Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 76


Pagi hari, Erina terbangun dengan tubuh yang sangat lelah karena liburan kemarin dan juga perbuatan Arvan yang tak membiarkan dia tidur semalaman.


" Sayang, kau sudah bangun...?" gumam Arvan pelan.


" Iya, kak. Tapi tubuhku rasanya sakit semua..." keluh Erina.


" Maaf ya, semalam aku terlalu bersemangat..."


" Kak Arvan pulang ke Indonesia kapan...?"


" Belum tahu, sayang . Aku tidak sanggup harus berpisah denganmu..."


" Kasihan kak Hans kalau harus mengurus kantor sendirian. Belum mencari keberadaan kak Selly..."


" Apa kau pernah ke rumah Samuel waktu masih sekolah dulu...?"


" Kenapa bertanya begitu? Kau cemburu sama seperti dengan Adam kemarin...?"


" Tidak, sayang. Ayo mandi, jangan sampai Raka kesini kita masih belum berpakaian seperti ini..."


" Bareng lagi...?"


" Iya, kau istrku. Jadi tidak masalah kan kita mandi bareng?"


" Hhh... baiklah, tapi jangan macam - macam lagi...!"


" Ok, baby..."


Selesai mandi, Arvan masuk lagi ke kamar Raka untuk membangunkan anak itu. Sepertinya Raka juga sangat lelah dengan aktifitas kemarin. Anak itu masih terlelap di bawah selimut tebalnya.


Arvan turun sendirian karena Raka dan Erina masih tidur dan tak tega untuk membangunkannya.


" Van, Raka dan Erina kok tidak ikut turun...?" tanya Ibu.


" Mereka kelelahan seharian kemarin jalan - jalan,bu. Biarkan saja mereka tidur..."


" Bukan kamu kan yang membuat Erina kelelahan...?" ledek Ricko.


" Hehehee... itu salah satunya..." bisik Arvan.


" Dasar kau ini...!"


# # #


Sore hari, Erina dan Raka duduk di taman halaman rumah sambil memakan cemilan buatan Sandra. Kue coklat tabur kacang almond sangat disukai Raka.


" Erin, Raka... apa kue buatanku enak...?" tanya Sandra yang ikut bergabung dengan mereka.


" Enak, kak. Lihat tuh! Raka hampir menghabiskan semuanya..." ucap Erina.


" Iya, tante. Kue ini enak sekali..." sahut Raka.


" Ya sudah, kamu habiskan semua. Di kulkas masih ada banyak..." ujar Sandra seraya tersenyum.


" Horeee...! Terimakasih, tante..." teriak Raka.


" Oh iya, Rin... Mas Ricko sama Arvan kemana...?"


" Tidak tahu, kak. Mungkin sedang bertemu kak William..."


" Arvan kapan pulang ke Indonesia...?"


" Belum tahu, kak. Dia sukanya mendadak, tidak direncanakan terlebih dahulu. Kak Sandra masih lama kan disini...?"


" Besok kami harus pulang, Erin. Kasihan Hans bekerja sendirian..."


" Oh iya, sampai lupa dengan kakak kedua..." seloroh Erina.


" Kenapa kakak kedua...?" tanya Sandra heran.


" Dulu, walaupun kami tidak pernah bertemu tapi kami tetap saling berkomunikasi selama lima tahun ini. Hanya kak Ricko yang pernah aku temui, sedangkan kak Hans dan kak Arvan baru bertemu saat pernikahan kalian. Kami memang sudah punya urutan masing - masing sesuai umur. Kak Ricko kakak pertama, kak Hans kakak kedua dan kak Arvan kakak ketiga..."


" Jadi, kamu tidak mengenali Arvan kalau sebenarnya dia itu papanya Raka...?"


" Tidak kak, aku hanya mengenali wajahnya namun tidak pernah tahu siapa namanya..."


" Bagaimana bisa selama lima tahun kau tinggal bersama keluarganya namun tak pernah bertemu dengannya..."


" Itulah yang namanya takdir, kak. Setiap kak Arvan berkunjung kesini, aku sedang perjalanan bisnis keluar negeri..." ucap Erina.


" Kisah kalian sungguh sangat rumit, tapi penuh tantangan. Bisa ditulis buat novel tuh..." gurau Sandra.


" Ish... kakak ini, itukan privasi. Masa' mau dipublikasikan. Oh iya, kira - kira kak Hans lagi apa ya...?" ucap Erina.


" Video call aja biar kita tahu dia dimana sekarang..." saran Sandra.


" Boleh juga, kak..."


Erina masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponsel di dalam kamarnya. Setelah itu kembali duduk di samping Sandra. Erina menghubungi nomor Hans melalui video call.


" Hai kak Hans...!" teriak Erina.


[ " Heh... adik kecil, ngapain ganggu orang lagi tidur..." ] gerutu Hans.


" Ish... bukannya disana sudah siang, kak. Eh... tunggu! Kakak lagi dimana itu...?" cecar Erina.


