Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 32


" Sebutkan namanya...!" teriak Rissa.


" Namanya_..." ucap penjahat itu takut.


" Doorrr... Doorrr... Doorrr...!"


Belum juga mereka sempat bicara, tembakan bertubi - tubi dari dalam sebuah mobil yang tak jauh dari mereka membuat ketiganya tewas seketika.


Rissa yang terkejut langsung menghindar dan berlari menarik anaknya untuk berlindung di balik pohon besar di belakang tempat Raka duduk.


" Mama...!" pekik Raka.


" Tidak apa - apa sayang, kita harus segera pergi dari tempat ini..." ucap Rissa.


" Tapi lengan mama tertembak..."


" Ini tidak sakit sayang, jangan khawatir..."


Raka membuka jaketnya lalu mengikat lengan mamanya agar darahnya bisa berhenti mengalir.


" Kita ke rumah sakit sekarang, Ma..." ucap Raka hampir menangis melihat darah di lengan Rissa.


" Ayo, ikuti Mama. Kita cari taksi di bagian lain sisi taman ini. Disana sudah mulai banyak orang berdatangan..." ajak Rissa pada anaknya.


Saat sedang menunggu taksi, sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka.


" Rissa...!" panggil William dari dalam mobil.


" Kak Willy, kak Hans..." sahut Rissa.


Rissa segera menarik Raka untuk masuk ke dalam mobil supaya anak itu merasa tenang.


" Uncle, mama tertembak! Cepat kita ke rumah sakit..." ucap Raka.


" Tertembak...?" ucap Hans dan William bersamaan.


" Iya kak, tadi aku berkelahi dengan tiga penjahat yang ingin menculikku. Tapi saat aku ingin menanyakan siapa yang menyuruh mereka, tiba - tiba ada yang menembaki mereka hingga tewas..."


" Apa lukamu cukup parah...?"


" Tidak, ini tidak mengenai tulang kok..."


" Kenapa tadi kamu pergi dari Apartement tanpa memberitahu aku...?" tanya Hans.


" Maaf kak, Raka bilang kak Hans sedang bersama seorang wanita, Rissa tidak mau mengganggu..."


" Oh itu, dia Delia... hanya teman yang kebetulan aku minta untuk menjaga kalian berdua semalam..."


Lima belas menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Rissa langsung dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan perawatan. Sementara Raka, anak itu hanya menatap Papanya yang sekarang berada di ruang ICU yang terbaring lemah tak berdaya.


" Raka, kenapa kamu diam saja...? Ayo kita temui papamu biar dia cepat sadar..." ucap Tuan Regan.


Ya, saat Hans dan William pergi tadi, dokter bicara pada Tuan Sebastian dan Nyonya Sarah bahwa Arvan mengalami koma dan tidak tahu sampai kapan dia akan tertidur.


" Raka mau menunggu mama dulu kek, nanti bareng sama mama ketemu papanya..."


" Baiklah, kalau begitu kita duduk dulu biar kamu tidak lelah..."


Tuan Sebastian membawa Raka ke dalam pangkuannya. Pikiran Tuan Sebastian campur aduk antara senang dan sedih. Beliau sangat senang karena anak yang ia rawat sejak masih dalam kandungan itu ternyata cucu kandungnya sendiri. Tapi dia juga sedih melihat Arvan, anak kandung satu - satunya terbaring lemah tak berdaya di ruang perawatan intensif.


" Mama kamu dimana, sayang...?" tanya Bu Sarah.


" Mama tadi sama Uncle William lagi diobatin sama dokter, Nek..."


" Memangnya mama kamu kenapa...?"


" Mama tertembak di lengannnya..." ucap Raka pelan.


" Tertembak...?"


" Iya kek, tadi ada tiga penjahat yang berkelahi dengan mama. Tapi saat mereka kalah, ada orang lain lagi yang menembaki mereka..."


" Tapi mama baik - baik saja kan...?"


" Iya kek, mama baik - baik saja..."


Tak lama Rissa datang bersama William. Sedangkan Hans, dia berdiri di depan pintu kaca tempat perawatan Arvan.


" Dia masih belum sadar, Ayah tidak tahu sampai kapan Arvan tertidur seperti ini..." jawab Ayah sendu.


" Boleh Rissa melihatnya...?"


" Tentu saja, Arvan pasti sangat mengharapkanmu. Ayah sudah tahu apa yang terjadi dengan kalian lima tahun yang lalu..."


" Maafkan Rissa, Ayah... seandainya semalam Rissa tidak menyeberang jalan sembarangan, pasti kak Arvan tidak akan celaka seperti ini..."


