Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 51


" Apa yang kau lakukan...?" tanya Arvan.


" Eh... papa udah pulang..." sahut Raka tanpa menoleh walaupun sebenarnya Raka kaget ada papanya duduk di sampingnya.


" Hmmm... kamu lagi ngapain...?"


" Tidak ada, pa... hanya membalas email dari Uncle William..."


" Ayo makan dulu, kamu pasti lapar..."


" Mama masih di kamar, sedang mandi tadi..."


" Ya sudah, papa panggil mama dulu sekalian mau mandi juga..."


Arvan masuk ke dalam kamar yang ditempati Erina. Erina sepertinya belum selesai mandinya. Arvan tersenyum jahil, setelah mengunci pintu kamar agar Raka tak mengganggu aksinya lagi, dia mengetuk pelan pintu kamar mandi.


" Sebentar...!" teriak Erina dari dalam.


Arvan mengetuk lagi dengan gerakan yang lebih cepat dari sebelumnya sambil tersenyum.


" Rakaaa...! Jangan nakal kamu...!" omel Erina.


Karena merasa terganggu, Erina membuka pintu hanya menggunakan handuk yang melilik tubuhnya dari dada hingga atas lutut.


" Kak Arvan...!" pekik Erina kaget.


" Hey... honey, belum selesai mandinya...?" Arvan tersenyum jahil.


" Kak Arvan ganggu aja sih...!" sungut Erina.


Erina hendak menutup pintunya kembali namun terhalang oleh tangan Arvan yang menahannya dengan kuat.


" Boleh ikut nggak...?"


" Kak Arvan! Jangan kurang ajar kamu ya...!" pekik Erina.


" Raka udah nungguin buat makan, kelamaan kalau harus bergantian mandinya..." sahut Arvan santai.


" Mandi saja di kamar lain...!"


" Ayolah sayang, cuma mandi saja kok..."


" Nggak mau...!"


Arvan mendorong tubuh Erina dengan kuat hingga ke bawah shower. Guyuran air membuat Erina tersadar jika kini handuk yang dipakainya telah hilang dari tubuhnya.


" Auwww...! Kak Arvan...!" pekik Erina.


Erina langsung memeluk Arvan dari belakang agar laki - laki itu tak melihat tubuh polosnya.


" Sayang, kenapa malah di belakang sih...?" Arvan tersenyum di balik guyuran air.


" Mana handukku...!"


" Itu ada di gantungan..."


Arvan melepas kemejanya yang sudah basah dan melemparnya ke lantai.


" Kak, ambilkan handuknya...!"


" Ambil saja sendiri, kakak tidak akan melihatnya..."


" Bohong...!"


Arvan memutar tubuhnya dengan cepat saat tangan Erina lengah hingga kini mereka saling berhadapan.


" Aku hanya ingin mandi bersamamu, tidak akan terjadi apa - apa sebelum kita menikah. Percayalah, kita hanya akan melakukannya saat kamu sudah siap dan ikhlas menerimaku sepenuh hatimu..." bisik Arvan.


Erina tertunduk malu bercampur marah karena sikap Arvan yang selalu melakukan sesuatu seenaknya sendiri.


Arvan dan Erina sama - sama polos tanpa sehelai benangpun di tubuh mereka. Namun sesuai janji Arvan, mereka hanya mandi dengan cepat lalu keluar dengan menggunakan handuk masing - masing.


Setelah berganti pakaian dan Arvan membantu Erina membalut luka di lengannya agar tak terkena debu, mereka segera keluar untuk makan.


" Raka, ayo makan..." ajak Erina.


" Sebentar, Ma..." sahut Raka.


" Hey... hentikan dulu pekerjaanmu, nanti papa bantu..." ujar Arvan.


" Memangnya papa nggak ke kantor...?" tanya Erina.


" Nanti siang saja saat meeting dengan klien, sayang..."


Raka segera menutup laptopnya dan berjalan mengikuti orangtuanya ke meja makan.


" Pa, tadi Uncle Willy tanya soal adik Raka. Katanya udah dibikin belum..." celoteh Raka.


" Ish... Uncle Willy tidak usah di dengerin. Papa sama Mama pengen fokus bersama Raka dulu..."


" Awas aja kak Willy! Akan ku balas kau...!" geram Erina.


" Raka seneng kok pa kau punya adik, jadi ada temennya buat pecahin kasus yang sulit..."


" Iya, nanti papa usahakan. Sebaiknya kita makan sekarang..."


Erina mengambil piring dan menyiapkan makanan untuk mereka bertiga.


# # #


Jam satu siang, Arvan sampai di kantornya. Semua karyawan menundukkan badan memberi hormat.


" Van, kamu udah masuk? Kamu itu baru sembuh harus banyak istirahat biar cepat pulih..."ujar Ricko.


" Tidak apa - apa, sudah lama aku meninggalkan kantor..." sahut Arvan.


" Rissa gimana? Apa dia baik - baik saja...?"


