Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 73


Arvan mengambil sebuah sapu tangan yang sengaja disembunyikan dibawah pot bunga. Dengan sarung tangan yang sudah ia siapkan, Arvan segera memakainya dan memungut sapu tangan itu lalu dimasukkan ke dalam plastik untuk dijadikan barang bukti.


" Sepertinya hanya permainan anak kecil..." gumam Arvan seraya menyunggingkan senyumnya.


" Tidak ada apa - apa disini, Tuan..." ucap Adam.


" Cari dengan benar..." sahut William.


Sementara ketiga anak korban, Damian, Erick dan Melani tampak memperhatikan penyelidikan mereka. Wajah mereka terlihat tenang walaupun ada gurat kesedihan di matanya.


Melani mendekati Arvan yang berada sedikit jauh dari yang lain. Dengan sedikit ragu wanita itu berbicara pelan kepada Arvan.


" Tuan, apakah Anda sudah menemukan sesuatu disini...?" tanya Melani.


" Belum, Nona. Tapi sebentar lagi saya pasti bisa menangkap pembunuh Nyonya Anderson..." jawab Arvan.


" Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda, bisakah kita bertemu di tempat lain...? Saya tidak ingin ada siapapun yang tahu..."


" Apa pekerjaan Anda, Nona...?"


" Mmmm... saya masih kuliah, Tuan..."


" Datanglah ke perusahaan Sebastian corp. lusa, katakan pada resepsionis ingin bertemu dengan Sera. Katakan kau temannya dan sudah ada janji. Kita akan bertemu disana..."


" Baik, Tuan. Terimakasih..."


Melani segera kembali duduk di samping kedua kakaknya yang sedari tadi menatapnya tajam.


" Apa kau sengaja menggoda pria itu untuk mendapatkan dukungan...?" cibir Erick.


" Bukan urusanmu, aku tidak pernah meminta pendapatmu..."sahut Melani acuh.


" Sudah, hentikan perdebatan kalian. Sebentar lagi kita akan tahu siapa yang membunuh mami. Takkan kubiarkan orang yang membunuh mami hidup dengan tenang..." geram Damian.


" Ini antara kita bertiga saja, kak. Benarkah bukan kalian yang membunuh mami...?" ucap Melani.


" Apa kau menuduhku membunuh orang yang sudah melahirkanku...?!" hardik Erick.


" Sudahlah, kita percayakan kasus ini pada mereka. Kita lihat saja nanti siapa pelaku sebenarnya...!" ujar Damian.


Selesai meneliti seluruh TKP, William pamit meninggalkan rumah itu. Mereka segera kembali ke kediaman Sebastian.


# # #


" Papaaa...!" teriak Raka yang sudah menunggu kedatangan Arvan di teras rumah.


" Hei... anak papa, kenapa diluar...?" sahut Arvan.


" Papa sudah janji kita akan jalan - jalan..."


" Iya, papa ganti baju dulu ya...?"


" Cepetan ya, pa...?"


" Iya, mama dimana...?"


" Ada dikamar..."


" Ya udah, kamu tunggu disini..."


Arvan meninggalkan Raka yang sedang memainkan ponselnya di kursi panjang sambil rebahan.


" Hei... asyik main sendiri, boy..." sapa William.


" Hmmm... Uncle tidak bawa kak Monika kesini..."


" Monika sedang main ke Mall sama mommynya..."


Adam mendekati William untuk menanyakan tugas selanjutnya di hari liburnya ini.


" Tuan, apa masih ada kerjaan yang harus saya selesaikan...?" tanya Adam.


" Tanyakan saja pada bossmu, saya harus pergi sekarang..." sahut William.


" Huft... nasib - nasib, kenapa nasibku begini..." gumam Adam.


" Uncle, ikut Raka saja jalan - jalan..." saran Raka.


" Tidak, terimakasih..." tolak Adam.


Tak lama Arvan dan Erina keluar dari rumah dengan pakaian yang rapi. Mereka sudah siap untuk pergi jalan - jalan keliling kota.


" Adam, kau masih disini...?" tanya Erina.


" Mmm... saya menunggu tugas dari Anda, Nona..." jawab Adam tegas.


" Pergilah, inikan hari libur..." ujar Erina.


" Tunggu_...!" cegah Arvan.


" Iya, Tuan...?"


" Baik, Tuan..."


Adam mengikuti perintah Tuannya dan mengambil kunci mobil di dalam rumah. Ternyata tuannya lebih ribet daripada bossnya.


" Kak, kenapa mengajak Adam...?" tanya Erina.


" Lumayan buat sopir, aku lagi malas. Biar nanti ada yang bantuin jaga Raka..." jawab Arvan nyengir.


" Kau ini keterlaluan, sekarangkan hari libur..."


" Kita juga mengajak dia liburan, sayang..." Arvan meraih pinggang sang istri hingga tubuh mereka tanpa jarak.


" Ish... lepaskan tanganmu!" Erina menepuk lengan Arvan dengan keras.


