Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 94


Arvan sampai di depan rumah panti tempat Raka tinggal. Sedikit ragu Arvan keluar dari mobil menatap anak - anak sedang belajar. Namun diantara anak - anak itu, tidak ada Raka disana.


" Apa Raka di dalam ya...?" gumam Arvan.


Tanpa Arvan sadari, seseorang berdiri dibelakangnya dengan tatapan tajam.


" Papa cari siapa...?" ucap Raka datar.


Arvan yang terkejut langsung membalikkan tubuhnya menghadap arah sumber suara.


" Raka...!" lirih Arvan.


Arvan langsung mendekap tubuh mungil anaknya. Tanpa terasa airmata lolos begitu saja membasahi kedua pipinya. Adam yang melihat interaksi mereka dari jauh merasa tenang karena Raka bisa menerima kehadiran papanya.


Adam kembali ke kantor untuk menjaga Erina sesuai perintah dari Arvan. Dia tak ingin ada kesalahan lagi nantinya.


" Pulanglah, papa dan mama tidak bisa hidup tanpamu..." ucap Arvan sendu.


" Papa kenapa kesini lagi? Bukankah tadi sudah datang lalu pergi lagi...?" wajah datar anak itu nampak sangat persis seperti papanya.


" Uncle Adam tidak mengijinkan papa dan mama untuk menemuimu. Pulanglah, mama sedang tidak baik - baik saja sekarang. Dia mengingat suatu hal buruk di masa lalu dalam rumah itu..." ujar Arvan.


" Kejadian buruk apa...?" tanya Raka.


" Mungkin dugaanmu benar, kemungkinan tante Selly bersembunyi di rumah itu. Kata mama, di rumah itu ada ruang bawah tanah tapi mama tidak tahu letak pintunya dimana..."


" Benarkah...? Raka tidak pernah melihat ada pintu menuju ruang bawah tanah, pa..."


" Makanya, Raka pulang temui mama. Kita bisa bertanya pada mama secara perlahan..." bujuk Arvan.


Saat sedang berbicara serius dengan papanya, tiba - tiba ibu panti menghampiri mereka.


" Raka, siapa dia...? Kenapa bicara diluar? Ajaklah masuk, kita harus menjaga keamanan panti. Tidak boleh berbicara dengan sembarang orang dijalanan, mungkin saja yang kamu temui itu bukan orang baik..." ujar ibu panti.


" Kenalkan, bu. Saya orangtuanya Raka, Arvan Sebastian..." ucap Arvan seraya mengulurkan tangan.


" Saya pengasuh anak - anak di panti ini, Tuan. Terimakasih atas kebaikan Anda selama ini yang telah membantu panti ini..."


" Membantu apa ya...?" tanya Arvan heran.


" Bukankah Tuan donatur tetap di panti ini...?" tanya ibu panti.


" Papa memang tidak tahu, bu. Semua donasi diurus oleh Uncle Hans yang dulu menjemput saya disini..." sahut Raka.


" Oh, ibu kira Tuan Arvan tahu. Soalnya donasi itu atas nama perusahaan..." jawab ibu panti.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan berbincang sebentar dengan ibu panti. Setelah itu, Raka mengajak papanya untuk masuk ke dalam kamar.


" Pa, Raka sudah memasang beberapa kamera disana. Kita bisa pantau mereka dari sini..." ucap Raka.


" Maafkan papa, sayang. Seharusnya papa bisa mengerti dengan bakat yang kamu miliki. Mulai sekarang, papa tidak akan pernah menghalangi keinginan kamu lagi..."


" Benarkah? Papa tidak bohong kan...?"


" Iya, tapi ada satu syaratnya..."


" Apa, pa...?"


" Kita akan melakukannya bersama. Papa yakin kita akan menjadi partner kerja yang hebat..."


" Thank you, pa..." Raka memeluk papanya dengan erat.


" I love you, my son..." balas Arvan tersenyum.


