
" Ada apa Hans...?" tanya Ricko.
" Itu kak, Raka mencari papanya..." jawab Hans.
" Ya sudah kau pulang saja, biar aku yang menunggu Arvan disini..."
" Kak Ricko tidak apa - apa disini sendirian...?"
" Tidak apa - apa, pergilah... kasihan Delia sendirian mengurus Raka dan Rissa..."
" Kalau ada kabar tentang Arvan lagi hubungi aku ya kak...?"
" Tenang saja, Arvan pasti bisa melewati semua ini dengan baik..."
Setelah berpamitan, Hans segera pergi ke Apartement tanpa memperdulikan tubuhnya yang sangat lelah. Demi Arvan, saudaranya... Hans rela mempertaruhkan nyawanya sekalipun. Hans bisa hidup layak seperti ini juga berkat keluarga Arvan yang sangat baik padanya.
Sampai di Apartement, Hans langsung bergegas ke unit milik Arvan dan segera mencari keberadaan Delia.
" Delia... Raka kenapa...?"
Hans mengambil alih Raka dari gendongan Delia. Anak itu menangis mencari Arvan.
" Dia memanggil papanya terus Hans, aku bingung harus melakukan apa..."
" Rissa gimana...?"
" Panasnya udah turun, dia sudah bisa tidur dengan nyaman..."
" Ya sudah, kamu juga istirahat biar nggak sakit..." ucap Hans.
" Uncle, papa mana? Katanya mau temenin Raka tidur...?" rengek Raka.
" Raka tidur sama Uncle Hans dulu ya? Papa sedang sakit, tidak boleh diganggu dulu..."
" Hans, saya tidur dimana...?" tanya Delia.
" Tidur saja di kamarku, yang disana..." Hans menunjuk kamar yang berada di ujung.
" Kamu...?"
" Disana juga..."
" Apaa...?"
" Ssttt... Raka udah tidur, ayo ke kamar..." ajak Hans dengan tersenyum.
" Aku tidur disini saja..." tolak Delia.
" Nggak usah takut, aku tidak akan menerkammu sekarang..." goda Hans.
Hans membawa Raka ke kamarnya diikuti Delia. Setelah meletakkan Raka ke tempat tidur, Hans berjalan menuju sofa dan menyuruh Delia tidur menemani Raka.
" Kamu pasti lelah, sebaiknya kamu saja yang tidur disini..." ucap Delia.
" Boleh, asalkan itu denganmu... hehehee..."
" Kamu bisa tidur disamping Raka..."
" Aku maunya di samping kamu..."
" Hans, jangan mendekat...!"
Hans berjalan mendekati Delia yang berdiri di tepi tempat tidur.
" Ayo tidur..." bisik Hans.
Hans mendorong tubuh kecil Delia hingga jatuh ke samping Raka. Setelah itu dia ikut naik ke tempat tidur lalu memeluk tubuh Delia dengan erat.
" Hans, lepaskan...!" pekik Delia.
" Ssttt... jangan meronta, diamlah! Aku hanya ingin memelukmu saja..." ucap Hans lirih.
" Tubuhmu tinggi tapi sangat kurus, apa kau tidak pernah makan...?" tanya Hans sambil tersenyum.
" Bukan urusanmu! Lepaskan aku...!" sungut Delia.
" Aku akan membuatmu menjadi sedikit berisi, bolehkan...?"
" Apa maksudmu...!"
" Sudahlah, dibahas besok lagi. Aku sangat lelah sekarang..."
Hans menenggelamkan wajah Delia ke dalam dadanya lalu memejamkan matanya perlahan. Tidak sampai lima menit, Hans sudah tertidur dengan lelap namun dekapannya tetap erat. Delia yang tak mampu melepaskan diri hanya pasrah lalu ikut terlelap dalam dekapan Hans.
# # #
Hari sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, Raka terbangun karena ada seseorang yang memeluknya. Dia kaget karena tak mengenal wanita yang memeluknya. Raka segera beranjak dari tempat tidur dan melihat Uncle Hans yang juga masih tidur di ranjang yang sama.
Raka segera keluar dari kamar itu untuk mencari mamanya. Dia masuk ke kamar yang lain dan mendapati sang mama masih tidur.
" Ma... bangun Ma..." ucap Raka pelan.
Erina membuka matanya karena ada seseorang yang menggoyangkan tubuhnya.
" Iya Ma, Raka semalam tidur sama Uncle Hans dan temennya..."
" Temennya...? Siapa...?"
" Raka tidak mengenalnya, Ma... dia wanita yang cantik..."