" Semuanya sudah terjadi, lupakan saja. Walaupun kita menyesalinya seumur hidup, semuanya tidak akan kembali lagi seperti semula. Seperti yang Arvan lakukan kepadamu di masa lalu, sebenci apapun kamu padanya tidak akan merubah apa yang telah terjadi..."


" Maksud Ayah...?"


" Tolong maafkan Arvan, lupakan masa lalu kalian. Mulailah dengan kehidupan yang baru demi anak kalian. Ayah berharap kalian bersedia menikah saat Arvan sembuh nanti. Raka butuh kalian untuk mendampinginya menuju kedewasaan..."


" Rissa masih belum siap untuk bertemu dengan Arvan, Yah... Semua ini terlalu mendadak buat Rissa, harusnya kami tidak usah bertemu sehingga musibah ini tidak terjadi..." Rissa menghapus airmatanya yang mulai membasahi pipinya.


" Berusahalah untuk berdamai dengan hatimu sendiri. Berfikirlah untuk masa depanmu dan juga Raka, jangan menuruti emosi yang bisa membuatmu menyesal di kemudian hari..."


" Nanti malam Rissa akan kembali ke London, Rissa titip Raka disini ya, Yah. Banyak pekerjaan yang harus Rissa urus disana..."


" Baiklah, tapi Ayah berharap kamu sudah memiliki keputusan atas permintaan Ayah saat kita bertemu nanti..."


" Iya, Yah... Rissa akan memikirkannya..."


Rissa dan Raka segera masuk ke kamar perawatan Arvan setelah dokter memeriksa keadaan Arvan. Raka langsung memeluk Arvan seraya menangis. Rissa sebenarnya tidak tega melihat anaknya menangis, tapi hatinya juga belum yakin untuk memaafkan Arvan.


" Papa... bangunlah, Raka sayang sama papa... Jangan tinggalin Raka, pa..." Raka menangis histeris.


" Raka, kamu harus kuat, papa pasti sembuh..." hibur Rissa.


" Kenapa papa tidak bangun, Ma...?"


" Papa mungkin lelah, jadi beliau istirahat dulu untuk sementara waktu..."


" Apa Raka boleh menemani papa disini sampai papa sembuh, Ma...?"


" Iya sayang, kamu temani papa disini. Tapi mama tetap harus pergi, pekerjaan mama tidak bisa ditinggalkan terlalu lama karena kakek dan nenek tetap disini jagain papa..."


" Apa Raka juga boleh menyelidiki orang yang menyerang mama tadi...? Sepertinya mereka bukan preman jalanan..."


" Itu terlalu bahaya Raka, mereka memang mengincar mama. Mobil yang semalam menabrak papa, mungkin saja itu orang yang sama dengan yang menyerang mama di taman tadi..."


" Justru itu Ma, kita harus tahu alasan mereka menyerang Mama..."


" Kau ini memang sangat keras kepala, terserah asalkan dalam pengawasan Uncle Hans..."


" Terimakasih, Ma..." ucap Raka tersenyum.


" Iya sayang..." sahut Rissa.


Raka menggenggam erat tangan papanya lalu kembali meneteskan airmatanya.


" Pa, cepatlah bangun... kita harus mengungkap siapa yang telah menyebabkan papa celaka seperti ini..." ucap Raka.


" Kak Arvan, aku memang belum bisa melupakan kebencianku padamu. Namun aku juga tidak tega melihatmu sakit seperti ini. Bangunlah demi Raka, anak kita..." batin Rissa.


Rissa melihat kalung yang masih melekat di leher Arvan. Itu adalah kalung dari ibunya sebelum Rissa lahir. Sebenarnya Rissa ingin mengambil kalung itu, namun sekarang kalung itu sudah dipakai oleh Arvan. Jika Rissa memakainya, itu artinya dia sudah memaafkan dan menerima hati Arvan.


Rissa berusaha untuk memaafkan Arvan demi Raka, namun hatinya masih terlalu sakit jika mengingat masa lalu mereka.


" Aku harus berusaha ikhlas menerima takdir ini demi Raka. Kak Arvan, cepatlah sadar... aku akan berusaha untuk memaafkanmu. Raka sangat membutuhkanmu, kak..." batin Rissa.


Rissa menggenggam erat tangan Arvan, meletakkan tangan itu di pipinya sendiri untuk bisa merasakan isi hatinya saat ini. Apakah kebencian itu masih tetap ada ataukah ada rasa lain yang mulai mengoyak sanubarinya.


Saat melihat Arvan yang lemah seperti ini, hati Rissa mulai melunak. Ada rasa iba dalam hatinya, ia berharap Arvan cepat sadar dari komanya.


.


.


TBC


.


.