" Auwww... sakit, sayang..." pekik Arvan.


" Makanya, jangan aneh - aneh...!" sungut Erina.


Setelah semua masuk ke dalam mobil, Adam segera menjalankannya membelah jalanan kota.


" Pa, kita ke arena bermain yuk. Biar Raka terbiasa dengan mainan anak, bukan main gadget terus..." ajak Erina.


" Boleh juga..." sahut Arvan.


Arvan meminta Adam untuk mencari arena bermain anak terdekat sambil makan siang di Mall tersebut. Sampai di tempat tujuan, Erina langsung menarik tangan Raka untuk masuk ke wahana permainan anak.


Raka langsung memasang wajah datar begitu melihat banyak anak kecil sebayanya. Raka mundur perlahan karena tidak suka berada di tempat seperti itu.


" Eits.... mau kemana, sayang...?" Erina meraih kerah baju Raka yang berniat ingin kabur.


" Mmm... itu, Ma... Raka mau ikut papa sama Uncle Adam..." jawab Raka nyengir.


" Sudah, kamu disini main sepuasnya. Mama akan nungguin kamu disini...?"


" Tapi, Ma... Raka tidak suka disini..." rengek Raka.


" Coba dulu, Raka! Mama akan menemani kamu disini..."


" Raka tidak mau disini, Ma...!"


Raka terlihat marah dan keluar dari area bermain. Raka langsung memeluk papanya yang sedang duduk bersama Adam.


" Sayang, kamu kenapa...?" tanya Arvan khawatir melihat raut wajah datar anaknya.


" Raka, apa yang terjadi...? Mama dimana...?" tanya Arvan lagi.


" Raka mau pulang, pa...!" teriak Raka dengan mata memerah.


" Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi...?" batin Arvan.


" Dam, kamu bawa Raka ke mobil dulu. Saya akan mencari Erina..." perintah Arvan.


" Baik, Tuan..." jawab Adam.


Adam menggendong Raka menuju mobilnya di tempat parkir. Melihat wajah Raka yang terlihat sedang marah, Adam berinisiatif mengajak Raka membeli ice cream di kedai tak jauh dari tempat parkir.


Sementara itu di dalam, Arvan mencari keberadaan Erina yang belum keluar dari arena bermain. Saat Arvan masuk ke ruangan itu, terlihat sang istri sedang duduk di sudut ruangan sendirian.


" Sayang, kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi...?" tanya Arvan panik.


Erina menatap anak - anak yang sedang tertawa riang bermain bersama orangtuanya. Hatinya begitu sakit melihat anaknya yang tidak mau berinteraksi dengan orang lain. Erina menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa memberikan kasih sayang lebih kepada anaknya sehingga Raka bersikap layaknya orang dewasa diusianya yang masih balita. Seandainya dulu Erina merawat Raka dengan baik, mendampingi masa tumbuh kembangnya setiap detiknya mungkin Raka bisa menjadi anak yang normal seperti yang lainnya.


" Aku bersalah padanya, aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya..." lirih Erina dengan deraian airmata yang tak bisa terbendung lagi.


" Sayang, jangan bicara seperti itu. Kamu seorang ibu yang kuat dan juga ibu yang terbaik untuk Raka. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi...?" Arvan mendekap sang istri dengan erat.


" Aku ibu yang buruk bagi Raka, dia seperti ini karena aku. Selama ini aku tidak memberikan kasih sayang yang cukup untuk Raka..."


" Tidak, sayang. Kamu tidak salah, jangan salahkan dirimu seperti ini..."


" Tapi, kak... semua ini memang salahku..." rintih Erina.


" Tenangkan dirimu, sayang. Kita pasti bisa menghadapi ini bersama - sama. Raka anak yang baik, aku yakin dia pasti bisa berubah. Kita akan memulai lagi dari awal, memulai kisah kita bertiga sebagai keluarga kecil yang bahagia..."


" Raka sangat marah padaku karena aku membawanya ke tempat ini. Mungkin karena ini pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di tempat seperti ini. Seandainya aku tidak menghabiskan waktuku di kantor dan juga kampus, pasti Raka bisa lebih bahagia..." Erina menangis pilu.


" Sudahlah, Raka pasti mengerti kau melakukan ini juga untuk Raka. Jika ada yang harus disalahkan, orang itu adalah aku. Aku tidak ada disampingmu saat kamu berjuang mempertahankan Raka dalam rahimmu dan juga saat kamu mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya. Aku juga tidak ada saat anak itu membutuhkan perhatian dan kasih sayang seorang ayah seperti layaknya anak yang lain. Maafkan aku, Erina... akulah orang yang harus bertanggungjawab atas penderitaan kalian..."


Arvan membawa Erina keluar dari Mall itu menyusul Adam dan Raka. Sepertinya Arvan harus tinggal sementara waktu disini untuk menemani Raka dan Erina sampai keadaan mereka bisa tenang.


.


.


TBC


.


.