" Mama masih sedikit pusing, Raka laper ya...?"
" Tidak kok Ma, Raka pengen disini aja temenin Mama..."
" Sini, tiduran sama Mama..."
Erina memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Tak terasa airmata menetes begitu saja saat mengingat kejadian kemarin.
" Ma, apa kita tidak akan bertemu papa lagi...?" tanya Raka sendu.
" Mama juga tidak tahu, Raka. Nanti malam kita kembali ke London ya...? Mama banyak pekerjaan disana..."
" Iya Ma, tapi sebelum pergi kita ketemu papa dulu ya...? Raka ingin memeluk papa sebelum kita pergi jauh. Raka janji tidak akan menemui papa lagi tanpa seijin mama..."
" Maafkan mama, Raka... Mama belum siap untuk bertemu dengan papamu, luka itu semakin dalam saat aku berhadapan dengannya..." batin Erina.
" Raka mandi dulu ya...? Biar mama siapin baju gantinya..." ucap Erina.
" Iya Ma, tapi habis ini kita ketemu papa ya...?"
" Iya sayang..."
Selesai mandi, Erina dan Raka pergi ke rumah sakit untuk menemui Arvan. Erina berharap Arvan sudah sadar setelah operasi semalam. Dia sedikit menyesali kecerobohannya saat menyeberang jalan hingga Arvan mengorbankan diri untuk menolongnya.
# # #
Sementara itu, Delia terbangun jam sembilan pagi. Hans masih terlelap disampingnya dengan memeluk guling. Mungkin karena tidurnya sudah lewat tengah malam dan juga kelelahan, mereka jadi bangun kesiangan.
" Hans, bangunlah... Raka tidak ada..." pekik Delia.
" Hmm... apa sih Del...?" gumam Hans dengan mata terpejam.
" Raka nggak ada Hans...!"
" Astaga... kemana lagi tuh anak...!" kesal Hans lalu beranjak dari tempat tidur.
" Del, kamu mandi aja dulu biar aku cari di kamar Rissa..." ucap Hans setengah mengantuk.
" Hmmm..." sahut Delia singkat.
Hans mengetuk pintu kamar Rissa beberapa kali namun tak ada sahutan dari dalam. Dengan perlahan, Hans memutar handle pintu yang tidak terkunci itu. Saat menengok ke dalam kamar, tak ada siapapun disana. Tempat tidur sudah terlihat sangat rapi yang artinya Rissa sudah pergi.
" Mereka pergi kemana...?" gumam Hans.
Hans mencari ke setiap sudut ruangan namun tak ada juga orang yang dicarinya.
" Nggak anaknya nggak mamanya hobinya kabur...!" gerutu Hans.
" Ada apa...?" tanya Delia yang tiba - tiba sudah berdiri di belakangnya.
" Eh... kamu ngagetin aja Del... itu, Rissa dan Raka tidak ada dikamarnya..."
" Kok bisa? Ya udah kita cari mereka sekarang..."
" Aku mandi dulu sebentar, cuma lima menit..."
" Cepetan sana...!"
Selesai membersihkan diri, Hans langsung bergegas mencari Rissa dan Raka. Hans tidak akan membiarkan Erina pergi lagi di saat Arvan sedang melawan maut di rumah sakit. Hanya Erina dan Raka yang bisa menjadi penyemangat Arvan.
" Hans, mungkin nggak kalau Rissa ke rumah sakit...?" ucap Delia.
" Aku belum yakin Del, mereka baru bertemu kemarin setelah lima tahun kami mencarinya. Rissa sangat membenci Arvan dan mereka bertengkar hebat di depan Raka. Mungkin semalam mereka bertengkar lagi sebelum kecelakaan itu terjadi...."
" Sebagai seorang perempuan saya juga akan melakukan hal yang sama seperti Rissa. Jati diri wanita terletak pada kehormatannya, jika ada orang yang merusaknya maka hidupnya akan hancur saat itu juga..."
" Apa sesulit itu untuk memaafkan...? Ini semua bukan kemauan Arvan, dia dalam keadaan yang tidak sadar saat melakukannya..."
" Sadar atau tidak, pada kenyataannya Arvan sudah menghancurkan kehidupan seorang gadis..."
" Tapi Arvan benar - benar mencintai Rissa, lima tahun dia seperti orang gila mencari Rissa...."
" Butuh perjuangan keras untuk bisa meluluhkan hati wanita yang tersakiti..." ucap Delia.
" Kalau untuk meluluhkan hatimu, apakah sesulit itu juga...?"
.
.
TBC
.
.