Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 104


" Kalian tak mengundang kami...?"


Pria paruh baya berdiri bersama istrinya dengan membawa bingkisan kecil.


" Kakeekkkk... Neneekkk...!" teriak Raka.


Raka menghamburkan diri pada dekapan kakek dan neneknya.


" Bagaimana kabarmu disini, sayang...?" tanya Nenek.


" Baik, Nek. Kapan kalian datang...? Kenapa tidak minta di jemput...?"


" Inikan buat kejutan ulang tahun kamu, sayang..."


" Oh iya, ini kakek punya hadiah buat kamu, tapi dibuka dirumah nanti..." ucap Tuan Regan.


" Terimakasih, kek..."


" Sama - sama, cucuku..."


Erina dan yang lainnya juga langsung bergantian memeluk orangtuanya kecuali Ricko dan istrinya.


" Ayah, ibu... kapan kalian sampai...? Kok jam segini udah ada disini...?" tanya Arvan penasaran.


" Sudah dari siang disini, Ricko yang jemput terus mampir di rumah besan dulu..." jawab ibu.


" Pantas saja mereka tidak kaget saat ayah dan ibu datang. Ayo kita potong kuenya bersama..." ajak Arvan.


Raka segera meniup lilin lalu dilanjutkan dengan acara makan bersama. Semua terlihat bahagia terutama anak - anak panti yang belum pernah menghadiri acara mewah seperti ini.


Malam semakin larut dan acaranya sudah dibubarkan. Anak - anak disuruh kembali ke kamarnya masing - masing. Raka juga sudah kelihatan lelah dan mengantuk hingga mereka segera berpamitan dengan ibu panti dan pengasuh lainnya.


Arvan pulang bersama anak, istri dan kedua orangtuanya. Adam lebih memilih menumpang mobil Ricko daripada ikut Hans yang harus mengantar Delia ke Apartemennya karena tadi Delia ke panti dengan taksi.


Arvan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang di jalanan yang lumayan sepi. Dia merasa kembali mual dan tubuhnya terasa tak berdaya.


Arvan menepikan mobilnya tiba - tiba di bahu jalan lalu berlari untuk memuntahkan isi perutnya.


Hoeekkk!


Erina langsung keluar dari mobil menyusul suaminya yang kini terduduk di tanah.


" Kak Arvan kenapa...?" tanya Erina cemas.


" Nggak tahu, sayang. Kepalaku pusing, rasanya perutku juga mual terus..." jawab Arvan lemas.


Ayah Regan keluar dari mobil membawa sebotol air mineral diberikan kepada anaknya.


" Minumlah, biar mulutmu tidak pahit. Nanti kita berhenti di Minimarket untuk beli minuman yang manis untuk menghilangkan rasa mual..." ujar Ayah.


" Terimakasih, Yah..." sahut Arvan.


Setelah kondisi Arvan kembali stabil, Erina memapahnya kembali ke mobil.


" Biar Erin saja yang bawa mobilnya..." ucap Erina.


" Terimakasih, sayang..."


Mobil kembali melaju di jalanan menuju kediaman Arvan. Pria itu kini tengah tertidur di samping Erina dengan wajah sedikit pucat.


" Kak, kamu kenapa...? Apa sakitmu parah...?" batin Erina.


Tak lama mereka sampai di rumah. Erina memapah tubuh Arvan dengan tertatih. Sementara Ayah langsung menggendong Raka ke kamarnya.


Erina meminta bantuan Adam untuk membawa Arvan ke kamar karena sangat sulit membawanya sendiri menaiki tangga.


" Rin, buatkan teh hangat untuk suamimu biar aku yang bawa keatas..."


" Iya, aku ke dapur dulu..."


Adam memapah Arvan yang lemah tak berdaya dengan nafas yang tersengal.


" Sumpah kau sangat berat, Tuan. Seharusnya Anda dibawa ke rumah sakit..." ujar Adam.


" Diam kau! Aku tidak mau ke rumah sakit...!" bentak Arvan.


" Jangan marah - marah, nanti cepat tua Boss..." seloroh Adam.


" Bisa diam atau tidak kau...!"


Baru saja hendak mencapai tempat tidur, Arvan kembali mual dan meminta Adam mengantarnya ke kamar mandi.


" Untung majikan, kalau tidak udah aku lempar keluar jendela..." batin Adam.


Erina yang baru masuk ke kamar melihat Arvan di papah Adam keluar dari kamar mandi.


" Sayang, aku panggil Dokter ya...?" bujuk Erina.


" Tidak usah, aku hanya mual saja. Besok juga sembuh..." tolak Arvan.


" Rin, saya keluar dulu. Kau paksa dia biar mau ke rumah sakit..." bisik Adam.


