Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 127


" Ini tentang Sera, Hen...!" ujar Adam serius.


" Sera...? Ada apa dengan Sera...?" tanya Henry.


" Dia dibunuh kemarin malam..."


" Di hotel ini...? Tidak mungkin, aku pasti tahu jika terjadi disini..."


" Bukan, tapi di Apartemennya..."


" Lalu? Apa hubungannya dengan hotelku...?"


" Beberapa hari lalu Sera bertemu seseorang di salah satu kamar hotel disini..."


Adam kembali bersedih jika mengingat tentang kematian Sera yang mengenaskan. Rasa bersalah terus menghantuinya sampai sekarang. Dia harus segera menangkap pembunuhnya agar hatinya bisa merasa lebih tenang.


" Baiklah, Sera juga temanku. Aku akan membantu kalian semampuku. Kita ke ruang keamanan sekarang..." ujar Henry.


Mereka bertiga bergegas ke ruang keamanan untuk melacak rekaman cctv. Henry menyuruh anak buahnya untuk keluar karena Arvan sendiri yang akan melacaknya.


Setengah jam kemudian Arvan menemukan titik terang dengan melihat Sera berjalan di koridor kamar hotel. Tanpa mengetuk pintu, Sera langsung masuk di kamar paling ujung.


" Hen, kau cek ke resepsionis siapa yang chek in di kamar itu saat Sera datang..." ucap Adam.


" Sebentar saya cek dulu..." sahut Henry.


Henry keluar dari ruang keamanan menuju meja resepsionis. Dia segera membuka daftar tamu di hari Sera datang ke hotel.


" Dapat...!" gumam Henry sambil tersenyum.


Pegawai hotel banyak yang heran melihat bossnya yang tiba - tiba duduk di meja resepsionis mengutak - atik komputer.


Selesai mendapatkan informasi, Henry segera kembali ke ruang keamanan bergabung dengan Adam dan Arvan.


" Dam, saya sudah mendapatkan namanya..." seru Henry.


" Siapa...?"


" Robert, dia salah satu pebisnis muda yang cukup terkenal. Dia menjalankan perusahaan bersama kakaknya, Darwin..."


" Hmmm... jadi dia pelakunya...!" geram Adam.


" Tenang, Dam. Belum tentu Robert pelakunya..." ujar Arvan.


" Siapa lagi kalau bukan dia...?"


" Kita tunggu kabar dari Kak William dulu, mungkin dia mendapatkan bukti lain di Apartemen..."


" Baik, Tuan..."


Selesai dengan urusan di hotel, Adam dan Arvan berpamitan kepada Henry untuk melanjutkan penyelidikan selanjutnya.


# # #


Raka dan William sudah berada di Apartemen Sera untuk mencari bukti yang mungkin ada di TKP. William mulai menggeledah seisi ruangan termasuk kamar.


" Uncle, apa sudah ada petunjuk...?" tanya Raka.


" Belum, Uncle masih mencari bukti..." jawab William.


" Oh iya, dimana ponsel tante Sera...?"


" Astaga... kita melupakan benda penting itu. Ya sudah, kau minta kontak Sera pada mama untuk menghubungi nomor Sera. Semoga ponselnya berdering di sekitar sini..."


Raka menghubungi mamanya sebentar untuk meminta nomor kontak Sera. Setelah itu, Raka mencoba menghubungi nomor itu.


" Uncle, ponsel tante Sera tidak aktif..." ujar Raka.


" Benarkah? Padahal hanya ponsel itu yang bisa dijadikan bukti. Mungkin ada pesan yang bisa mengungkap kematian Sera..." sahut William.


" Mungkin ponsel dibawa pelaku, Uncle..."


" Mungkin saja, sebaiknya kita lihat cctv di ruang keamanan. Mungkin ada sesuatu yang bisa kita jadikan bukti..."


" Tapi sepertinya tak ada cctv di koridor ini, Uncle..."


" Ada di ujung lorong tapi rusak satu minggu yang lalu dan belum diperbaiki..."


Raka berfikir kembali untuk mencari bukti yang bisa dijadikan petunjuk penyelidikan.


" Uncle, mungkin di tempat parkir ada cctv atau di pos keamanan yang bisa kita lihat..."


" Ok, kita turun sekarang..."


William langsung mengajak Raka keluar dari Apartemen menuju pos keamanan. Disana ada dua petugas yang berjaga sedang berbincang.


" Permisi, pak. Saya agen yang menyelidiki kasus pembunuhan di Apartemen ini..." ucap William.


" Oh iya, Tuan. Ada yang bisa kami bantu...?"


" Saya ingin melihat rekaman cctv saat kejadian pembunuhan malam itu..."


" Silahkan masuk, Tuan..."


" Terimakasih..."


William segera mencari rekaman di depan Apartemen untuk melihat siapa saja yang keluar masuk Apartemen malam itu.


" Uncle, banyak sekali yang keluar masuk Apartemen..." kata Raka.


" Iya, sebagian besar laki - laki. Sulit untuk kita mencari pelakunya..." sahut William.


" Tuan, sebagian dari mereka adalah penghuni Apartemen ini..." ucap salah seorang petugas keamanan.