Karena kelelahan memantau cctv dan berbincang, mereka berdua tertidur hingga sore hari. Mereka sangat lelap sambil berpelukan.


# # #


Erina yang baru terbangun langsung mencari keberadaan suaminya. Saat mengecek ponselnya ada beberapa pesan yang masuk.


Erina kaget saat tiba - tiba Samuel menanyakan keberadaannya. Samuel mengajaknya untuk bertemu di sebuah cafe.


" Tumben Sam mengajakku ketemuan, ada apa ya...?" gumam Erina.


Erina tidak langsung membalas pesan Samuel, namun mencari suaminya terlebih dahulu. Di kamar itu hanya ada dia sendiri, sang suami yang tadi menemaninya tidur sudah pergi entah kemana.


Keluar dari kamarnya, Erina hanya melihat ada Adam yang sedang tidur dengan lelap di sofa. Erina kembali ke kamar, lalu menghubungi suaminya namun tak ada jawaban. Erina hanya mengirimkan pesan bahwa dia akan bertemu dengan Sam di cafe XX.


Erina berniat membangunkan Adam untuk mengantarnya namun diurungkan karena melihat wajah lelah pada lelaki yang selalu setia mengabdi kepadanya itu.


" Adam, aku pergi sebentar untuk bertemu dengan Samuel. Jika sudah bangun, jemput aku di cafe XX..." pesan Erina pada secarik kertas yang dia taruh diatas meja dekat Adam tidur.


Erina pergi tanpa sepengetahuan siapapun. Dia juga melupakan ponselnya yang masih berada di kamar tempat dia tidur tadi.


Erina keluar dari kantor dengan mencegat taksi yang lewat di depannya. Dia menyuruh sopir taksi agar lebih cepat karena tidak ingin Sam menunggu lama.


Tidak sampai setengah jam, Erina sampai di tempat yang sudah ditentukan oleh Samuel. Dia mencari pria yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.


" Sam...!" sapa Erina dengan senyumnya.


" Hei... akhirnya kau datang juga..." sahut Sam dengan tersenyum pula.


" Apa kau sudah menunggu lama...?" tanya Erina.


" Belum, baru juga datang. Kau mau pesan sesuatu...?"


" Tidak, aku minum saja..."


" Rin, sebenarnya aku mau mengajakmu pergi ke suatu tempat..."


" Kemana...?"


" Aku ingin mengunjungi tempat - tempat kita sering menghabiskan waktu bersama dulu. Aku merindukan moment saat kita tertawa dan menangis bersama..."


" Tapi, Sam... aku tidak bisa pergi terlalu lama tanpa seijin suamiku..."


" Iya, Sam. Aku sudah menikah..."


Mereka terdiam beberapa saat, hingga pelayan datang membawa pesanan mereka.


" Silahkan Tuan, Nona..." kata pelayan.


" Terimakasih..." sahut Erina.


Mereka berbincang seraya menghabiskan minuman masing - masing.


" Rin, mau ya...? Sebentar saja. Setelah itu aku akan mengantarkan kamu pulang..." bujuk Samuel.


" Tapi, Sam... nanti suamiku bisa marah kalau aku pergi berdua saja denganmu..."


" Suamimu sangat posesif, apa kau bahagia dengan pernikahanmu...?"


" Tentu saja aku bahagia, setidaknya aku tidak tersiksa seperti dulu lagi..."


" Apa kau mencintainya? Lelaki yang sudah menghancurkan masa depanmu..." ucap Samuel dengan menatap lekat wanita yang dulu sempat mengisi hari - harinya.


" Apa maksudmu...? Darimana kau tahu tentang dia...?" tanya Erina kaget.


" Oh itu, aku tahu dari ART di rumahmu..." jawab Sam gugup.


" Benarkah?"


" Iya, ayo cepat pergi keburu malam. Aku ingin mengenang masa - masa indah kita dulu..."