" Iya, terimakasih sudah membantu..." sahut Erina.


" Ini adalah bagian dari tugasku sebagai asisten..."


Adam tersenyum lalu keluar dari kamar Erina. Pria itu langsung membersihkan diri di kamarnya sebelum beristirahat.


Saat Adam ingin merebahkan diri di tempat tidur, dia kaget menindih seseorang di bawah selimut.


" Aakkkhhh...!"


" Hah...! Siapa kau...!" teriak Adam.


Lampu yang sudah dimatikan membuat Adam tak bisa melihat dengan jelas siapa yang ditindihnya.


" Ini Raka, Uncle..." pekik Raka menahan sakit.


Adam langsung menyalakan lampu untuk melihat makhluk yang ia tindih.


" Hehehee... Raka belum ngantuk, Uncle..."


" Terus mau apa ke kamar Uncle...?"


" Buka kado yuk...?" rengek Raka.


" Uncle ngantuk, Raka. Besok saja ya...?"


" Uncle...? Please..."


" Huft... baiklah, kita ke kamar kamu sekarang..." ucap Adam pasrah.


Saat keluar dari kamar Adam, mereka berpapasan dengan Hans yang baru pulang.


" Uncle Hans, ayo ikut...!" ajak Raka.


" Mau kemana...?"


" Buka kado di kamar Raka..."


" Uncle mandi dulu sebentar..."


" Ok! Kami tunggu sampai Uncle datang..."


Lima belas menit kemudian, Hans masuk ke kamar Raka. Adam dan Raka masih setia menunggunya dan belum menyentuh satupun kado itu.


" Ayo buka sekarang..." ujar Hans yang ikut duduk di lantai.


" Ok! Kita buka mulai dari yang warna pink itu, pasti isinya Barbie..." seloroh Adam.


" Barbie itu apa, Uncle...?" tanya Raka dengan tampang serius.


" Huahahaaa...!" Hans dan Adam tertawa keras mendengar pertanyaan Raka.


" Kau benar - benar tidak tahu ' Barbie '...?" Hans mencoba menahan tawanya.


" Kau ini hidup di tahun berapa sampai tidak tahu gadis cantik menawan itu..." timpal Adam.


Raka sejenak diam berpikir mengenai nama aneh yang belum pernah ia dengar itu. Karena tak menemukan jawaban, Raka akhirnya browsing di internet. Dalam sekali ketik, muncullah gambar - gambar menurut Raka sangat aneh.


" Huaaa... apa itu...?" Raka melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur.


" Kenapa...?" tanya Hans heran.


Seketika tawa Hans dan Adam terhenti melihat raut wajah Raka yang terlihat serius melempar ponselnya.


" Raka, kau baik - baik saja...?" tanya Adam.


" Beneran isinya seperti itu, Uncle...?"


" Maksudnya...?"


" Itu...!" Raka menunjuk ke ponselnya.


Hans mengambil ponsel Raka di atas kasur dan melihat browsing barbie disitu.


" Kau takut dengan barbie...?"


" Bukan, cuma tidak suka aja. Bukankah itu mainan anak perempuan...?"


" Sudah, belum tentu isinya seperti itu..." ujar Adam.


Adam membuka kado dengan bungkus berwarna pink itu. Adam mengeluarkan isinya yang ternyata sebuah jaket yang bisa dipakai luar dalam. Adam mengambil kertas yang ada di dalamnya.


*To : Raka Sebastian


" Semoga ukurannya pas ya? Untuk Detektif tampan sepertimu sangat cocok saat bekerja. Semoga sukses...!"


From : Tante cantik*


" Hahahaa... ternyata barbie yang mengirimkannya..." ucap Adam.


" Siapa...?" tanya Hans.


Adam menyerahkan kertas itu pada Hans lalu membantu Raka mencoba jaket dari Delia.


" Ish... dia tidak pernah memujiku..." gerutu Hans.


" Uncle, coba lihat! Baguskan hadiah dari tante cantik...?" ucap Raka sambil memutar badannya.


" Biasa saja..." sungut Hans.


" Ish... ada yang cemburu nih..." desis Adam.


" Diam kau...!" hardik Hans kesal.


Raka kembali membuka hadiah yang lain, ada banyak mainan dan barang lainnya. Hingga tinggal hadiah terakhir, sepertinya Raka mengenali hadiah itu.


" Inikah hadiah dari kakek..." ucap Raka.


" Coba buka, kami jadi penasaran apa isinya...?" ujar Hans.


" Iya, Raka. Pasti hadiah dari kakek sangat bagus..." timpal Adam.


Raka membuka bungkusan itu dengan perlahan. Setelah terbuka, mereka bertiga sangat kaget dengan isinya.


" Ini nggak salah...?!"


.


.


TBC


.


.