" Itu yang berjalan dari luar, apakah dia juga penghuni Apartemen disini...?:


" Tunggu...! Saya tidak pernah melihat orang itu, selama saya bekerja disini tidak ada orang keluar masuk jalan kaki menggunakan masker seperti itu. Saya yakin orang itu menyembunyikan identitasnya dan menyelinap masuk Apartemen..."


" Saya yakin dia orangnya..." gumam William.


" Baik, Tuan..."


# # #


Sore hari, Arvan menjemput Erina di kantor. Sesibuk apapun dirinya, Arvan akan menyempatkan diri untuk mendampingi istrinya.


" Sayang, sudah selesai belum kerjaannya...?" Arvan memeluk istri yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


" Sebentar lagi, kak. Duduklah dulu sana, biar aku selesaikan berkas ini dulu..." sahut Erina.


" Gimana kau kamu duduk di pangkuanku sambil bekerja...?"


" Ish... jangan sembarangan, Ayah dan ibu ada di ruangan Adam. Mereka bisa masuk kesini kapan saja..."


" Memangnya kenapa...?"


" Lagian banyak tempat duduk ngapain mau duduk disini..."


Arvan melepaskan pelukannya lalu duduk berhadapan yang di batasi oleh meja kerja Erina. Pria itu menatap lekat wajah sang istri dengan intens hingga membuat Erina risih.


" Kak Arvan kenapa menatap Erin begitu...?"


" Kamu cantik, sayang. Aku sangat mencintaimu, tetaplah bersamaku hingga maut memisahkan kita..."


" Aku juga mencintaimu, kak. Erin janji akan bersama kak Arvan selamanya..."


" Aku beruntung memiliki dirimu, sayang..."


Erina hanya tersenyum lalu kembali fokus pada laptopnya. Dia harus mengatur semua jadwalnya sendiri selama Adam tidak ke kantor.


" Kak, bagaimana penyelidikan hari ini...?"


" Sera memang bertemu dengan seseorang di hotel itu, namanya Robert..."


" Robert...? Jadi benar mereka memiliki hubungan? Pantas saja Sera mencuri berkas presentasi dan diberikan padanya..."


" Jadi kamu berpikir jika mereka pacaran, sayang? Kalau begitu, tidak mungkin Robert membunuh kekasihnya sendiri..."


" Mungkin dia marah karena Adam membuat presentasi jauh lebih bagus atau dia tidak mau bertanggung jawab dengan kehamilan Sera..."


" Bisa saja begitu, berarti saya harus bisa menemukan Robert secepatnya. Aku tidak mau dia kabur keluar negeri karena itu bisa menyulitkan penyelidikan..."


Tak lama datanglah Raka dan William yang langsung masuk ke ruangan Erina. Raka langsung berlari memeluk mamanya sambil tersenyum.


" Anak mama darimana saja? Mama merindukanmu, sayang..."


" Dari rumah Uncle Willy, Ma..."


" Papa tidak dipeluk nih? Mending papa balik saja ke Indonesia..." ucap Arvan kesal.


" Papa ada disini juga, Raka pikir Uncle Adam..." gurau Raka sambil nyengir.


" Sini, papa akan memberi hukuman untuk anak bandel ini..."


Arvan menarik Raka dari pelukan Erina lalu menggendongnya masuk ke dalam kamar. Terdengar tawa dan teriakan dari dalam sana membuat Erina tersenyum.


" Kak Willy, apa hasil penyelidikan di Apartemen...?" tanya Erina.


" CCTV di koridor Apartemen Sera rusak, aku juga menemukan sosok lelaki misterius memasuki kawasan Apartemen dengan berjalan kaki..." jawab William.


" Kak Willy copy rekamannya...?"


" Iya, ada di ponselku..."


William membuka rekaman itu lalu menyerahkannya pada Erina, mungkin saja dia mengenali pria itu.


" Kak, pria ini lebih pendek dari Robert..."


" Benarkah? Jadi pria ini bukan Robert...?"


" Aku beberapa kali bertemu dengan Robert, dia tinggi dan tidak berisi seperti ini..."


" Kenapa semakin rumit...?"


Adam masuk ke ruangan Erina setelah mengantar Tuan dan Nyonya Sebastian ke lobby.


" Tuan William, Anda sudah sampai...?" tanya Adam.


" Iya, belum lama juga..." sahut William.


" Adakah sesuatu yang mencurigakan di Apartemen...?"


" Iya, saya tidak menemukan ponsel Sera disana. Mungkin pelaku membawanya kabur..."


" Saya akan mencari Robert secepatnya...!"


" Dam, bagaimana jika pelakunya bukan Robert...?" cegah Erina.


" Jika dia mencintai Sera, pasti dia datang di pemakamannya...!" geram Adam.


Arvan dan Raka yang habis bermain di kamar segera keluar mendengar suara perdebatan diluar.


" Kenapa kalian ribut sekali? Masalah tidak akan selesai dengan emosi..." kata Arvan.


" Oh iya, pa. Raka melupakan sesuatu tentang kebiasaan tante Sera. Pasti semua bukti ada disana..." ucap Raka.


" Bukti apa, Raka...?"


.


.


TBC


.


.