" Hmmm... dia baik - baik saja..."


" Kak, bantu aku untuk meyakinkan dia supaya mau menetap disini..."


" Buat apa? Jangan memaksakan kehendakmu padanya, Van..."


" Aku akan menikahinya, kak..."


" Kau yakin dengan keputusanmu itu...? Selly bisa kapan saja menyerang kalian. Biarkan Rissa dan Raka aman untuk sementara waktu di London sampai Selly tertangkap..."


" Benar juga saran kakak, aku hanya bisa memberikan luka pada Erina, kalau begitu besok aku antar mereka ke London. Aku tak mau Erina jadi korban kekejaman kakaknya sendiri..."


" Kamu bicarakan dulu dengan Rissa, langkah yang harus kalian tempuh kedepannya..."


" Iya kak... Oh iya, Hans kemana...?"


" Ada di ruangannya, nggak tahu dari tadi diam di dalam ruangannya..."


Arvan keluar ruangan untuk mencari keberadaan Hans yang menghilang dari kemarin.


" Hans...!" sapa Arvan.


" Eh... kamu udah masuk kantor, Van. Kebetulan sekali kau datang, ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu. Lihat ini..."


Hans memberikan beberapa berkas penting yang diambil Raka di rumah Bagaskara.


" Darimana kau dapatkan semua ini...?"


" Anakmu yang mendapatkannya dari rumah kakeknya..."


" Raka terlalu nekad untuk anak seusianya..." keluh Arvan.


" Sama sepertimu, keras kepala...!" cibir Hans.


" Kau berani mengataiku...?!"


" Memang seperti itu kenyataannya..."


Arvan meneliti semua berkas itu dan juga surat wasiat sebelum Bagaskara wafat.


" Kita harus selidiki ini, Hans. Semua harta milik Bagaskara diwariskan kepada Erina. Tapi kenapa semua aset bisa berada di tangan Selly dan ibunya...?"


" Besok aku akan ke kantor polisi untuk bertemu ibunya Selly. Semoga saja dia bersedia kerjasama..."


" Dokumen ini semuanya asli, Hans. Hubungi lawyer yang mengurus aset milik Bagaskara..."


" Sebentar, saya cari dulu di daftar lawyer..."


Hans mencari nomor telfon lawyer yang mengurus aset Bagas. Setelah mendapatkannya, Hans segera menghubunginya. Tak berapa lama, Hans memutuskan sambungan telfonnya lalu duduk bersandar di kursi kerjanya.


" Huft... sepertinya banyak yang harus kita kerjakan..." keluh Hans.


" Ada apa...?" tanya Arvan.


" Lawyer itu meninggal satu minggu sebelum Bagaskara..."


" Apa dia sakit...?"


" Tidak, katanya dia meninggal secara mendadak seperti Bagaskara..."


" Nanti sore kita ke kantor lawyer itu, kita pasti bisa mendapatkan sesuatu disana..."


" Padahal besok aku berencana mau mengantar Erina dan Raka ke London..."


" Mereka tidak mau tinggal denganmu...?"


" Bukan, disini sangat berbahaya untuk mereka. Kita tidak tahu rencana Selly selanjutnya, keselamatan mereka lebih utama..."


" Erina sudah kau beritahu...?"


" Belum, kita jangan beritahu apapun mengenai ayahnya kepada Erina. Semoga dia mau kembali ke London besok..."


" Bagaimana jika Selly mengejar sampai ke London...?"


" Kemungkinannya kecil, dia buronan sekarang..."


" Ya sudah, sebaiknya kau pulang. Jangan sampai Raka dan Erina keluar dari Apartemen..."


" Aku ada meeting nanti sore, Hans..."


" Soal meeting biar aku dan Kak Ricko yang handle, pulanglah..."


" Baiklah, terimakasih kau sudah banyak membantuku..."


" Ish... kita ini saudara, jangan terlalu berlebihan..."


# # #


Arvan bergegas masuk ke Apartemen karena khawatir Selly akan menyerang Erina lagi. Karena tidak ada di ruang tamu, Arvan langsung ke dalam kamar. Terlihat Erina dan Raka sedang tidur. Mungkin mereka lelah dan bosan hanya berdiam diri di Apartemen tanpa melakukan apa - apa.


" Syukurlah kalian baik - baik saja, aku tidak mau kehilangan kalian lagi..." gumam Arvan.


Arvan melepas sepatu dan jasnya lalu ikut berbaring di samping Erina. Rasa nyaman yang selama lima tahun ini menghilang kini hadir kembali dengan membawa jutaan kebahagiaan dalam hatinya.


" Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungi kalian seumur hidupku. Aku sangat menyayangi kalian berdua, semoga kalian bisa menerimaku setelah kesalahan besar yang kubuat di masa lalu." gumam Arvan.


Arvan mencium kening Erina dan Raka secara bergantian lalu memeluk Erina dengan erat untuk menyusul ke alam mimpi.


.


.


TBC


.


.