Samuel menarik lengan Erina keluar dari cafe menuju tempat mobilnya terparkir. Erina hanya pasrah walau sedikit waspada karena mengingat pesan suaminya.


" Mungkinkah Sam terlibat bersama kak Selly...?" batin Erina.


" Kamu kenapa melamun...? Sepertinya tidak bertemu lima tahun lebih, kau sudah banyak berubah..." ujar Samuel.


" Berubah apanya, Sam...?"


" Sepertinya hatimu tak sedekat dulu denganku, aku merasa kau menjaga jarak dariku. Aku rindu kebersamaan kita yang dulu..."


" Tidak ada yang berubah, Sam. Selamanya kau sahabatku..."


Samuel terdiam dengan ucapan Erina yang membuatnya kecewa. Padahal dari dulu Sam mempunyai perasaan yang lebih terhadap Erina.


" Aku senang kau masih menganggapku sebagai sahabatmu. Tetaplah menjadi Erina yang seperti dulu, menangis di bahuku, tertawa dalam genggaman tanganku..."


" Aku juga berharap kau tidak akan pernah berubah, Sam. Jadilah teman terbaikku, yang tidak pernah menyakitiku, selalu ada saat aku butuh sandaran..."


Erina menatap wajah Samuel dengan lekat. Ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah Sam saat Erina mengutarakan isi di hatinya. Erina ingin menguji apakah Samuel masih sama seperti yang dulu atau tidak.


" Jangan pernah menghianati persahabatan kita, Sam. Kau satu - satunya orang yang aku percaya dari dulu sampai sekarang..." Erina menggenggam tangan Samuel dengan erat.


Samuel tertegun dengan ucapan Erina yang begitu dalam menusuk jantungnya. Pria itu hanya diam tak tahu harus mengatakan apa.


" Mmm... Rin, kita hampir sampai. Maukah kau menutup matamu sebentar? Aku punya kejutan untukmu..." ucap Samuel.


" Kenapa harus tutup mata sih...?" sungut Erina.


" Cuma sebentar, Rin..." bujuk Samuel.


# # #


Sementara di panti, Arvan dan Raka baru terbangun saat ibu panti membangunkan mereka. Arvan langsung mengecek ponselnya sementara Raka membuka laptopnya untuk memantau cctv.


Arvan terkejut dengan pesan yang dikirim istrinya. Erina minta ijin untuk bertemu dengan Samuel. Pesan itu sudah dikirim lebih dari satu jam yang lalu.


" Erina menemui pria itu, kenapa perasaanku tidak nyaman begini..." batin Arvan.


Arvan mencoba menghubungi Erina namun tak ada jawaban. Dia sangat khawatir karena saat mengecek posisi ponselnya, lokasinya masih berada di dalam gedung perkantoran miliknya.


" Astaga, kenapa ponsel Erina ada di kantor...? Ada apa ini sebenarnya...?" gumam Arvan.


Arvan menghubungi Adam yang bertugas menjaga Erina.


" Adam, dimana kau...?" teriak Arvan.


[ " Maaf, Tuan... saya sedang mencari Nona di cafe XX. Sekali lagi saya mohon maaf tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik..." ] ucap Adam merasa bersalah.


" Dasar tidak berguna...!" umpat Arvan.


Arvan sangat marah karena Adam membiarkan Erina pergi sendiri untuk bertemu dengan Samuel. Dia langsung memutuskan sambungan telfonnya.


" Pa, lihat ada orang yang masuk ke gerbang rumah itu..." seru Raka menunjuk pada laptopnya.


" Siapa...?" Arvan ikut mengamati orang itu.


" Raka seperti pernah melihat orang itu, pa..." ucap Raka.


" Jam berapa rekaman itu...?" tanya Arvan coba mengingat pria dalam rekaman itu.


" Sekitar tiga jam yang lalu..."


" Sial, orang itu sungguh keterlaluan...!"


.


.


TBC


.


.