidurnya seraya menggendong Raka lalu duduk di samping istrinya.


" Apa dia sudah sadar, sayang? Aku juga ingin bertemu dengannya. Bagaimanapun juga, dia sudah menyelamatkan kita..." ujar Arvan.


" Kak Arvan mandi dulu sana, bajunya saja masih ada darahnya begitu dari kemarin nggak ganti..."


" Iya, soalnya semalam capek banget jadinya langsung tidur nggak sempet ganti baju..."


" Sama saja dengan Hans, dia juga baru ganti baju tadi..." sahut Delia.


" Jadi Hans tidak pulang ke rumah semalam...?" tanya Hans.


Hans hanya nyengir sambil bersandar di bahu kekasihnya. Dia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Arvan.


" Semalam dia menginap di ruanganku..." jawab Delia.


" Ya sudah aku mau mandi dulu. Raka, kamu sama Uncle Adam dulu sana..." kata Arvan.


" Iya, pa..."


Semua melanjutkan sarapan nasi kuning buatan Adam yang sangat enak sembari menunggu Arvan mandi.


Adam menyuapi Raka dengan telaten sambil duduk di brankar saat pintu di ketuk dari luar. Adam memberikan piringnya kepada Raka lalu membuka pintu.


" Permisi, Tuan. Kami ingin bertemu dengan Erina..."


Sepasang suami istri datang dengan wajah sedikit pucat.


" Kalian siapa...?" tanya Adam.


" Kami orangtua dari Samuel..." jawab wanita paruh baya itu dengan wajah sendu.


" Tunggu dulu disini, saya akan bicara dulu dengan Erina..."


Adam kembali masuk lalu duduk di samping Erina dengan ragu.


" Siapa, Dam...?" tanya Erina.


" Mmm... itu orangtuanya Samuel, ingin bertemu denganmu..." jawab Adam.


" Ya udah, suruh mereka masuk..."


" Baiklah, tunggu sebentar..."


Adam kembali keluar untuk memanggil kedua orangtua Samuel. Dia tak mengerti mengapa Erina begitu mudahnya menerima kehadiran orangtua Samuel.


" Om, tante..."


Erina bergantian memeluk orangtua Samuel yang sudah ia anggap sebagai orangtuanya sendiri.


" Erina... maafkan Samuel. Tante tahu dia bersalah, tapi tante mohon jangan membencinya..." ucap mama Sam dengan terisak.


" Tante jangan menangis, sampai kapanpun Sam adalah sahabat Erina dan sudah aku anggap seperti saudara..." tutur Erina.


" Kamu tidak membenci Sam, Erin...?"


" Tidak, tante. Kalian adalah satu - satunya keluarga yang bisa menerima Erina. Sejahat apapun Sam kepadaku, dia tetaplah saudaraku selamanya..."


" Terimakasih, Nak. Tante tahu kamu tidak pernah berubah, tetap baik seperti dulu..."


" Erina, sebenarnya kami kesini ingin meminta tolong padamu agar mau menemui Sam. Dia sudah sadar dan terus saja menyebut namamu..." ucap papa Samuel.


" Ya udah, Om. Kita pergi sekarang juga..."


" Iya, Nak. Tante takut Sam tidak punya kesempatan untuk meminta maaf padamu..."


" Tidak, tante. Sam pasti selamat..."


Semua pergi ke ruang ICU tempat perawatan Samuel. Hanya Erina dan Arvan yang diperbolehkan masuk yang lain menunggu di luar.


" Sam..." panggil Erina pelan.


Erina tak dapat menahan airmatanya melihat keadaan Sam yang begitu parah. Wajahnya terlihat pucat, matanya sayu seraya meneteskan airmata saat mata mereka saling beradu.


" Sam... kamu pasti sembuh, kamu harus kuat..."


" Maaf... maafkan aku, Erin. Aku sangat bodoh..." lirih Sam.


Suara Samuel hampir tak terdengar. Nafasnya tersengal hampir putus.


" Tidak, Sam. Kau teman terbaikku, aku tidak akan pernah membencimu..."


Erina menggenggam erat tangan Sam seraya meneteskan airmata yang terus menangis.


" Jangan menangis, Erin. Aku tidak mau wajah cantikmu itu memudar karena airmata yang tak berguna itu..."


" Sam, kamu harus bertahan. Demi orangtuamu dan juga aku..."


" Aku titip papa dan mama, ya...?" ucap Sam lirih seraya menahan sakit di seluruh tubuhnya.


" Sam, kamu tidak akan pergi kemanapun. Kita akan tetap bersama seperti dulu..."


" Maaf, Erin. Sepertinya aku tidak bisa lagi menjagamu seperti dulu. Terimakasih untuk waktu semalam kau mau dinner bersamaku di danau. Walaupun kita tidak sempat bercengkerama di atas pohon seperti waktu sekolah dulu, tapi aku sudah merasa lega bahwa kau tahu jika aku sangat mencintaimu..."


Arvan hanya diam melihat keduanya menangis. Sungguh kali ini tidak ada rasa cemburu sedikitpun di hatinya. Dia malah merasa iba dengan nasib persahabatan Erina dan Samuel yang berakhir tragis.


" Aku sayang padamu, Sam..." lirih Erina.


" Tuan Arvan, to... tolong jaga... jaga Erina dengan baik. Dia sebenarnya gadis yang sa...ngat le... lemah..." ucap Sam terbata.


" Saya akan menjaga Erina dengan baik, Anda tidak perlu khawatir. Erina di kelilingi oleh orang - orang yang sangat sayang padanya..."jawab Arvan dengan tersenyum.


" Maafkan... saya, su...sudah membuat Erin terluka..."


" Tidak, Sam. Kau sudah menyelamatkan nyawa kami. Kami mengucapkan banyak terimakasih padamu..." ucap Arvan.


" Sam, jangan bicara seperti itu. Kita akan naik pohon itu lagi berdua, aku janji padamu..." lirih Erina seraya mengusap airmatanya.


" Gadis cengeng, jangan menangis lagi. Aku ingin kau berjanji untuk tidak melupakan kenangan kita. Kau sudah menemukan jodohmu sekarang yang bisa kau ajak naik ke atas pohon seperti impianmu dulu. Kau ingat...?"


" Iya, Sam. Aku mengingatnya..."


" Tugasku sudah selesai menjagamu, sekarang waktunya aku pergi. Se...sela...mat tinggal, Erina Clarissa. Bahagialah selalu... jangan per...nah ada airmata kesedihan lagi, karena tanganku tidak akan bisa untuk menghapusnya seperti dulu..."


" Sam...!"


Uhuukkk! Uhuukkk!


" Saaammmm... tidaaakkkk!"


.


.


TBC


.


.