Sandra ikut memperhatikan ruangan di belakang Hans. Mereka berdua tidak mengenali tempat itu. Bukan di rumah maupun Apartemen Arvan.


[ " Apaan sih...? kapan kalian pulang...?" ] tanya Hans.


" Besok aku sama Mas Ricko pulang, Hans..." jawab Sandra.


[ " Cepetan, aku malas kerja sendirian...!" ]


" Eh... itu di belakang kakak ada perempuan...? Siapa kak...?" tanya Erina.


Hans menoleh ke belakang lalu tersenyum.


[ " Kau salah lihat, aku disini sendirian..." ] elak Hans.


" Tidak mungkin, tadi Erin beneran melihat ada seorang wanita yang lewat di belakang kak Hans..."


" Bukan, Erin cuma mau temenin kak Hans yang lagi sendirian aja... hahahaa..." ledek Erina.


Raka yang tadinya sedang bermain dengan ponselnya, segera menghampiri sang ibu lalu mengambil ponselnya.


" Hai Uncle, how are you...?" sapa Raka.


[ " Hey...Raka, I'm fine. Gimana disana, semua aman...?" ]


" Ya, Uncle. Semua aman kok..."


[ " Good, kau memang bisa diandalkan..." ]


" Eh... itu bukannya tante cantik yan Uncle...?" tanya Raka.


" Tante cantik siapa...?" tanya Erina dan Sandra bersamaan.


" Tante Delia, dokter cantik itu Ma..." jawab Raka.


" Kak Hans...!" teriak Erina menatapnya tajam.


[ " Hahahaaa... Ternyata Raka lebih jeli daripada kalian..." ]


" Uncle, Raka mau bicara sama tante cantik..." rengek Raka.


[ " Iya, sebentar. Uncle cari di kamarnya dulu..." ]


Hans berjalan menuju kamar Delia lalu mengetuk pintu perlahan.


" Sayang, kau sedang apa...? Pakai baju nggak? Aku masuk ya...?"


Terdengar suara Hans memanggil Delia dengan cukup mesra membuat Erina dan Sandra heran.


" Apa mereka pacaran, kak...?" Erina menatap Sandra meminta jawaban.


" Tidak tahu, Rin. Aku tidak pernah melihat mereka jalan bareng..." sahut Sandra.


Terdengar lagi suara berisik antara Hans dan Delia di dalam kamar. Kemudian terlihat wajah Delia di layar ponsel Hans.


[ " Hai Erin, kak Sandra..." ] sapa Delia sedikit canggung karena Hans memeluknya dari belakang.


" Hai... Delia, apa kabar...?"


[ " Kurang baik, kak. Semenjak kalian pergi ke London, Hans selalu menggangguku..." ] gerutu Delia.


" Benarkah? Tembak saja kau dia bikin masalah padamu..." sahut Erina.


[ " Hei... adik kecil! Awas kalau nanti ketemu, kau yang kutembak...!" ] geram Hans.


" Siapa yang mau kau tembak...?"


Tak ada hujan tak ada angin tiba - tiba bagai petir yang berkilat di angkasa, Hans nampak terkejut dengan wajah orang di layar ponselnya.


[ " Arvan...!" ] pekik Hans.


" Coba ulangi sekali lagi yang kau katakan...?"


[ " Tidak ada, maaf ya aku tutup dulu telfonnya. Ada urusan sebentar diluar...Bye..." ]


Hans langsung memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak.


" Kok dimatiin? Kan Raka mau ngomong sama tante cantik..." sungut Raka.


" Lain kali ya sayang, sepertinya tante cantik harus kembali bekerja. Besok kita telfon lagi..." bujuk Erina.


" Huft...!" gerutu Raka.


Sekarang Ricko sedang bermain bola dengan Raka supaya anak itu ceria lagi. Sedangkan Arvan langsung rebahan di pangkuan Erina.


" Ada apa...?" tanya Erina.


" Besok ada seorang perempuan yang akan datang ke kantor. Beritahu Sera supaya dia menemuinya terlebih dahulu jika kita belum sampai..."


" Memangnya dia siapa...?"


" Dia anak dari korban pembunuhan yang sedamg saya tangani dengan kak William. Dia ingin bertemu denganku di tempat yang tidak bisa diikuti orang..."


" Kenapa harus di kantor? Kau mau pamer kemesraan dengan perempuan itu di depanku...!"


" Bukan sayang, kurasa hanya tempat itu yang aman untuk kami bicara..."


" Terserah kau saja! Cepat mandi sana...!"


" Tidak usah cemburu..."


" Dih, siapa juga yang cemburu..."


" Ke kamar yuk? Temani aku mandi..." bisik Arvan.


" Nggak, mandi saja sendiri...!"


" Ayolah, sayang. Aku ada hadiah untukmu..."


" Apa...?"


" Masih di mobil, ayo ke kamar dulu baru aku berikan..."


Dengan terpaksa Erina menuruti ajakan suaminya yang pastinya mengajak untuk mandi bersama. Sudah menjadi sebuah kewajiban saat sedang bersama, mandipun harus selalu bareng.


.


.


TBC


.


.